
pertanyaan ke 11....
Budi and Lina promised to meet at the restaurant last night but Budi didn’t appear. So the following day Lina phoned him.
Budi: ...
Lina: No excuse. You broke the promise.
Budi: Listen! Last night a friend of mine got an accident, so I took her to the hospital.
give the correct answer to fill in Budi's dialogue to Lina.
jawaban Fariz Anfal : Should I apologize for not meeting you at the restaurant ?
komentar guru : kenapa kau malah bertanya, kau yang salah karena mengingkari janji.
balas Fariz Anfal : Budi yang salah pak, bukan aku, kenapa bapak marah denganku, harusnya marah kepada Budi.
jawaban Sano Setio aji Pangestu : who am I ?.
komentar guru : apa kau hilang ingatan.
balas Sano Setio aji Pangestu : bukan saya pak, tapi Budi.
komentar guru : ok, masalah disini karena Budi.
*******
Saat ini Naru yang duduk di kantin sekolah denganku, sedikit termenung seperti memikirkan masalah ekonomi negara. sejenak aku melihatnya terdiam, menarik nafas dan menghembuskan dengan berat, berulang kali, lagi dan lagi.
tentunya aku tidak menyukai pemandangan di mana temanku sedang berada dalam kesulitan, karena melihat betapa bermasalahnya kehidupan Naru yang penuh dengan berbagai macam masalah.
Itu jelas membuatku sedikit iba kepadanya.
Dengan sedikit basa basi, aku menawarkan sebuah minuman kaleng kepada Naru dan duduk untuk sekedar menyapa atau mungkin bisa membantunya keluar dari segala masalah yang sedang dia hadapi.
"Minumlah Naru, "nBerkata aku meletakan minuman kaleng di depannya.
Naru melihatku dengan pandangan mata aneh, seperti ada yang salah dari wajahku.
"Apa akan ada badai di sini ." Berteriak Naru.
Itu seperti menghina, karena mungkin aku tidak pernah membagi apa pun kepada teman lain.
"Memangnya seaneh itu, kalau gua membelikan loe minuman, " Jawab aku dengan sedikit kesal dan ingin sekali memukulnya, tapi aku masih menahan kesabaran karena tidak ingin menambah masalah Naru.
__ADS_1
"Apa ini ada racunnya."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, jika kau tidak mau biar aku minum sendiri."
"maaf, maaf. Ya tidak seperti biasanya loh," Balasnya dengan tersenyum rumit.
"Memang seperti apa biasanya aku ini, " Bertanya kembali aku melihatnya membuka minuman yang aku berikan.
"paling tidak, biasanya ada roti dan cemilan lain di sini ." Kata naru yang memang menyindir.
"Maaf kalau begitu, tapi bukankah, kau mendapatkan bekal dari kakakmu tersayang ." Saat aku mengoda Naru, aku melihatnya semakin murung, bahkan seperti ada awan hitam muncul di atas kepala.
"Ya loe benar, jika loe mau gua akan membaginya, "
Kata Naru dengan meletakan sebuah kotak makan di atas meja dan membukanya.
bagi siapa pun yang tahu, melihat bekal buatan kakak Naru didepan wajah tentu betapa mengerikan bentuk bekal yang Naru perlihatkan.
Menurut cerita yang di katakan oleh Naru, mbaknya itu sangat perduli dengan kesehatan, bahkan setiap hari mengatur makanan Naru dengan sayuran bernutrisi, takaran karbohidrat, protein, lemak vitamin, mineral, zat besi, kalsium, dan segala macam yang tidak terbayangkan seperti pelajaran kimia.
memang benar, ketika melihat seperti apa bekal yang di siapkan oleh mbaknya, sangat membuat merinding, betapa meriah warna yang sangat gemerlap di dalam kotak bekal Naru.
"Ah tidak terima kasih, melihatnya saja gua sudah kenyang ." Jawab aku memalingkan wajah dari bekal Naru.
merasakan aroma asap menerpa wajaha itu sudah membuat mataku perih,
"Maafkan gua ." Kataku dengan setulus hati.
Bagaimana pun aku ikut memaksanya memakan makanan bekal buatan mbaknya, dan pada akhirnya Naru mengalami diare selama seharian penuh .
"Kenapa loe meminta maaf ." Bertanya kembali dengan wajah seperti mengingat kejadian tempo hari.
"Tidak, gua hanya ingin meminta maaf ." Tentu aku bersalah di sini.
'Harusnya ada Suro untuk memberinya semangat, ' Begitu pikirku dan tiba-tiba seseorang datang dengan beteriak.
