Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 47


__ADS_3

Hai readers!


Sebelum lanjut membaca bab ini harus like dan vote dulu ya! Boleh juga menulis komentar sesuka kalian! Tambahkan novel ini dalam novel favorite kalian!


Happy Reading!


.........................


Maya langsung memeluk Rayn dengan erat. Rayn juga membalas pelukan mamanya. Maya tersenyum melihat Rayn yang sudah mandi dan sekarang sedang makan.


"Operasi Nyonya Nita sudah selesai, bos" Sahut Alex yang tiba-tiba masuk.


"Bagaimana keadaan Nita sekarang?" Tanya Rayn.


Alex mengatur napasnya yang ngos-ngosan tadi ia berlari agar bisa segera menyampaikan kabar Nita kepada bosnya.


"Operasinya berjalan lancar, bos. Hanya saja Nyonya Nita masih lemah jadi belum sadar." Ucap Alex.


"Ayo sekarang kita temui Nita, ma!" Ucap Rayn.


Maya hanya mengangguk. Ia sangat bahagia mendengar menantunya selamat. Tapi di sisi lain, ia sangat sedih karena Rayn Jonior tidak selamat. Rayn bersama Maya dan Alex bergegas menuju ruang rawat VVIP yang menjadi ruang perawatan Nita. Dalam hatinya, Rayn tidak hentinya mengucap syukur.


Yang membuat Rayn masih khawatir adalah bagaimana reaksi Nita nanti setelah sadar dan mengetahui jika anak mereka sudah meninggal. Di dalam ruang rawat Nita sudah ada Bram dan Ana yang duduk di sofa.


"Kau harus kuat demi Nita!" Bram menepuk bahu putra sematawayangnya itu.


"Benar itu, Rayn! Mama tahu kamu sangat kehilangan, bahkan Kita semua juga merasakan hal yang sama. Tapi Nita adalah orang yang paling terpukul atas kepergian anak kalian. Kau harus bisa membuatnya bangkit kembali!" Ucap Maya yang mengelus pipi Rayn.


Rayn mengangguk, ia berjalan mendekati Nita yang masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjang. Ia mengusap air matanya. Lalu is duduk di sebelah Nita.


*Cup,


Cup*,


Rayn menghujani tangan Nita dengan kecupan penuh cintanya. Ia belai rambut Nita. Rayn terkejut saat merasakan Nita membalas genggaman tangannya.


"Sayang?" Seru Rayn.


Semua mata langsung menatap Rayn dan Nita. Rayn melihat kedua mata indah Nita terbuka perlahan.


"Haus," Rengek Nita.


Rayn langsung memberikan segelas air putih dan membantu Nita untuk meminumnya menggunakan sebuat sedotan.


"Sudah?" Tanya Rayn.

__ADS_1


Nita mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan dibantu Rayn.


"Mana yang sakit, sayang?" Seru Rayn.


Nita menggeleng pelan, lalu Nita reflek mengelus perutnya. Tapi Nita merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Perutnya tidak buncit seperti biasanya. Rayn menatap sendu Nita, ia merasa sedih melihat Nita yang masih saja mengelus perutnya.


"Rayn!" Pekik Nita.


"Ada apa sayang?" Rayn gugup.


"Dimana anak kita?" Tanya Nita yang membuat semua orang menundukkan kepalanya.


Rayn terdiam, ia tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan istrinya. Nita menatap papa dan mama, tapi mereka juga enggan menjawab.


"Sayang! Dengarkan aku!" Sahut Rayn.


Nita langsung menatap lekat wajah suaminya.


"Anak kita sudah tenang di sana! Kamu harus ikhlas," Rayn memegang erat tangan Nita.


Nita menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan perkataan suaminya.


"Rayn! Kamu jangan bercanda!" Teriak Nita.


Rayn tidak menjawab ucapan Nita, ia hanya memeluk erat istrinya. Rayn mengecup pucuk kepala istri kecilnya itu berkali-kali. Di usianya yang masih muda Nita sudah mengalami kejadian seperti ini. Nita menangis sesenggukan di pelukan Rayn.


"Ikhlaskan sayang!" Jawab Rayn.


"Sekarang kamu makan dulu!" Rayn melepaskan pelukannya.


"Aku mau tidur," Jawab Nita.


Rayn menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia mengerti perasaan Nita saat ini. Ia membantu Nita untuk berbaring dan memasangkan selimut di tubuhnya. Tidak lupa Rayn hadiahkan kecupan singkat di bibir Nita. Tidak berapa lama kemudian, Maya menghampiri Nita, dan memberikan sebuah kecupan di kening Nita. Ia mengelus lembut pucuk kepala Nita yang masih belum tidur.


