STUPID CLASS

STUPID CLASS
Pulang


__ADS_3

Selama satu Minggu aku berkenalan dengan Zufa, dia gadis cerdas dengan kemampuan berfikir sama sepertiku, dia bisa menilai karakter seseorang hanya dengan cara mereka berbincang, bahkan mungkin apa yang terjadi di kehidupan sekolahnya sama denganku, lebih memilih menyendiri, alasannya klise, para orang kaya itu alergi pada orang miskin seperti kami .


"Nah Zufa, bagaimana kalau kau membuat lamaran dan kirimkan ke perusahaan tempatku berkerja ."


"Tapi, itu akan menyusahkan mu ."


"Jangan bilang seperti itu, apa yang kau tak tahu, dulu awal saat pertama kali saya datang di Jakarta, Bu tumi adalah satu-satunya orang yang mau menyelamatkanku dan membekaliku pengetahuan tentang kerasnya Jakarta, setidaknya ini berlaku untukmu juga, aku akan mendukungku dari belakang hingga kau bisa berdiri sendiri ."


"Baiklah, akan saya coba ."


Aku sendiri percaya dengan kemampuannya, dia bukan seorang manusia yang menjalani kehidupan dengan mudah, sehingga Zufa akan melakukan segala hal dengan sebaik-baiknya dan mencurahkan semuanya kepada pekerjaannya .


Tanpa perlu menunggu terlalu lama Zufa langsung menjadi manager training untuk bagian marketing, lebih mudahnya dia langsung menjadi calon atasanku, walau dalam beberapa hal aku harus memberinya saran untuk mengurangi beberapa resiko jika terjadi masalah .

__ADS_1


Aku bukan orang yang ingin terlihat menonjol, tapi aku juga tidak ingin di lihat oleh orang lain sebagai pribadi yang suram, maka dari itu setiap hal yang aku lakukan untuknya, tidak pernah sedikit pun ingin di nilai oleh orang lain, hanya menjadi karyawan sederhana dan melakukan semua pekerjaan sebaik mungkin, untuk urusan bonus tambahan karena kontribusi dalam pekerjaan selalu melampaui target, itu urusan lain .


Bahkan zufa pernah bertanya kepadaku,


"Fariz, apa kau tidak ingin naik jabatan, para petinggi perusahaan selalu bertanya kepadaku, siapa orang yang membantuku saat mengatasi krisis ."


"Tidak perlu, semakin tinggi jabatan ku, semakin besar pula tanggung jawab yang harus aku hadapi, untuk pekerjaanku saat ini saja terkadang membuatku harus makan obat maag tiga kali, jika di berikan tanggung jawab lebih, mungkin dalam satu bulan aku bisa terkena diare terus menerus ."


Tidak ada yang salah dalam perkataanku, karena itu memang terjadi, menjadikan zufa lebih siap dalam menghadapi semua masalah adalah hal yang harus aku lakukan dan saat ini tidak ada yang perlu aku khawatirkan .


Saat ini aku masih duduk dengan kedamaian di samping dagangan ibu Tumi, kopi hitam di dalam gelas plastik menjadi hal istimewa bagi sebagian besar para pekerja keras,


Hal ini memberikan sebuah filosofi menarik yang pernah aku baca dalam sebuah novel .

__ADS_1


Semakin pahit kopinya, semakin berliku petualangannya ....


Filosofi ini sangat tepat untuk para pekerja keras yang berjuang di dalam kerasnya kota Jakarta, mereka adalah para player yang memperjuangkan harga diri, kehormatan dan cita-cita di dalam hidupnya, terlebih untuk para perantau seperti aku .


Saat kita masih anak-anak di mana rasa kagum dan takjub bisa terlihat jelas dari sorot matanya, untuk sebagian besar mimpi kami selaku anak kampung, kehidupan kota selalu menjadi tujuan hidup di saat kami menginjak masa dewasa .


Walau pada akhirnya hal yang kami kagumi saat melihat tayangan kemegahan kota Jakarta di dalam tv tabung tanpa warna atau pun gambar sebuah gedung tinggi yang sering muncul dalam poster-poster kampanye, membuat gelora muda di dalam jiwa kami semakin terbakar .


Ketika itu aku hanya seorang anak kelas 5 SD, melihat seorang lelaki yang dengan bangga berjalan menggunakan setelan jas hitam dan dasi, koper besar yang di tariknya menjadi hal hebat yang aku lihat untuk pertama kalinya,


Orang mudik....


Mereka adalah para pejuang tanpa ijazah atau surat ijin mengemudi, dengan gagah berani hidup di Jakarta untuk mengubah garis kemiskinan di dalam keluarganya .

__ADS_1


Pada saat itu dia duduk di warung kopi dekat bengkel sepeda dan becak, menceritakan berbagai pengalamannya saat berkerja di Jakarta sana, aku terkagum, walau sekarang aku sadar seberapa berat perjuangan mereka bekerja di kota ini.


"Mungkin memang, aku harus pulang dan beristirahat setelah semua hal yang telah aku korbankan." Gumamku dengan satu tegukan terakhir dari cangkir kopi di tangan.


__ADS_2