"Apa ada yang memanggilku ." Seseorang yang sebelumnya di harapkan hadir hanya karena aku memikirkan tentang sosok Suro.
dia berjalan mendekat dan menemani perbincangan kami berdua, "Ada apa ini, jangan terlihat menyedihkan seperti itu, semangat ayo semangat "
Suro memulai kembali dengan perkataannya yang begitu membisingkan telinga.
'Loe itu paranormal atau apa, baru saja gua mikirin loe dan loe langsung muncul. '
"Sudah cukup, gua sudah semangat ." Jawab aku yang tentunya terlihat lemas dimana merasa aneh melihat Suro datang, entah kenapa dia akan selalu muncul disaat ada yang membutuhkan semangat,
__ADS_1
"Apa yang semangat, wajah kalian terlihat seperti mayat hidup, aku pikir kalian berdua kekurangan motivasi ." Teriaknya membuat seisi kantin melihat kearah kami.
mereka semua mengarahkan pandangan dengan tatapan mata seperti menganggap kami bertiga seperti pengganggu saja di waktu istirahat.
"Ya tapi seperti inilah wajah semangat kami berdua ." Jawab aku kembali berharap Suro berhenti menyemangati kami berdua,
"Jangan seperti itu, aku tahu kalian ada masalah, ayo semangat ." Perkataannya entah kenapa membuatku semakin kesal.
Tapi melihat Naru, dia seperti mual mendengar kata semangat dari Suro..."Jika begitu, apa loe tahu rasanya memiliki saudara ."
Bertanya Naru kepada Suro, salah atau pun tidak Naru bertanya kepada Suro, walau pun begitu Suro dengan semangat yang berkobar tersenyum melihat kami...."Tentu aku memiliki empat adik, dan setiap hari aku selalu memberikan semangat untuk mereka ."
Jawaban dari Suro terlihat begitu bahagia, walau terlihat seperti itu aku membayangkan tentang apa yang di lakukan Suro sebagai seorang kakak.
"Sungguh malang kehidupan adik loe itu, Suro ." Gumam aku setelah membayangkannya, mungkin setiap hari ke empat adiknya itu harus mendengar suara semangat dari orang seperti Suro, sedangkan.satu jam saja aku mendengarnya, aku seperti ingin melemparkan Suro ke toilet dan langsung menyiram agar cepat hilang.
"Ya gua setuju dengan loe Riz, " Sepikiran naru denganku, karena sudah terlihat betapa mengerikannya wajah naru karena ikut terbayang-bayang.
"Tapi, gua iri dengan kalian berdua yang memiliki saudara ." Kata aku yang memang anak semata wayang.
"Bicara apa kau, aku pun sama irinya dengan kau Riz karena Naru memiliki kakak perempuan ." Kata suro dengan sedikit kecewa walau pun Suro kecewa semangatnya masih saja berkobar.
"Loe berdua tidak mengerti tentang rasanya menjadi seorang adik ." jawab naru dengan lemas dan bahkan dia hampir saja menangis.
Tentu seseorang yang tidak di harapkan kedatangannya oleh Naru muncul, walau tidak untukku karena sosoknya seperti seorang malaikat yang bercahaya melangkah ke tempat kami bertiga, sedikit kehebohan dengan setiap siswa seisi kantin melihat ke arah kami, saat Reina, kakak dari Naru, primadona sekolah datang.
"Apa yang sedang kalian lakukan ." Bertanya kakak perempuan Naru dengan sopan dan begitu menawan,
"Ah tidak mbak, hanya sedang berbicara mengenai pelajaran nantinya, benar begitu kan Riz, Suro ." Jawab naru mencari alasan seadanya.
"Oh begitu ." Duduk kak Reina yang dengan tenang mengeluarkan kotak bekal makan siang.
"Wah, makan siang dengan apa mbak ." Bertanya aku dengan penasaran.
"Dengan pare ." Jawab kakak dari Naru ini.
Aku memang sedikit senang dengan seseorang yang tidak pilih pilih makanan, karena tidak banyak wanita yang suka dengan makanan pahit itu.
"Di oseng kak ." bertanya kembali aku melihat kak Reina membuka kotak makanannya.
"Di makan mentah ." singkat saja jawaban Reina.
Ya kak reina menunjukan sebuah pare yang ada di dalam kotak makanannya dan mengunyahnya tanpa memperdulikan perasaanku dan Suro yang melihat.
itu menakjubkan, spektakuler, luar biasa, dan aku merasa tidak nyaman untuk hal ini.
__ADS_1
"Kalian masih iri ." kata Naru melirik kearah kami berdua dengan tersenyum puas.
Dan untuk pertama kalinya suro tidak bersemangat dan bersamaan denganku memalingkan wajah sebagai jawaban dari rasa iri kami kepada Naru.