STUPID CLASS

STUPID CLASS
Sebuah kisah


__ADS_3

Setiap siang setelah pulang sekolah, saat aku di dalam bus, aku selalu berpapasan dengan seorang wanita, dia yang setiap hari pulang dari sekolahnya dengan menggunakan bus yang sama dan turun sedikit jauh dari tempat pemberhentian ku.


Setiap hari, aku terus memperhatikannya, aku tahu ini adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi di dalam hidup seorang lelaki jomblo di sekolah smk dengan setiap murid adalah para lelaki MADESU atau masa depan suram, tanpa tanpa harapan sama sekali.


Tapi untukku ketika merasa ada seseorang yang datang untuk sekedar menemani waktu pulang dari kesibukan sekolah yang membuatku pusing, cukup menjadi hal spesial, saat sekarang, tepat didepan mataku, dia masih saja duduk dengan wajah kesepiannya memandangi langit, tapi bukan untuk menarik perhatian.


Wajah imut dan terlihat kesepian itu, tidaklah membuatku rela untuk sekedar memperhatikan seorang wanita, tapi ada sebuah pitak yang hadir diantara sela-sela rambutnya. setiap waktu kami bertemu di dalam bus ini, kehadiran pitak itulah, membuat mataku selalu tertuju kepada wanita entah siapa namanya.


Entah sudah berapa kali kami bertemu dan setiap pertemuan itu membuatku semakin 'galau', sedikit maksud hatiku ingin memberitahu, tapi entah kenapa, aku menjadi ragu. aku tidak ingin melihat wajah malu sang gadis, karena memang membicarakan tubuh seorang wanita memanglah tidak pantas, terlebih untuk seorang lelaki sepertiku.


Setiap hari, setiap aku memandangi pitak di tengah rambutnya, rasa merinding dalam bayangan memiliki sebuah pitak. kekosongan di antara puluhan ribu rambut, sendirian, licin dan tampak jelas di depan mata, Satu pitak itu terpajang sebagai mahkota di atas kepala sang gadis.


Aku bisa merasakan kesepiannya, dia sendirian, tanpa ada yang perduli dengan sebuah pitak, setiap aku sudah dekat, aku menjadi ragu dan aku tetap tidak bisa mengatakannya.


*****


Keesokan harinya, ditempat sekolah tercinta kita.


Aku mencoba untuk membicarakan hal ini kepada sahabatku Sano Setio aji Pangestu. ketika dia sedang terdiam dengan wajah serius memandangi ponsel, wajah dengan tatapan tajam, sedikit aku gugup tapi tetap memantapkan hatiku untuk mengatakannya.


aku mendengarkan apa yang akan di jawab oleh Sano... "Lebih baik, jangan loe katakan, " Jawabnya melihatku serius,


"Apa begitu lebih baik ?, tapi gua seperti mengerti perasaannya, sendirian, di perhatikan semua orang dan itu.... sangat menyedihkan."

__ADS_1


"memang benar seperti yang loe katakan, tapi ingat Fariz, itu bukan urusan loe." Jawab Sano.


"Ya aku pun tahu itu."


"tapi jika seperti ini, apa itu akan menjadi baik ." Kata ku yang tertunduk lemas.


"Ingat, bukan urusanmu." berjalan sano dan menepuk pundakku,


Siang hari setelah aku membicarakan hal ini dengan sahabatku, bukan rasa puas yang aku dapat tapi sebuah keraguan dan perasaan bersalah, karena aku seperti menutup mata melihatnya sendirian.


Dia masih duduk di kursi dekat jendela seperti biasanya, memandangi langit yang jauh dengan tatapan penuh dengan kesepian.


Di dalam perjalanan pulang, aku memutuskan untuk mengatakannya dan saat dia berdiri bersiap untuk turun, aku perlahan mendekat.


Selama ini aku hanya memperhatikan, aku bisa merasakan kesepian pitak itu dan aku mengerti seperti apa sakitnya diabaikan oleh dunia, tanpa ada yang mengakui keberadaan kita, hanya seperti pajangan tanpa memiliki arti sama sekali di dunia ini.


"Anu maaf...." Ucap aku ragu-ragu.


Walau sudah mencobanya dia tidak terdengar karena suara mesin bobrok dari bus ini terlalu bising.


perlahan dia turun, hari ini aku pun tidak mampu mengatakan isi hatiku ketika melihatnya, aku pecundang, hanya berdiri diam tanpa bergerak, melihat ketidakmampuan yang aku miliki untuk bisa menyelamatkan kehadirannya.


'Tidak, ini tidak akan terjadi lagi, aku harus mengatakannya.' ucapku dalam hati dengan memukul pintu bus untuk berhenti.

__ADS_1


"Stop pak ." Kata aku dengan menyodorkan uang ongkos, melompat keluar dan mengejar wanita itu yang sudah berjalan pergi untuk masuk kedalam komplek perumahan.


"Tunggu sebentar ." Teriak aku memberhentikannya dan dia pula melihatku.


"Ada yang ingin gua katakan kepadamu ." Kata aku dengan kuat memantapkan hati.


"loe kan yang selalu satu bus dengan gua waktu pulang ." Katanya dengan wajah gugup,


"Ya, itu gua dan ada yang ingin gua katakan kepada loe." Balasku dan dia terlihat gugup untuk menanggapi kedatangan ku.


"Apa itu ." Bertanya dia dengan matanya tidak berani melihat.


"Pitak loe itu terlihat jelas, lebih baik loe pakai topi untuk menutupinya ." Teriak aku dengan perasaan lega setelah mengatakannya.


wajah gadis pun melihatku kaget, rasa malu yang teramat hebat karena siapa sangka ada seseorang membahas tentang pihaknya itu.


"Terima kasih ." Jawabnya dengan tersenyum,


Hingga pada akhirnya dia pergi meninggalkanku dan aku pun pergi dengan jalan kaki karena ongkosku pas untuk pulang hari ini,


Dan seperti itulah akhir dari sebuah kisah seorang remaja yang mengkhawatirkan hal paling tidak penting di dunia ini.


jadi apa yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah, jangan mengurusi hal yang tidak penting, karena terkadang itu menjadi tekanan batin rumit dan penuh drama menyusahkan.

__ADS_1


__ADS_2