STUPID CLASS

STUPID CLASS
Kopaja


__ADS_3

Di dalam kopaja yang penuh sesak dengan orang-orang dari bermacam profesi, aku bisa menyimpulkan sedikit dari mereka semua yang ada di dalam bus ini,


Sebagian besar masyarakat yang melihat seseorang dengan menggunakan kaos oblong, bertopi dan handuk bersilang di leher itu adalah kenek bus yang sering merangkap jabatan sebagai supir dadakan di kala supir utama yang berpenampilan gemuk dan sering sulit belok karena stirnya nyangkut di perut itu berhalangan hadir .


Di bagian belakang sekitar tiga orang dengan penampilan hampir sama dengan kenek bus tapi di tambah jaket levis dan saling melirik satu sama lain adalah para pencopet,


Di antara mereka bertiga yang berdiri sambil gemetar karena di dekati oleh salah satu pencopet itu adalah seorang perantau yang baru pertama naik bus kopaja, sikap gugup seperti akan di wawancara kerja oleh kepala toko penjual piring, terlihat lebih mencolok karena mudah sekali di tipu .


Termasuk seseorang berjas di samping tempat dudukku adalah seorang penipu, dalam arti garis besar adalah seorang selesman, penampilan layaknya para anggota dewan, rambut tersisir rapi dan wangi pula, wibawa dari raut wajah yang di latihnya agar bisa merayu para konsumen, mengatakan segala macam kelebihan sebuah piring yang katanya anti pecah, padahal sekali gigit sudah remuk .


Ada pula pengamen yang bersenandung ria tanpa perduli lirik atau pun nada dan hanya berbekal tepukan tangan, membuat suasana di dalam kopaja ini semakin kacau,


Tak lepas pula seorang pedagang asongan yang memeras penumpang dengan minuman dingin seharga lima ribu padahal di warung cuma dua ribu hanya karena 'servis tambahan' tanpa perlu turun untuk beli langsung ke warungnya,


"Pak minuman dinginnya ".

__ADS_1


" tolong satu"


"Lima ribu, pak" Pembeli terkejut, bahkan hingga terbuka mulutnya, mengganti uang dua ribuan menjadi lima ribu sambil di raba takut ada yang terselip .


"Hmmm"


Aku paham betul arti gumamannya itu .


Semua ini menjadi hal yang selalu ada di setiap kopaja dan sisa penumpang hanya figuran tambahan yang tidak perduli satu sama lain, termasuk juga aku, bukan berarti aku tidak perduli dengan korban yang sedang di todong gunting, hanya saja di kenyataannya tidak ada orang yang menang jika di keroyok tiga orang preman walau mereka semua kerempeng .


Inti dari itu semua bukan tentang pengamen atau pun tepukan tangannya, tapi tentang semua kegiatan yang ada di dalam kopaja ini, setiap kegiatan para penumpang menjadi hal yang tidak asing, bukan berarti semua hal yang sedang berlangsung selalu aku perhatikan, tapi karena cerita dari tetangga yang menjadi perantau sangat jelas terlihat di dalam kehidupanku saat ini .


Bagaimana aku melihat setiap hal yang pernah dia ceritakan, tentang kehidupan masyarakat yang terkadang bersikap individualis, kerasnya hidup yang tidak kenal siapa pun tetangganya, siapa yang punya kuasa maka akan berjaya dan orang orang yang hanya meminta tanpa pernah mau melakukan apa pun.


Itu yang aku lihat selama ini dan semuanya sama dengan apa yang tetangga ceritakan kepadaku.

__ADS_1


Aku pernah sekali berfikir untuk berhenti bersekolah saat aku lulus sekolah SMK, karena semua yang aku lakukan di dalam sekolah hanya akan mengantarkan aku ke kubangan sawah yang menjadi harta turun temurun untuk menghidupi seluruh keluarga, tapi semua pemikiranku berakhir hingga Refa ingin terus bersekolah bersama denganku .


Jika saat SMK aku tidak pernah bertemu dengan Woro, Sano dan Cayo, aku tidak akan mungkin bisa berada di tempat ini sekarang, mengenal bermacam orang yang memiliki keunikan mereka sendiri, menjelajah berbagai macam tempat yang hanya bisa aku lihat di dalam koran bekas gorengan dan memiliki pekerjaan yang bisa memberikan nafkah lebih mencukupi untuk keluargaku.


Aku hanya berfikir bahwa setinggi apa pun aku bersekolah, akhir dari perjalananku hanya di sebuah petak sawah, tapi karena mimpi bodoh dari tiga orang itu yang ada di hidupku.


Menunjukkan jalan bahwa aku harus memiliki pendidikan yang tinggi, jika tidak, aku akan seperti seekor ikan mujair yang kehabisan nafas di kolam ikan lele yang hitam dan bau seperti di Jakarta ini .


Walau pada akhirnya, perjalananku dan tiga manusia MADESU itu harus berpisah karena mendapat pekerjaan berbeda.


Waktu yang terus berjalan, membawa semua kesibukan pekerjaan dan lupa dengan segala kebahagiaan sebagai teman seperjuangan.


Kami saling melupakan, terkurung oleh lingkaran manajemen kantor antara gaji dan kebutuhan.


"Aku merindukan kehidupanku yang dulu." gumamku dengan melihat pemandangan luar kaca Kopaja penuh kemacetan tiada akhir.

__ADS_1


__ADS_2