
Dua tahun yang lalu, aku masih menjabat karyawan junior yang hanya mengerjakan pekerjaan sampingan, lebih mirip seorang pesuruh dari pada karyawan kantoran, sepulang kerja hal yang biasa aku lakukan adalah menikmati suasana kemacetan dari pinggir jalan dan di temani iringan musik pengamen bersuara fals,
Sebuah warung pinggir jalan adalah langgananku untuk membeli secangkir kopi hangat di dalam cangkir plastik, wanita tua dengan usia lebih dari 40 tahun itu selalu tersenyum ramah saat aku datang, hanya saja ..
"Bu Tumi, tolong kopinya ."
"Ah ia ."
Tapi yang muncul dari bawah meja dagangannya adalah wanita cantik dengan rambut lurus hitam pendek bertubuh tinggi, seksi dan juga mancung,
Tentu aku sendiri terkejut bukan main, karena di dalam ingatan yang bahkan belum 24 jam, sejak terakhir bertemu ibu tumi, yang hanya seorang ibu-ibu tua seperti pada umumnya, dengan pakaian kebaya lusuh bahkan beberapa kancingnya sudah hilang dan tidak semancung wanita di depanku .
"Bu ...Bu Tumi sejak kapan ibu kembali muda dan cantik seperti ini, saya tidak sangka operasi plastik jaman sekarang bisa menakjubkan sekali ".
Wanita itu menunjukan ekspresi kaget, bingung dan malu, tapi rasa terkejut itu hilang saat semilir suara serak dengan nada seperti kehabisan nafas yang sangat familiar terdengar di telingaku .
__ADS_1
"Nak, itu anakku Zufa, ". Sosok wanita tua muncul dari belakang .
Dia wanita tua yang senantiasa menjaga senyuman tua dari pipi keriputnya, perlahan dan sangat santai duduk di kursi samping dagangan.
Untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur dengan keadaan ibu tumi yang seperti biasanya,
"Untung saja itu bukan Bu tumi, hampir saja saya jatuh cinta sama ibu kalau penampilannya jadi begini ."
"Jangan salah, dulu ibu juga cantik, seksi dan bahenol, seperti Zufa."
Zufa mendengar percakapanku dengan wajah malu hingga telinganya merah, tapi cara bicaraku dengan ibu tumi memang seperti ini, mungkin ini adalah sebuah keadaan di mana kita berdua saling menertawakan kepahitan hidup masing-masing.
"Tapi selama setahun saya jadi langganan ibu, bahkan tak pernah absen, saya gak tahu kalau ibu punya anak perempuan ."
"Dia baru lulus kuliah kemarin, karena belum berkerja Zufa minta untuk bantu saya berkerja ."
__ADS_1
"Oh ."
Besar rasa hormatku kepada ibu tumi, dengan penghasilan sebagai penjual kopi pinggir jalan seperti ini, tidak ada kekayaan yang bisa di timbun, tetapi ibu tumi lebih memilih menghidupi pendidikan anaknya, bahkan jika itu orang lain yang berada di dalam keadaan serba kekurangan, tidak ada orang yang lebih tegar untuk mempersiapkan kehidupan anaknya, setiap orang itu mungkin lebih memilih anaknya untuk berjualan asongan atau menjadikannya tukang cuci piring untuk menambah penghasilan keluarganya.
Mungkin ini adalah sebuah balas dendam kepada hidupnya, agar kelak anaknya tidak akan menjadi miskin dan bahan tertawaan orang lain, termasuk mewujudkan janji almarhum suaminya yang akan membahagiakan keluarganya.
Sedikit hal yang aku tahu tentang keluarga ibu tumi, sebenarnya ibu tumi lahir dalam keluarga juragan perkebunan kaya di kampungnya, akan tetapi dia lebih memilih hidup menderita asalkan bersama dengan suaminya .
Suaminya adalah Risman, karyawan kebun yang dimiliki oleh keluarga ibu tumi, sejak kecil Risman menjadi kuli angkut hasil kebun dari keluarga ibu tumi, tanpa pendidikan layak, tanpa harta melimpah dan keluarga yang miskin hingga urat nadi, hal itu menjadi alasan untuknya berkerja di umur yang masih muda .
Bertahun-tahun ibu Tumi dan bapak Risman saling memperhatikan, saling bercanda di sela pekerjaannya, yang kemudian menjadi cinlok dan menjadi cinta secara diam-diam,
Semua orang menentang keduanya bahagia, hingga akhirnya ibu Tumi lebih memilih pergi dan hidup bersama dengan Risman di Jakarta ini .
Walau pada akhirnya Risman dan ibu Tumi menikah atas dasar restu orang tua ibu Tumi, tapi saat itulah keluarga ibu Tumi melepaskan anaknya dan tidak lagi menemuinya .
__ADS_1
Ya, ini adalah pembuktian hidup dan balas dendam kepada hidupnya, bahwa takdir di kendalikan oleh diri kita sendiri dan kita yang mampu mengubahnya .