STUPID CLASS

STUPID CLASS
H5N1


__ADS_3

Aku jelas terkejut dengan tuduhan yang asal saja diputuskan oleh seseorang tanpa mau tahu alasannya.


"Tidak, tidak ." Aku terkejut bukan main, bagaimana tidak, untuk seorang lelaki yang lupa tentang kehidupan di desa ini, langsung mendapatkan sambutan hangat atas tuduhan sebagai pencuri.


"Terus di tanganmu itu apa ." Balas wanita itu dengan suara keras.


"Ah ini minuman yang aku ambil di kulkas." jawabku apa adanya.


Belum sempat aku menjelaskan, dia langsung ingin berteriak, tapi dengan cepat tanganku secara reflek menutup mulutnya. Dia terus melawan, tangan asal hantam hingga sempat mengenai perut dan rasa sakit bukan main.


"Diam sebentar, aku akan jelaskan ." Tanpa bisa di hentikan, tiba-tiba saja dia menggigit tanganku dengan keras.


"Sudah jelas-jelas kau itu mencuri dan mencoba untuk memper*kosaku."


"Sudah aku bilang aku tidak mencuri atau pun ingin melakukan hal macam-macam denganmu ." Kata aku saat menahan sakit akibat gigitan wanita itu.


"Terus apa maksudmu, mengambil barang daganganku dan langsung meminumnya ." Tanpa memberikan jeda untuk aku bernafas saat menahan sakit.


"Tidak ada pencuri yang menunggu untuk di tanggap oleh pemilik warung." Kata aku yang melihat bekas gigitan hingga memerah.


"Jadi apa maumu ?."


"Aku menunggu pemilik warung untuk membayar minuman ini ."


Dia terdiam, melihatku dengan tatapan sedikit kesal walau kesalahpahaman sudah selesai.


"Sekarang cepat bayar ." tegasnya dengan tangan kedepan meminta uang.


"Berapa yang harus aku bayar ?."


"Lima...."


"ah lima ribu." sambungku sambil mengeluarkan uang di saku.


".... puluh ribu." lanjutnya.

__ADS_1


"Haaah, minuman ini tidak lebih dari lima ribu, apa kau ingin memerasku ."


"Seperti itulah, atau kau ingin aku teriaki pencuri ."


"Baiklah aku mengerti ."


Aku merasa sudah di hukum pidana walau itu bukan kesalahanku, mencoba melihat isi dompet yang ternyata tidak lebih dari dua puluh ribu, bahkan setelah membuka seluruh kantong di dalam tas pun tidak aku temukan uang yang terselip di dalamnya,


semua habis dalam perjalanan, dan yang ada hanya kartu ATM atau pun kartu KTP saja."


"Uangku tidak cukup, aku hanya punya dua puluh lima ribu."


"Aku tidak mau ." Wanita itu masih menyodorkan tangannya dan tidak mau ditawar.


"Jangan berharap dari orang miskin yang baru saja pulang ke desa ini ." Aku mencari alasan seadanya.


Tapi sayangnya dia tidak menghiraukan tatapannya yang kesal kini berganti menjadi jijik, mungkin yang dia pikirkan adalah,


'Sudah miskin, sok ganteng, kasar, pencuri, hidup lagi .' Sungguh maknanya sangat dalam sekali,


Sungguh tepat seperti pikiranku, hanya saja kata ganteng yang aku pikirkan tidak muncul diucapannya, melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba berpikir kalau harus menghubungi orang rumah, tapi aku lebih tidak ingin dia mendapatkan masalah karena kesalahpahaman yang aku lakukan,


"Baiklah kalau kau memang memaksa, bisa kau ikut aku, "


"Ke mana ?."


"Ke rumah, di sana aku akan membayar seperti yang kau inginkan ."


"Aku menolak, mungkin di sana nanti aku akan di pukul hingga pingsan dan kau kabur begitu saja, aku tahu pikiranmu ." Dia masih saja menatapku dengan pandangan penuh curiga.


"Bisakah kau tidak berperasangka buruk denganku ."


"Aku hanya mengatakan sesuai fakta saja, karna di jaman sekarang aku harus hati-hati terutama orang dari jakarta yang bertampang brandalan sepertimu ."


Dia mengatakan itu tanpa ragu-ragu dan aku merasa tatapan mata curiga setiap orang saat melihatku di dalam bus yang memeluk erat tas mereka masing-masing karena melihat wajahku ini, sungguh untuk pertama kalinya aku merasa menyesal dengan wajahku sendiri,

__ADS_1


"Minta maaflah kepada orang jakarta yang masih baik hati dan juga aku lahir di desa ini ."


"Aku tidak percaya, jangan harap aku akan mudah tertipu dengan alasan konyolmu itu, "


Aku mulai merasa kesal karena wanita keras kepala ini masih saja memutar balikkan setiap alasan yang aku katakan.


"Baiklah kalau begitu, kau boleh ambil apa pun yang sesuai dengan harga minuman ini ." Aku membuka isi tasku dan bersikap pasrah jika memang dia akan mengambil semuanya,


"Tidak sudi aku memegang barang sampah yang kau miliki, bisa-bisa aku akan terkontaminasi virus H5N1."


"Aku bukan ayam ."


"Ia tapi kau kotorannya ." Aku sudah di ambang batas kesabaranku, emosiku sudah tidak bisa di tahan, jika bukan karena dia wanita, aku mungkin sudah menghajarnya,


Tentu aku masih menahan emosiku, kepalan tangan hanya bisa menjadi tanda kalau aku sedang berada di ujung emosi yang sudah memuncak, tapi sekilas seorang lelaki muncul.


wajah yang sangat familiar, bahkan tanpa perlu melihat foto atau apa pun untuk mencari persamaan atas raut wajah yang dipenuhi masalah, sudah bisa aku tebak siapa dia.


"ada apa ini ? kok ribut-ribut." Sungguh suara yang biasa aku dengar untuk waktu cukup lama dan ada rasa nostalgia di dalam ingatanku.


"Aku menangkap pencuri ini, Yo " Sungguh pernyataan yang seenaknya sendiri dari wanita itu.


"Sekali lagi aku bukan pencuri ." Aku sedikit berteriak karena sudah kesal dengan perkataan wanita di depanku.


Dengan perlahan si lelaki menatap dengan mendekat, aku mendorongnya menjauh karena tidak nyaman dilihat begitu dekat, ditambah lagi dia adalah lelaki.


Wajah tampak terkejut dengan menutup mulutnya, aku pun hanya berpikir, jika lelaki ini tidak berubah meski bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.


"Fariz kah ?, loe pulang Riz ?." Dia langsung menarik tanganku dan menjabatnya dengan erat.


"Siapa kau ?." jawabku yang berpura-pura tidak kenal.


"Aku Cayo, Cayo Alata, kita satu sekolah, dari SD, SMP, sampai SMK masa kau lupa, kita sudah seperti saudara. " Jawabnya dengan senyum melengkung penuh semangat.


"siapa juga yang mau saudaraan sama loe, taplak." balasku yang sebenarnya cukup senang melihat kawan lamaku ini.

__ADS_1


__ADS_2