STUPID CLASS

STUPID CLASS
Bahagia ?


__ADS_3

Saat aku memberikan surat di atas meja kerjanya, suasana sejenak terdiam, bahkan dalam waktu kurang dari dua detik suara klakson mobil pun terhenti, dan ikan koi yang ada di dalam akuarium tidak bergerak .


"Ta...tapi kenapa, apa yang terjadi ."


Ekspresi wajahnya berubah, senyum menawannya tadi menghilang entah kemana dan aku pun merasa untuk kali ini dia akan menamparku .


"Banyak hal terjadi dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang lain ."


"Gaji ...apa gajimu kurang, "


"Tidak Bu ...gaji tunjangan dan semua yang di berikan oleh perusahaan lebih dari cukup bahkan saya sampai takut untuk menghitungnya, tapi ada beberapa hal di dalam kehidupan ini yang tidak bisa di hitung seperti uang dan jabatan. "


"Ia ...bagaimana dengan tiga proyek yang kamu pegang selama dua Minggu ini, jika itu memberatkanmu saya bisa membantu ."


"Tidak, itu tidak perlu, karena semua dokumen dan segala perlengkapan sudah saya siapkan, misalkan Wina yang harus mengerjakannya pun pasti tidak akan jadi masalah ."


"Saya tidak bisa menerima ini, Fariz ."


"Bisa atau tidak bisa saya akan tetap berhenti, bukan berarti saya keras kepala atau pun sombong hanya saja ..."

__ADS_1


"............"


Ibu zufa menunggu apa yang akan keluar dari mulutku,


"Hanya saja, sebuah kesempatan yang sudah lama saya lupakan, akan benar-benar hilang jika sekarang saya lewatkan lagi."


"Apa itu ... Jangan bercanda, ini perusahaan, jika kau mencampurkan pekerjaan dengan perasaan maka itu sama saja ...sama saja kau lupa perkataanmu kalau kau akan terus mendukungku dari belakang ."


"Selama dua tahun, setelah ibu menjabat menjadi manager, saya terus mendukung ibu dan ternyata ibu lebih hebat dalam segala bidang maka dari itu, jika saya keluar pun tidak akan jadi masalah ."


"Saya pernah di tunjuk untuk mengambil posisi yang lebih tinggi tapi saya menolaknya, karena ..."


"Baiklah, silakan keluar ."


Entah kenapa aku tidak berani melihat ke arah ibu zufa, sebagian perasaanku mengatakan kalau aku akan menjadi ragu saat melihat kearahnya .


Setelah pintu tertutup, aku bisa mendengar, suara kertas yang dia lemparkan, suara teriak yang tertahan dan aku berharap ini adalah yang terbaik .


*****

__ADS_1


"Saat kita bahagia, saat itulah kita menang ."Gumamku saat melihat ke atas langit yang gelap,


Bahagia itu apa ?,


Apa yang kita menangkan ?,


Dan siapa yang harus kita lawan ?,


Sungguh aku selalu bertanya tentang perkataan itu, siapa yang mengatakannya, aku merasa telah melupakan hal yang penting untuk di ingat, udara yang dingin saat malam di musim hujan bulan januari, asap kenalpot kendaraan tiada henti mengeluarkan karbon monoksida yang meracuni manusia dengan sombongnya, di tambah lagi suara mesin tamak menghancurkan segala keheningan untuk mengistirahatkan pikiran dari kepenatan hidup di kota besar ini,


Aku tidak habis pikir betapa bodoh manusia yang selalu beranggapan bahwa hidup semudah yang mereka kira, di kehidupan ini manusia akan selalu menjalani hidupnya dengan usaha mereka sendiri, tidak ada kebahagiaan datang hanya karena kita berdoa dan terus berdoa, mengulangi doa mereka yang sudah di panjatkan dari solat subuh hingga maghrib tanpa berfikir untuk menciptakan kebagiaan mereka sendiri, karena di dunia ini bukanlah sebuah sinetron malam dimana orang miskin bisa mendapatkan keajaiban di dalam bungkus kopi dan mendadak menjadi miliyuner, jika memang ada para tukang kopi di pinggir jalan sudah menjadi milyuner karena kopinya itu ataupun setiap orang tidak perlu bekerja keras, tinggal duduk manis sembari meminum kopi dan berharap di dalam bungkusnya terdapat lambang emas bergambar mobil,


Ironis sekali,


Tapi dunia masih memegang teguh logika sederhana, yaitu sebab dan akibat, dan juga Hidup ini adalah kenyataan, kepahitan akan tetap pahit jika kita tidak menambahkan gula di dalam cangkirnya,


"Sungguh menyebalkan, "Gumamku kembali yang kembali berjalan di pinggiran sungai gelap yang berbau busuk, lebih busuk dari toilet umum dan juga gumamku itu adalah untuk diriku sendiri, yang selalu berpikir kalau diriku sendiri memang menyebalkan,


Aku tidak pernah berpikir kalau kebahagiaan itu sederhana, bahkan jika aku di gambarkan menjadi seorang aktor bintang di film hidayah, mungkin aku adalah orang yang selalu medapatkan cobaan, dari mulai ibu meninggal, keluarga berantakan, tidak ada yang saling perduli, tidak di anggap keluarga, penyakitan, jatuh miskin, banyak berhutang, di kejar penagih, hidup mengontrak, tidak bisa bayar, di usir, hidup menggelandang, sakit semakin parah kemudian mati, tamat, mungkin sutradara akan memberikan tawaran menjadi bintang film kepadaku jika memang akan di buatnya film seperti itu, karena memang kenyataannya sebagian hal di dalam kriteria film sudah pernah aku alami, kecuali bagian beberapa bagian terakhirnya,

__ADS_1


"Sungguh menyebalkan, diriku ini ."Aku mengulangi gumamku kembali.


__ADS_2