
"Nita ceritakan semuanya, jangan sembunyikan kebenaran sekecil apapun itu. Kita selesaikan masalah ini." Maya menatap Nita. Seketika tubuh Nita bergetar, dia menangis.
"Ba... baik nyonya. Akan saya ceritakan semua kebenaran dan kejadian pada malam itu."
"Malam itu saya baru selesai membersihkan ruangan terakhir di hotel. Di saat saya melewati lorong, asisten Tuan Rayn meminta bamtuan kepada saya untuk membawa Tuan Rayn ke kamarnya. Tuan Rayn mabuk berat malam itu, bahkan saat sampai di kamar dia memuntahkan semua isi perutnya."
"Kenapa kau sampai mabuk berat, Rayn?" Maya memotong cerita Nita.
"Malam itu setelah meeting selesai klien kita namanya Tuan Danang, mengajakku minum di bar hotel. Aku sudah lama tidak minum, Ma. Mungkin karena itu aku jadi tidak ingat waktu dan terus minum." Jawab Rayn.
"Dasar kau ini !"
"Lanjutkan, Nita." Sambung Bram.
"Malam itu kemeja dan celana Tuan Rayn terkena muntahan, dan Tuan Yoga meminta tolong untuk membersikannya. Sedangkan Tuan Yoga memanggil dokter untuk memeriksa Tuan Rayn. Setelah memeriksa, dokter memberikan resep obat dan Tuan Yoga pergi untuk membelinya. Tinggalah saya dan Tuan Rayn di kamar. Mungkin karena sudah larut malam, Tuan Yoga kesulitan menemukan apotik yang masih buka pada saat itu. Saya tertidur, dan saya terbangun karena Tuan Rayn... Tuan Rayn..." Nita menghentikan ceritanya. Dia menunduk tubuhnya bergetar, dia menangis terisak.
"Apakah setelah itu Rayn memaksamu untuk melayaninya?" Tanya Bram yang sudah tahu persis kelanjutan cerita Nita.
"......."
Tubuh Nita semakin bergetar, tangisnya semakin menjadi. Dia menggenggam erat sprei ranjang besar itu. Dadanya terasa sangat sesak saat mengingat kembali malam itu.
"Apakah kamu sudah memberitahu keluargamu? Apakah kamu sudah menceritakan masalahmu kepada ibumu, Nita?" Maya mendekat ke arah Nita. Dia duduk di samping Nita.
"Ibu dan ayah saya sudah meninggal. Aku hanya punya paman dan bibi yang menggantikan ayah dan ibu. Saya tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka pasti akan sangat kecewa."
"Jangan khawatir, Rayn akan bertanggung jawab dan menikahimu." Sahut Bram sambil melirik ke arah Rayn. Tidak ada pilihan lain yang bisa Bram katakan. Seorang laki-laki sejati akan menanggung semua perbuatan yang dia lakukan. Begitu juga dengan Rayn.
"Sial... aku harus menikahi bocah ingusan itu. Kalau bukan karena calon anakku, aku tidak akan mau." Batin Rayn.
"Beritahu paman dan bibimu, undang mereka untuk datang ke pernikahan kalian." Ucap Bram dengan sedikit tersenyum.
"Kenapa di dalam hidupku aku selalu berurusan dengan Tuan Muda yang kejam seperti dia. Setelah menikah aku akan berurusan dengannya setiap hari... huh..." Batin Nita.
"Baik, Tuan."
"Berapa usiamu, Nita?" Tanya Maya.
"Saya 18 tahun, Nyonya."
"Kau dengar Rayn? Usianya masih 18 tahun, dan kau menghancurkan kehormatannya. Cih... benar-benar keterlaluan kau Rayn."
"Kalau kau tidak menjalankan tanggung jawabmu dengan benar padanya, Papa akan memberikan posisimu sekarang pada orang kepercayaan papa." Sambung Bram yang terdengar ancaman untuk Rayn.
Rayn terdiam, semburat rasa penyesalan terlihat di wajah dingin dan angkuhnya. Dia menundukkan kepalanya, berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Tapi dia hanya ingat samar-samar kejadian itu, tentu karena pengaruh alkohol yang dia minum. Karena alkohol itu juga hasratnya menjadi tak terkendali. Semua sudah terjadi, sekarang Rayn harus bertanggung jawab atas perbuatannya, ditambah dia mendapat ancaman dari papanya.