"Semua ini sudah takdirnya, sayang! Mama yakin kamu dan Rayn mampu menghadapi semua ini." Sahut Maya.


"Terima kasih, ma!" Nita menghapus air matanya, dan menunjukkan senyum simpul yang terpaksa.


Nita memejamkan matanya. Tapi ia tidak tidur. Ia masih memikirkan kepergian anaknya.


Drrrttt...drrrttt


"Katakan!" Sahut Rayn.


"Semuanya sudah siap, tuan!"

__ADS_1


"Sebentar lagi kami akan pulang!" Jawab Rayn.


Rayn langsung menutup sambungan teleponnya dengan Yoga secara sepihak.


"Ana kau tetap di sini, telpon aku secepatnya jika terjadi sesuatu!" Seru Rayn.


Ana mengangguk, ia lalu duduk di sebelah bed Nita. Sementara Rayn dan yang lainnya pulang ke mansion untuk pemakaman anak Rayn. Rayn mengecup kening Nita yang sudah terlelap.


"Aku pulang dulu, sayang. Aku akan kembali sebelum kamu bangun!" Ucap Rayn lirih.


Ana yang duduk di dekat bed Nita sesekali mengusap air matanya. Ia sangat sedih.


Di dalam mobil milik Bram, tidak ada obrolan diantara mereka. Bahkan Alex yang biasanya cerewet, hari ini ia diam. Mobil yang mereka tumpangi mengikuti ambulance yang membawa jenazah Rayn Junior. Wajah Rayn terlihat selalu menunduk, terlebih setelah Paman Kevin memberitahu bahwa jenis kelamin anaknya adalah perempuan. Rayn selalu mengingankan seorang anak perempuan karena ingin melihat miniatur Nita di antara mereka.


Bendera kuning terpasang di gerbang mansion. Beberapa sahabat dan rekan bisnis Bram maupun Rayn tampak hadir di acara ini. Rayn meneteskan air matanya saat peti putrinya di bawa masuk ke dalam mansion. Kini mereka tinggal menyolatkan saja. Jenazah sudah dimandikan dan dikafani di rumah sakit.


Air mata Rayn terus mengalir membasahi pipinya. Langkahnya terasa berat saat mengantar putrinya menuju tempat peristirahatan terakhir.


"Kuatkan dirimu, Rayn!" Ucap Bram yang merangkul bahu Rayn.


"Iya, pa!" Ucap Rayn di sela tangisnya.


Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar. Bram masih setia merangkul Maya dan Rayn. Kini Rayn berjongkok untuk menaburkan bunga mawar di pusara putrinya. Nira, sebuah nama indah yang diberikan Rayn untuk putrinya. Nama itu singkatan dari nama mama dan papanya yaitu Nita dan Rayn.


"Papa dan mama mencintaimu, nak. Sangat mencintaimu!" Ucap Rayn di dekat pusara putrinya.


"Ayo Rayn, kau harus kembali menemani istrimu!" Sahut Maya yang berdiri di belakang Rayn.


Dengan berat hati, Rayn berjalan meninggalkan pusara putrinya. Sebenarnya ia ingin lebih lama bersama putrinya. Tapi ia teringat dengan ucapannya kepada Nita tadi. Ia berkata akan kembali sebelum istrinya itu bangun. Rayn bergegas masuk ke dalam mobil.


Rayn meminta Bram dan Maya untuk istirahat di mansion. Rayn, Yoga, dan Alex yang akan menjaga Nita. Di sana juga sudah ada Ana yang menemani Nita.


Pukul 7 malam Rayn sampai di rumah sakit. Ia membawa nasi goreng dan salad buah kesukaan Nita yang tadi ia beli di restoran. Rayn berharap kali ini Nita mau mengisi perutnya.


Ceklek,


Terlihat Ana sedang merayu Nita untuk memakan bubur yang disuapi Ana. Tapi Nita enggan membuka mulutnya. Rayn berjalan mendekat.


"Sayang, lihat apa yang aku bawa!" Seru Rayn.


Nita langsung menoleh, ia menampakkan senyum yang terlihat dipaksa. Nita merentangkan tangannya. Rayn yang paham jika istri kecilnya meminta sebuah pelukan, langsung memeluk erat istrinya.


"Ayo kita makan bersama sayang!" Ajak Rayn.


...............................

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya❤️


__ADS_2