STUPID CLASS

STUPID CLASS
aku yang sekarang


__ADS_3

Aku sendiri tahu, alasan kenapa senior Reina memilih ku dari sekian banyak manusia yang ada di dalam sekolah ini. Karena sewaktu SMP, aku termasuk murid cerdas dengan banyak prestasi.


Dari mulai akademik, seperti lomba cerdas cermat atau pun LKS, lomba menulis karangan bebas, matematika, berhitung cepat, biologi, fisika, hingga lomba non akademik, seperti lomba catur, tenis meja, bulu tangkis, gundu, lari, jarak dekat, jarak jauh atau pun lari dari tanggung jawab.


Bisa dibilang aku dulu murid serba bisa dengan segala keahlian yang cukup membanggakan, tapi setelah sekian lama, aku mendapat apresiasi atas semua pencapaian itu. Ada sedikit hati kehidupan ku begitu tidak menyenangkan.


Ya, semua temanku menjauh, ini adalah aku akibat karena aku terlalu cepat berlari hingga tanpa sadar bahwa mereka tertinggal dibelakang dan aku tidak bisa melihatnya.


Dan dengan semua kehidupan ku di masa lalu itulah senior Reina meminta untuk ikut dalam perlombaan tingkat sekolah menengah atas.


"Kenapa aku Senior." Balasku yang masih melihat lembar pengisian daftar diri peserta di atas meja.


"Karena aku tahu kau bisa melakukannya." Jawab senior Reina.


"Jangan beranggapan tinggi senior, aku hanya murid biasa, dengan nilai biasa dan memiliki kehidupan yang biasa saja pula." Balasku.


"Kau begitu merendah diri, aku tahu kau di SMP mendapat banyak penghargaan saat mengikuti semua lomba."


"Darimana senior tahu." Aku cukup terkejut.


"Karena kita satu sekolah." Itu hal wajar, tapi aku tidak menyadarinya.


Aku terkejut, benar-benar tidak menyadari apa pun soal Reina, memang benar dulu, aku hampir tidak memperhatikan siapa pun, bahkan jika itu gadis tercantik satu sekolah, tidak membuatku tertarik.


"Senior... Bisa aku katakan, itu adalah aku yang dulu, bukan aku yang sekarang, jadi jangan terlalu banyak berharap kepadaku." Aku beralasan agar senior Reina berhenti meminta.

__ADS_1


"Fariz apa kau pikir aku tidak tahu, kau hanya berpura-pura menjadi bodoh, karena siapa yang bisa membuat nilai 50 untuk semua tes mata pelajaran, kecuali kau tahu isi jawabannya."


"Kenapa senior bisa tahu nilai ku, bukankah itu hanya di miliki oleh guru."


"Memang kau pikir aku siapa ?."


"Jangan-jangan, sebenarnya Senior adalah sosok yang berkuasa di sekolah, dan mengendalikan semua guru dengan keinginan pribadi." Aku berspekulasi.


Ditunjukkan rumit wajah senior Reina melihatku...."Imajinasi mu terlalu luar biasa Fariz, aku hanya melihat nilai mu karena ibuku adalah guru disini dan mengkoreksi nilai tes ketika kau mendaftar masuk."


"Jadi begitu...."


"Apa aku merasa kau terlihat menyesal."


Begitu banyak alasan yang tidak ingin aku lakukan untuk permintaan Senior Reina, salah satunya menarik perhatian banyak orang, saat itu terjadi, aku hanya akan dimanfaatkan, sedangkan kepentingan pribadi ku sendiri selalu teralihkan.


"Bagaimana apa kau mau Fariz."


"Tidak.... Maaf senior, aku menikmati cara hidupku yang sekarang, tidak ingin menjadi seperti dulu lagi."


Karena dulu, aku merasa kesepian, tidak bisa aku melihat orang yang benar-benar ingin menjadi temanku, mereka ingin memanfaatkan apa yang aku miliki. Tapi sekarang semua berbeda, tiga serangkai itu tidak perduli tentang masa lalu, hanya melakukan banyak hal bodoh dan tertawa bersama-sama.


*******


Kembali ke masa sekarang....

__ADS_1


Setelah semua cerita yang aku katakan, melihat bagaimana ibu Sofi mengusap mata dengan wajah melas untuk sekedar melihatku.


"Bu, aku tidak tahu jika cerita ku begitu mengharukan." Ucapku setelah melihat Ibu Sofi mengeluarkan air mata.


"Tidak, bukan itu, mata ibu kemasukan debu." Jawabnya dan aku hanya mengangguk paham.


"Oh, aku pikir ceritaku begitu menyentuh dan itu membuat ibu menangis."


Tapi seketika sikap ibu Sofi berubah ..."Apa kau pikir ibu percaya dengan ceritamu Fariz.... Di sekolah kita tidak ada yang namanya Reina Fanesintia, jika kau mau mengarang, lihat dulu daftar absen semua siswa di sekolah ini."


"Jadi ketahuan ?."


"Tapi... Ya mungkin memang ada satu hal yang bisa di ibu percaya."


"Apa itu Bu." Aku penasaran.


"Kau memiliki bakat mengarang, jadi ibu pikir kau pantas ...."


"Menjadi Novelis bu ?." Jawabku.


"Kau pantas jadi salesman. Karena dengan bakat mu bisa saja membuat orang banyak yang percaya." Balas ibu Sofi yang tahu bahwa tidak ada harapan untukku.


Pada akhirnya hukuman pun diberikan, sekali lagi aku harus membersihkan kamar mandi, jika bisa aku hitung dalam satu bulan sudah sepuluh kali kamar mandi itu aku bersihkan.


Bahkan aku berpikir petugas TU kebersihan bisa kehilangan pekerjaan karena aku terlalu rajin membersihkan kamar mandi, sehingga tidak ada hal lain yang bisa pak petugas TU kebersihan itu lakukan.

__ADS_1


__ADS_2