"Kita sudah dengar kebenarannya dan kita sudah menyelesaikan masalah ini. Jadi, sudah cukup sayang. Kamu jangan memarahinya terus-terusan, kita beri waktu untuk dia membuktikan jika dia benar-benar bertanggung jawab atas Nita dan calon anak mereka." Sahut Maya saat dia berada di samping Bram dan memeluk lengan kirinya.
"Sudah waktunya untuk sarapan, Ayo kita keluar. Pasti Bi Ina sudah memasak untuk kita. Ayo, Nita." Maya menatap Nita. Nita menjawab dengan anggukan.
Mereka keluar dari kamar itu menuju meja makan. Piring-piring berjajar rapi, berisi nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya lengkap dengan irisan timun dan tomat.
Mereka duduk di kursi masing-masing. Bram duduk di ujung meja makan dengan Maya di sebelah kanannya. Sedangkan Rayn di sebelah kirinya ditemani Nita. Mereka menyantap sarapan tanpa ada obrolan lagi. Yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
__ADS_1
Bram dan Maya meninggalkan apartemen setelah sarapan selesai. Sedangkan Rayn dan Nita masih terdiam di meja makan dengan pikiran masing-masing. Rayn memainkan handphonenya, sesekali ia melirik ke arah Nita yang masih belum menyelesaikan sarapannya. Mungkin karena kehamilannya, ia tidak selera menatap nasi goreng itu. Sejak tadi ia hanya ingin makan sate ayam. Beruntung Nita sudah mendapat obat yang diberikan dokter untuk mengatasi mualnya tempo hari. Dia meminumnya setelah dirasa sarapnnya sudah cukup.
"Anda tidak bekerja, Tuan?" Tanya Nita saat ia melihat Rayn masih duduk disampingnya.
"Hari ini kan weekend tentu saja aku akan di apartemen seharian, kecuali ada urusan mendadak." Jawab Rayn tanpa melepas pandangannya dari handphone miliknya.
"Baik, Tuan."
"Bisakah kau memanggilku dengan namaku saja? Sebentar lagi kita akan menikah." Protes Rayn yang sejak kemarin dipanggil dengan sebutan 'Tuan'.
"Ti...tidak bisa, Tuan. Saya sudah terbiasa." Sahut Nita .
"Terserah kau saja. Apakah kau ingin makan sesuatu? Aku dengar wanita hamil itu akan ngidam." Ucap Rayn setelah meletakkan handphonenya di atas meja
"Se... sebenarnya saya sedang ingin makan ssesuatu, Tuan." Nita menunduk takut.
"Katakan."
"Saya pengen sate ayam, Tuan. Tapi..." Jawab Nita terpotong.
"Tapi kenapa." Jawab Rayn dengan semakin memdekatkan wajahnya karena penasaran.
"Sepertinya dia ingin tuan yang membuat sate itu." Jawab Nita sambil mengelus perutnya.
"Aku harus membuatnya? Kau mengerjaiku ya? Berani sekali kau." Sahut Rayn dengan sedikit membentak Nita. Nita tertunduk lesu. Dadanya sesak, air matanya sudah mengalir deras membasahi pipi mulusnya.
"Maafkan aku. Aku akan membuatnya untuk dia, jangan menangis. Kalau mama papa melihatmu menangis bisa-bisa aku kehilangan jabatanku sekarang." Ucap Rayn panik melihat Nita menangis.
"Cih...yang dia pikirkan hanya jabatannya saja. Aku pikir dia benar-benar merasa bersalah karena membuatku menangis." Batin Nita.
......................
Di sebuah apartemen yang tak kalah mewah,
Yoga bersandar di kepala ranjang, dia menunggu seseorang. Tak lama kemudian Sofi, istri Yoga keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Yoga tak mengedipkan matanya, bibirnya tersenyum seringai mengingat olahraganya tadi di pagi buta.
"Kamu menggodaku lagi." Ucap Yoga saat bangkit dari ranjang dan mendekati istrinya. Yoga merangkul pinggang Sofi dan mendekatkan wajahnya. Sofi memejamkan matanya pertanda dia juga ingin dihadiahi morning kiss dari suaminya.
"It's beautiful night we're looking for something...."
