
Sosok wanita yang mengajarkan aku betapa kenyataan begitu pahit, dan kini tepat ada di depanku, dia yang sedang memakai kaos kaki dan sepatunya kembali untuk pergi keluar.
Karena tahu ada seseorang datang dan membuka pintu, kepalanya terangkat untuk sengaja melihat ke atas, tepat ke arah mataku, aku hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa pun dan termasuk dia yang hanya mengucapkan.
"Fariz ... " Dia menyebutkan namaku dengan jelas.
Dialah 'Reina' yang aku maksudkan dalam cerita sebelumnya bersama ibu Sofi, Tapi disini namanya adalah Riana Dilah, dan jalan cerita antara kami berdua pun sedikit berbeda.
Aku berusaha keras untuk mendapat perhatian Riana, belajar dengan giat, berlatih segala bidang, dan melakukan semua yang dianggap wanita ini menarik.
Ketika Riana mengatakan jika lelaki yang bisa bermain gitar sangatlah keren, maka aku akan berlatih hingga mahir semua kunci gitar. Jika Riana menganggap lelaki yang peringkat satu sangat hebat, maka aku belajar dengan giat untuk bisa mendapat peringkat pertama, seluruh sekolah pula, atau pun dia menyukai lagu-lagu bahasa Inggris, maka aku belajar bahasa Inggris untuk bisa bernyanyi.
Bisa dibilang aku termasuk orang yang sangat mudah belajar ketika memiliki tujuan, atau pun karena sebuah alasan, maka aku berusaha keras demi mendapatkannya.
Begitu pula dengan sosok Riana yang aku suka ketika semasa SMP, tapi kenyataan yang pahit harus aku terima, melihat dia bergandengan dengan lelaki bernama Daslam, preman sekolah, anak Badung, tukang bolos, dan bodoh, membuat hatiku hancur.
Mungkin juga karena hal itulah, persepsi ku tentang sosok lelaki menarik bagi wanita berubah. Riana lebih memilih bersama lelaki seperti Daslam dan aku merasa kalah untuk semua kerja kerasku.
Disinilah kami berada, satu sekolah SMK, meskipun berbeda angkatan. Bukan karena aku masih mengejar Riana, hanya saja, sekolah SMK inilah satu-satunya sekolah Negeri yang ada di wilayah dekat dengan rumah.
Bukan hal aneh jika aku melihat Riana, meski pun ada rasa canggung untuk bicara.
__ADS_1
"Kenapa kau berada di sini, Fariz, apa kau sakit." Ucapnya terlebih dahulu.
"Tidak juga, hanya saja aku sudah menganggap, Ini adalah rumah kedua di dalam hidup ini."
"bukankah rumah kedua itu sekolah, "
"tidak untukku, karena aku lebih banyak menghabiskan waktu di UKS, dan ruang BK."
Aku masuk dengan perasaan yang campur aduk, antara malu dengan kesal, dia seperti tidak menganggap apa pun terjadi di masa lalunya, ketika harus aku ingat masa dimana berusaha keras untuk menarik perhatian Riana.
Walau saat ini aku sendiri tidak begitu perduli dengan dirinya, tapi tetap saja sikapnya membuatku kesal, tanpa berani menatapku atau pun sebaliknya.
Aku masuk dan merebahkan tubuhku di atas ranjang uks yang keras, ruangan putih, poster aneh model telanjang hingga terlihat organ dalam, seperti memperhatikan tingkahku di balik tirai yang memisahkan antara aku dan Riana, gadis yang membuatku jatuh cinta dulu,
"Aku sudah tidak melakukannya .",
"Wah sangat di sayangkan, dulu bukannya kau selalu menjadi juara nasional ."
'Memangnya itu salah siapa .' Kesal aku di dalam hati, karena dia tidak sadar dengan perkataannya,
"biarkan saja ."
__ADS_1
Entah kenapa aku menjawab setiap pertanyan yang dia katakan, hingga jam pelajaran berganti, senandung lagu indonesia pusaka menjadi tanda kalau jam pelajaran berganti, dari balik tirai aku bisa melihat kalau Riana tampak gelisah, sering sekali memutar badannya, terkadang menghadap ke arahku atau pun berbalik, dan hal itu membuatku sedikit gelisah pula.
"Fariz, apa kau....."
Saat Riana akan bertanya dengan nada serius, sosok lain masuk dengan cepat, berdiri di depan pintu melihatku aneh,
"Riz, apa kau baik-baik saja ." teriak Refa membuatku kaget,
"jangan berteriak, aku sedang istrahat, "
"Kau beneran sakit, "
"Mungkin benar, tapi tidak berdarah. "
"sini biar aku obati ." Entah dia kerasukan setan apa, dia yang biasanya tidak perduli denganku, hanya melihatku dengan tatapan mata.
"Tidak perlu, ini akan sembuh sendiri seiring berjalannya waktu."
"Memang kau sakit apa Fariz." tapi yang bertanya itu adalah Riana.
sungguh aku sendiri bingung harus menjawab apa, sedangkan semua yang ada dalam kepalaku terasa berat dengan situasi seperti sekarang.
__ADS_1
"Sakit perasaan." jawabku dengan asal saja.