STUPID CLASS

STUPID CLASS
Kasus pembunuhan


__ADS_3

pertanyaan ke 17 :


Aliran seni rupa yang penggambarannya alami atau sesuai dengan keadaan alam, melukiskan segala sesuatu dengan alam nyata, sehingga perbandingan perspektif, tekstur atau warna serta gelap terang dibuat dengan seteliti mungkin.


pernyataan tersebut adalah pengertian seni lukis aliran....


jawaban Fariz Anfal : Aliran seni beladiri pukulan matahari.


jawaban Sano Setio aji Pangestu : aliran seni beladiri lembah tengkorak.


Jawaban Woro Asmoro : Aliran seni beladiri kunyuk melempar buah.


Jawaban Cayo Alata : aliran seni beladiri si buta dari goa hantu .


komentar guru : Kalian semua keluar.


******


Pagi ini masih seperti kemarin, tapi mungkin karena untuk hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya, bahkan waktu di ponselku masih menunjukan pukul 6.02 pagi, ayam jago pun mungkin masih belum bangun dan aku datang karena maksud tertentu,


Saat membuka pintu kelas, di dalamnya hanya ada satu temanku dan satu buah lukisan, yang menjadi alasan kenapa aku datang sepagi ini,


"Wah loe datang pagi sekali Riz, "


Perkata temanku Sano, yang memang sejalan dengan pikiranku, karena dia pun sama sepertinya lupa mengerjakan tugas melukisnya dan sekarang seperti di buru oleh waktu untuk menyelesaikan tugasnya,


"Ya, sama seperti loe No, " Jawab aku yang duduk dan langsung mengeluarkan buku bergambar dari dalam tasku, sedangkan Sano yang mengerjakan gambarnya dengan melihat gambar dari orang lain, tentu aku meliriknya karena penasaran milik siapa gambar itu,


"Loe melihat gambar siapa No " Bertanya aku yang dengan serius mengerjakan lukisanku,


"Punyanya Refa, " Jawabnya membuatku terkejut,


"Wah hebat, tumben sekali si Refa mau memperlihatkan gambar lukisannya, " Kata aku sedikit melirik gambarnya Refa,


"Gua menemukan gambar ini di laci meja." Katanya dengan tertawa kecut,


"Gua tidak ingin tahu kalau, dia tahu loe melihat gambarnya ." Kata aku sedikit menggigil karena mengerti sifat Refa yang sedemikian kritis.


"Ya gua pun sama ." jawabnya tanpa ada rasa takut,

__ADS_1


Waktu terus berjalan, seketsa kasar di buku gambarku sudah selesai dan setelah ini adalah menggoreskan cat air untuk mewarnai.


"No, gua minta cat air merah loe ." kata aku mendekat ke meja.


"cat air gua juga habis, isi ulangnya ada di atas lemari " Jawabnya menunjuk lemari yang berada tepat di belakang.


Tentu aku sedikit kesulitan untuk mengambilnya karena, kaleng catnya ada di luar jangkauan tanganku, dengan memaksakan diri, aku berhasil menarik cat airnya, tapi kakiku terpeleset dan menumpahkan semuanya ke lukisan Refa dan kepala Sano,


"Apa yang loe lakukan sialan ." teriaknya, sedangkan aku menahan sakit karena jatuh dari kursi yang aku naiki.


"Ah gawat, Refa pasti membunuh gua kalau dia tahu gambarnya menjadi merah semua seperti ini ." Teriak aku ketakutan melihat gambarnya ini,


"Baiklah, kita sembunyikan saja ." Usul sano, tapi baru saja di bicarkan, suara refa sudah terdengar dari luar kelas yang sedang berbicara dengan seseorang,


"Gawat, cepat loe tahan Refa agar gua bisa menembunyikan lukisan ini " Teriak sano dengan wajah kebingungan dan tangan sedikit gemetar memegang lukisan merah darah.


"Baiklah ." Aku langsung berlari keluar dan berdiri tepat di depan Ref yang melihatku kebingungan,


Aku sendiri bingung untuk mengatakan apa, sedangkan wajah Ref tampak memerah saat melihatku,


"Ada apa Riz ." bertanya dia sedikit memalingkan mata.