Dering ponsel Yoga menghentikan momen romantis pasangan baru itu.
"Shit... kenapa Tuan Rayn selalu mengganggu di saat seperti ini?" Umpat Yoga.
"Mungkin ada hal penting, Sayang." Sofi menenangkan Yoga.
Yoga menggeser tombol hijau ke atas.
"Hallo, Tuan."
"Cari bahan-bahan untuk membuat sate ayam. Dan antarkan ke apartemen ku 1 jam lagi."
"Tapi, Tuan."
Tuut,
__ADS_1
Sambungan panggilan mereka sudah dimatikan sepihak oleh Rayn.
"Apa-apaan ini, dia menelponku untuk membelikan bahan untuk membuat sate ayam." Yoga mendengus kesal, dia tidak habis pikir tuannya akan berubah sejauh ini. Yoga tahu pasti Nita ingin makan sate ayam buatan bosnya itu. Yoga terkekeh membayangkan bosnya yang angkuh itu memakai celemek dan memasak di dapur. Sungguh pemandangan yang akan menggelikan.
"Aku pergi dulu, Sayang. Bosku hanya memberikan waktu 1 jam untuk membelinya." Ucap Yoga setelah mengecup singkat bibir Sofi.
"Hati-hati sayang." Jawab Sofi.
Untung saja apartemennya tidak terlalu jauh dari apartemen Rayn. Yoga melakukan mobil miliknya dengan kecepatan penuh menuju supermarket dekat apartemennya. Dia membuka mobilnya berlari ke dalam begitu sampai di supermarket itu. Tapi langkahnya terhenti,
"Sial, apa saja yang harus aku beli? Aku sama sekali tidak tahu." Ucap Rayn saat sudah sampai di depan rak-rak supermarket yang berjajar rapi.
Tiinnggg,
Sebuah pesan masuk, Yoga membukanya. Sejenak dia tersenyum memandangi handphonenya. Sofi mengirimkan catatan apa saja yang harus dia beli.
"Kau memang istri yang sempurna, Sayang." Puji Yoga setelah berlalu membawa troli untuk berbelanja.
Yoga berhasil mendapatkan semua bahan untuk membuat sate ayam itu dalam waktu 15 menit saja. Tentunya dengan dibantu oleh pelayan supermarket ya hehehe. Ujian pertama dia lalui dengan mulus, ujian selanjutnya sudah menanti di depan matanya. Dua orang sudah berdiri mengantri di depan meja kasir, dan Yoga menjadi yang ketiga. Walaupun hanya menunggu 2 orang, tapi Yoga sangat kesal karena dia harus cepat.
Dan akhirnya giliran Yoga tiba. Setelah membayarnya, dia bergegas menuju mobilnya. Dia kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Rayn. Mobilnya melesat membelah jalan. Yoga bisa bernapas lega saat mobilnya memasuki area basement. Dia bergegas memasuki lift menuju unit apartemen milik Rayn.
........................
"Tuan Muda, Tuan Yoga menunggu anda di ruang tamu." Ucap Bi Ina.
"Aku kan ke sana." Rayn melangkah meninggalkan Nita yang masih duduk di meja makan.
"Tuan, ini bahan-bahan yang anda minta." Ucap Yoga setelah bangkit dari duduknya.
"Hebat, kau tahu semua bahan ini." Puji Rayn kepada Yoga saat melihat kantong belanja ditangannya.
"Maaf tuan. Sebenarnya saya tidak tahu semua bahan itu. Sofi membantuku dengan mengirimkan nama bahan-bahan ini, kemudian aku menyuruh pelayan untuk membantuku." Jawab Yoga jujur.
"Ternyata kita sama." Rayn terkekeh.
"Kita memang sama bodoh, Tuan." Batin Yoga yang ikut terkekeh mendengar ucapan Rayn.
"Kau boleh pergi." Ucap Rayn datar. Dia sudah bejalan meninggalkan Yoga.
"Baik, Tuan." Jawab Yoga. Sudah menjadi resikonya jika kejadiannya seperti ini. Dia harus mematuhi perintah bosnya.
...........................
Hai readers.....
Terimakasih sudah membaca novelku ini.
Terus like dan dukung novelku ya... nantikan episode-episode selanjutnya....
Dibawah ini akun Instagram author ya readers, boleh kok di follow😂
Thank you😍
__ADS_1