STUPID CLASS

STUPID CLASS
alasan


__ADS_3

Kehadiran Refa memang tidak pernah aku sangka, meski pun untuk beberapa waktu belakangan antara kami berdua cukup dekat, tapi aku merasakan ada hal khusus yang di tunjukan olehnya.


"Refa apa yang kau lakukan di sini." Tanyaku karena untuk pertama kalinya melihat Refa tampak khawatir.


"Apa salah jika aku datang ke UKS karena khawatir kepadamu." Jawab Refa, sedangkan aku tidak pernah tahu jika kepribadiannya begitu berbeda.


Aku tersenyum lemas, sedangkan aku merasa aneh sendiri melihatnya..."Ya itu bukan hal yang salah, tapi soal khawatir... Kenapa kau khawatir, apa aneh jika aku pergi ke UKS untuk tiduran ?."


"Jadi kau tidak sakit ?."


Itu pertanyaan aneh untukku...."Secara fisik, tidak."


"Jadi secara mental kau sakit ?." Dan Refa menanyakan hal yang lebih aneh.


"Jika aku anggap itu, maka aku tidak akan ke sekolah tapi ke rumah sakit jiwa." Balas ku dengan senyum lemas.


Di sisi lain, Riana yang nyatanya masih ada dalam UKS memperhatikan tanpa bersuara sedikit pun, dan Refa tersadar ketika tahu bahwa ada seorang wanita yang duduk di balik tirai itu.


"Senior Riana, kau juga ada disini." Panggil Refa yang kenal dengan Riana.


"Ya begitulah, aku bertugas untuk menjaga ruang UKS di jam pelajaran tadi."

__ADS_1


"Oh." Jawab Refa yang tampak tidak nyaman untuk kehadiran Riana.


Aku tidaklah terlalu terkejut jika memang Refa mengenal sosok Riana, karena bagaimana pun, dia sangatlah terkenal di sekolah. Tidak hanya cantik, tapi juga memiliki banyak prestasi di bidang olahraga.


Berbeda dengan Refa, Riana dengan tenang menjawab setiap perkataannya tanpa merasa gugup, dimana Riana begitu mudah untuk bersosialisasi, mencari teman atau mengatasi situasi.


Sedangkan aku hanya duduk memperhatikan kedua wanita itu saling berbincang-bincang.


"Refa bagaimana denganmu, apa kau tidak berniat untuk kembali ke klub Basket ?. Bukankah tangan mu sudah baikkan." Bertanya Riana.


"Aku rasa tidak senior, aku diminta untuk tidak melakukan olahraga yang terlalu berat dalam beberapa tahun ini." Jawab Refa, yang memang di tahun lalu dia mengalami kecelakaan ketika bertanding mengakibatkan tangannya patah.


"Sungguh sangat di sayangkan, padahal kau termasuk pemain berbakat." Balas Riana.


"Jangan bicara seperti itu, aku sendiri tidak merasa berbakat, karena masih banyak orang yang jauh lebih baik daripada aku." Jawab Riana dengan tersenyum sendiri.


Ya aku hanya menjadi pendengar yang baik ketika dua wanita ini tidak menyadari, jika aku merasa tidak nyaman karena kehadiran mereka, padahal aku berniat untuk istirahat di dalam ruang UKS.


Aku mengangkat tangan dan bicara untuk menyela pembicaraan mereka berdua...."Maaf, jika kalian berdua ingin mengobrol disini sebaiknya aku keluar saja."


"Itu tidak perlu, jam jaga ku sudah selesai Fariz, aku akan kembali ke kelas." Balas Riana yang tersenyum kemudian berdiri.

__ADS_1


"Ah begitu kah, padahal jika kalian berdua memang masih ingin mengobrol aku akan pergi." Aku tentu merasa tidak nyaman, apa lagi harus berada di tempat dengannya.


"Hanya sekedar menyapa mantan anggota sesama tim basket, jadi bukan hal yang serius."


"Baiklah."


Tapi tepat sebelum keluar, Riana berbalik kemudian bertanya ...."Dan juga, Fariz apa kau benar-benar tidak ingin seperti dulu."


"Jangan bertanya dua kali senior, aku menyukai diriku yang sekarang." Jawabku.


Riana pun akhirnya pergi, dan aku kembali membaringkan tubuh diatas ranjang UKS, perasaan gugup, tidak nyaman dan atmosfer seperti bertemu wanita yang pada akhirnya menolak ku, itu sangat luar biasa kacau.


Kepalaku terasa berat untuk banyak alasan, sedangkan Refa yang masih berdiri di samping pintu, mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang.


"Fariz, apa kau kenal senior Reina ?." Bertanya Refa.


"Untuk banyak alasan, aku memang mengenalnya, dan untuk banyak alasan pula aku tidak ingin menjawab pertanyaan tentang kenapa aku mengenal senior Reina." Jawabku dengan malas.


"Begitukah ?, Apa karena masalah pribadi ?."


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin menjawabnya." Balasku.

__ADS_1


Membaringkan kepala, dan beristirahat karena semua ingatan masa lalu, kembali naik ke permukaan untuk aku bayangkan kembali.


__ADS_2