STUPID CLASS

STUPID CLASS
Reina


__ADS_3

Semua berawal ketika aku kelas 1......


Reina Fanesintia, wanita dari kelas 2, dia kakak kelas jurusan ku, sosok yang bisa di sebut sebagai tokoh utama wanita di dalam segala macam cerita. Dia cantik, ramah, mudah bersahabat, anggun, kaya, sopan, dan baik kepada siapa pun.


Hanya saja, karena kebaikan Reina itu, terkadang membuat semua lelaki salah paham. Hanya dengan sebuah senyuman saat saling menyapa, lima hari mereka terbayang-bayang wajah Reina ketika makan, tidur tidak nyenyak saat ingat senyum indah dari bibir mungil merah muda itu. Atau pun baru lima kata yang mereka ucapan bisa salah sangka, dianggapnya menaruh perhatian kepada mereka.


Karena untuk seorang murid SMK, kehadiran satu wanita yang cantik seperti Reina, ibarat oasis di tengah padang gurun luas. Panas dan penuh fatamorgana. Tapi harusnya mereka sadar jika harapan meraka untuk mendapat perhatian Reina tidak lebih dari sikap baik sesama manusia. Sungguh mereka ibarat orang bodoh, termasuk juga aku.


Reina seorang siswi yang menyukai pembicaraan tentang fasion atau pun artis film yang menjadi pemeran utama dalam sinetron yang tayang di malam hari, dia terlihat cantik dengan potongan rambut pendek hitam tebal, tanpa menggunakan make up sekali pun.


Kecantikan alaminya sudah membuatku sering melamun, caranya berjalan, aroma parfum toko gratisan asal semprot dan potongan kuku di setiap jarinya, selalu aku perhatikan. Tidak ada hal yang membuatnya menjadi norak atau berlebihan. Namun kepribadiannya yang sangat bisa membawa diri untuk berteman, menjadikan dia salah satu pilihan untuk para siswa menngajaknya berpacaran,


Hanya saja tidak pernah sekali pun aku melihat senior Reina menerima ajakan untuk menjadi pacar seseorang, sekitar 5 pria sudah di tolaknya di tahun pelajaran kelas dua, saat aku kelas satu.


Untukku sendiri, aku tidak pernah sekali pun terpikir untuk bisa mengajaknya berpacaran terlebih lagi baru satu bulan aku kelas satu dan mengenal senior Reina hanya dengan beberapa kalimat yang bisa aku katakan kepadanya ketika kegiatan MOS atau Masa orientasi siswa.

__ADS_1


"Salam kenal kakak, namaku Fariz Anfal dari kelas 1 jurusan teknik listrik." Itu menjadi perkenalan saat pertama kali masuk ke sekolah untuk perkenalan di tahun ajaran baru.


Aku ingat betapa gugupnya saat itu, hanya dengan lirikan mata senior Reina sudah membuatku terbayang untuk mengajaknya pergi ke pelaminan.


Tentu bukan hal aneh bagi kami para lelaki yang hanya menemukan para lelaki MADESU, udik dan berkepala layaknya pentol korek di dalam kelas, melihat sesuatu yang indah dari wanita cantik seperti senior Reina.


Usut punya usut, ternyata yang semua murid lelaki di sekolah mengakui hal itu. Termasuk kawanku Woro Asmoro, Sano Setio aji Pangestu, dan Cayo Alata, tiga serangkai lelaki bermasa depan suram benar-benar menaruh perhatian kepada primadona sekolah ini.


Woro yang tanpa sengaja bertemu Reina di dalam kantin, sampai lupa dengan makan siangnya untuk sekedar memperhatikan Reina, bahkan ayam goreng di dalam piring pun lenyap di ambil kucing, tanpa Woro sadari.


Apa lagi Sano Setio aji Pangestu yang lebih memilih diam dan mengirimkan surat yang berisi pantun, meski tidak pernah dia cantumkan nama di suratnya.


Aku tidak segila mereka bertiga, karena untuk banyak alasan, aku tahu diri, sadar diri dan rendah diri, membayangkan bisa bicara dengan senior Reina, sudah menjadi hal yang menakjubkan untuk di ceritakan sebagai pengalaman berharga ketika pelajaran bahasa Indonesia.


Tapi siapa sangka, entah ada angin apa, bahkan tidak sedikit pun aku bayangkan, ketika senior Reina sengaja datang ke dalam kelasku untuk bicara secara langsung.

__ADS_1


"Kau yang bernama Fariz kan ?." Bertanya Senior Reina.


Aku mengangguk tanpa bisa menjawabnya karena gugup. Masih dalam keadaan bingung, terombang-ambing antara kenyataan dan ilusi, tapi melihat ekspresi tiga serangkai melihatku penuh rasa kesal, bisa diidentifikasi bahwa kehadiran senior Reina bukanlah ilusi.


"Setelah sekolah selesai, bisa kita bicara." Ucap Senior Reina.


Aku masih secara otomatis tanpa ada paksaan apa pun, dan tanpa bisa menjawab apa pun.


"Baguslah, jangan pulang dulu, karena ini hal penting." Balas senior Reina yang langsung saja pergi.


Mengangguk-angguk tanpa bisa aku mengerti tentang tujuan senior Reina, bahkan sampai dia pergi, aku masih belum bisa mengehentikan kepalaku yang terus bergerak naik turun.


'Eh, apa ini ?, Apa yang sebenarnya terjadi ?, Senior Reina, ingin bicara denganku ?, Ini bukan mimpi kan ?.' banyak hal yang terpikirkan olehku.


Sedangkan Cayo, Woro, dan Sano, dengan wajah rumit seperti sedang menahan sembelit mengarahkan pandangan tajam kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2