
Ini menjadi hari yang cukup mengejutkan untukku, bagaimana pun juga aku tidak pernah sebegitu serius dalam menjalani kehidupan sebagai siswa sekolah, tentu semua memiliki alasan, termasuk untukku sendiri.
Melihat apa yang pernah aku lakukan saat ini, hanyalah hasil dari apa yang terjadi dari masa lalu, itu setidaknya rumus sederhana dari kehidupan, rumus yang bisa kita sebut dengan 'karma'.
Menjadi orang bodoh, bukan sesuatu yang buruk, karena banyak orang pintar selalu dimanfaatkan oleh masyarakat.
Aku memperhatikan setiap manusia dengan jutaan wajah yang berbeda dan ekpresi para aktor sinetron kehidupan. Paling tidak membuatku sedikit tertawa, dengan akting para aktornya.
Banyak orang memilih hidup dalam sebuah kelompok, mereka saling bercanda dan berbicara adalah para aktor dari kehidupan. Memiliki jutaan seniman dan menamakan diri mereka sebagai seorang 'siswa' dari kalangan masyarakat mayoritas.
Jika di perdalam lagi, menggambarkan sosok diriku ini, maka aku hanyalah salah satu orang biasa yang sedang terkagum melihat para aktor berakting dari belakang kamera, mungkin dan aku bahagia dengan menjadi orang bodoh seperti ini.
Sedangkan apa yang menggambarkan tentang siapa aku ini, maka bisa semua orang membayangkan tentang sesosok manusia yang terlalu cepat beradaptasi dengan dunia baru.
Terbayang jika Teori darwin menganggap bahwa manusia itu adalah berasal dari seekor kera. Saat mereka semua masih belajar berjalan menggunakan kedua kaki, maka aku sudah bisa melakukan dansa. yah bayangkanlah seperti itu. Tapi bukan berarti wajah ku seperti seekor kera.
Hanya menampilkan apa yang setiap orang lihat, dan menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya di balik topeng tebal menutupi sifat mereka.
Pada kenyataan yang sesungguhnya, dulu aku bukanlah seperti yang sekarang, karena tak ada yang menarik dari kehidupanku di tahap ini, aku tidak ingin bergerak, hanya menunggu sebuah alasan untuk aku bisa membuka hati dari kebosanan ini.
Bahkan jika harus pergi ke luar kelas, hanya ada tiga tujuan yang pasti, yaitu toilet, kantin dan ruang konsultan. Secara khusus setiap hari aku menghabiskan waktu di sana. Bahkan jika di lihat, lebih sering masuk ke ruang konsultan dari pada ke dalam kelas, dan mungkin akan terasa aneh jika aku tidak ke ruangan ini dalam seharian di sekolah,
"Sudah ibu duga itu kau Fariz. "
apa sebenarnya di dalam fikiran guru itu, apa dia paranormal, dapat merasakan hawa kehadiranku di saat aku akan kesini,
__ADS_1
"ah, setidaknya aku terlambat 1 jam dari biasanya untuk berjumpa dengan anda, bu Sopi."
guru yang umurnya menginjak 30 tahun bulan ini, walau pun begitu dia masih lajang, sungguh membuatku ingin menangis,
"tapi tidak lah buruk, kau memecahkan rekormu kemarin yang datang kemari saat jam 11 lebih 10 menit "
"bagiku itu bukanlah pujian bu, dan selamat atas kenaikan usianya yang sekarang 30 tahun "
sebuah pukulan tepat terhenti di depan hidungku, dia memandang tak suka jika seseorang mengungkit umurnya yang sekarang ini, aku merasakan aura membunuhnya, aku takut, tolong ampuni aku...
"aku ini masih 29 tahun 12 bulan lebih 3 hari, kau tahu "
masih dengan wajahnya yang marah, setidaknya perkataan itu membuatnya terlihat lebih muda satu tahun dari keterangan di kartu KTPnya, tapi bagiku itu tidak ada bedanya sama sekali.
"jadi apa anda tidak merasa bersalah di dalam hidup anda ibu Sopi."
"ah bukan apa apa tolong lupakan "
"baguslah kalau kau mengerti "
untuk ukuran wanita karir yang belum sempat menikah, mungkin sampai saat ini dia hanya bisa membayangkan dirinya menggunakan gaun pengantin di depan cermin, ironis sekali,
'tolong siapa pun nikahilah dia '. itu yang aku pikirkan saat melihat raut wajahnya,
"jadi, apa yang harus aku kerjakan " bertanya aku.
__ADS_1
wanita itu menganguk tak lazim, memperlihatkan senyuman yang benar benar tak ingin aku melihatnya, jika senyuman itu keluar berarti sebuah rencana buruk yang tak bisa aku bayangkan sama sekali,
"setelah sekian bulan kau hampir setiap hari masuk ke ruangan ini, kini ibu merasa bahwa kau itu memang tidak berguna sama sekali Fariz."
mendengar kalimat itu, apakah itu sebuah hinaan, aku rasa memang begitu, hinaan yang lembut dari bibir yang dia ucapkan,
"terima kasih atas pujian anda "
masih mengangguk tak lazim, sekian lama dia berbicara, suasananya menjadi mengerikan bagiku, aku sendiri seperti sudah terbiasa jika mendapatkan hukuman, karena tidak ada yang membuatku puas di dalam pelajaran formal di sekolah ini, bahkan seperti membersihkan toilet pria yang mungkin sudah berbulan bulan tidak tersentuh oleh pembersih apa pun, itu seperti hiburan untuk mengisi kebosanan yang terus menumpuk setiap harinya,
"Baiklah, kau bisa duduk terlebih dahulu." Ucap ibu Sofi.
"Apa itu artinya tidak ada hukuman hari ini Bu ?."
"Ya setiap hari kau dihukum, tapi tidak ada perubahan, jadi untuk kali ini, ibu akan melakukan hal yang seharusnya sebagai guru BK." Berkata ibu Sofi mencoba menenangkan diri.
"Apa selama ini ibu makan gaji buta." Balasku.
"Jangan sembarangan kalau bicara." Tegas ucapan ibu Sofi dengan kesal.
"Maaf Bu. Maaf."
"Sudahlah.... Jadi Fariz, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupmu, kenapa setiap hari kau selalu membuat masalah di dalam kelas." Bertanya ibu Sofi.
"Hmmm ini cerita yang cukup panjang."
__ADS_1
"Tidak apa, ibu memiliki cukup waktu untuk mendengarkan."
Aku mengambil kursi dan duduk santai sebelum bercerita..."Baiklah Bu.... Kita mulai dengan 'pada suatu hari' ."