"Ah tidak, oh ia apa loe sudah selesai mengerjakan tugasmu ." kata aku dengan sepontan dan terkejut karena pertanyaan bodoh yang aku katakan,


"Gua sudah selesai, " Jawabnya dengan tersenyum dan berjalan ingin masuk ke dalam kelas, tapi baru saja memegang pintu,


"Ah begitukah, kenapa loe datang sepagi ini ." Bertanya aku mencari alasan dan mataku sedikit melirik ke arah wajah Refa.


"Ini memang seperti biasanya, yang tidak biasa itu loe ." Jawab kembali dia melihatku aneh,


"Loe benar, " tertawa aku dengan terpaksa, sekali lagi dia mencoba membuka pintu, tapi langsung aku memegang tanganya dan menariknya,


"Ada apa dengan loe, " Kata Refa melihatku malu dengan wajahnya memerah,


"Ada sesuatu yang ingin gua katakan ." Kata aku serius dengan melihat tajam ke mata.


"Apa Riz, jangan membuat gua bingung ."


Bertanya dia dengan malu menatap mataku, wajah merah dan sikapnya malu malu itu sungguh membuatku tidak bisa mengatakan apa pun, tapi aku memutar otak mencari bahan pembicaraan untuk menahannya,

__ADS_1


"Sepertinya loe demam, wajah loe memerah ." Kata aku dan "Palk " Sebuah tamparan melayang ke arah pipiku dan Refa langsung saja membuka pintu kelas,


"Jangan ." Teriak aku dan melihat wajah terkejut Refa yang melihat ke arah meja sano, tentunya siapa yang tidak terkejut, melihat sano tergeletak di atas meja untuk menutupi buku gambar Refa yang terkena cat dan semuanya merah, tampak seperti mayat dengan darah mengalir,


"Sano, apa ini, apa ada pembunuhan ." Kata aku berakting terkejut melihat sano dan aku berlari ke mejanya,


"Cepat, cari alasan ." Kata sano yang berbicara pelan tanpa mengubah posisinya,


Melihat Refa mendekat dan memegang cat yang mirip dengan darah itu,


"Jangan bercanda, ini adalah cat ." Kata Refa dengan wajah tampak kesal,


"Yah, pertama kita harus mencari motif dari pembunuhan ini ." Kata aku serius kepada Refa dengan sikap seperti sedang berpikir,


"Sudahlah, loe berdua aneh ." kata Refa tanpa memperdulikan kami berdua dan duduk di mejanya,


"Mungkin ini karena, sebuah balas dendam kepada Sano ." kata aku tapi tetap Refa tidak memperdulikannya dan sano sudah gemetar dengan suasana seperti ini, terutama jika membayangkan jika Refa tahu kalau lukisannya sudah berubah menjadi warna merah semuanya,


"Apa kalian melihat buku gambar gua ." Bertanya Refa kepadaku dan aku langsung terkejut mendengar dia bertanya,


"Ah mungkin ada di atas lemari, "Jawab aku dengan alasan seadanya,


"Kenapa ada di sana siapa yang sengaja menaruhnya di sana ."


Berkata Refa dengan kesalnya dan menaiki bangku untuk mencarinya di atas lemari,


"Dimana gua gak menemukannya ."


"Coba ke depan lagi ."


Tapi setelah berusaha mencari dengan tangan yang meraba ke sana kemari membuat Refa tergelincir dan aku menangkapnya, matanya menatapku saat aku berusaha menahan berat badan dari Refa yang memang berat,


"Refa, kau berat ." kata aku yang tidak kuat dan ikut terjatuh bersama dengan Refa, karena jatuh, aku menimpa Sano hingga berdiri kesakitan dan Refa melihat ke arah Sano,


"Apa itu buku gambar gua ." Kata Refa melihat nama dari buku gambar yang menempel di baju sano, dengan lengketnya Sano melepaskan buku gambar yang menempel di bajunya itu, cipratan cat menempel di pipi Refa, tapi tentu bukan itu yang membuatnya marah dan melihat kami ganas , peregangan tangannya itu sudah menandakan sesuatu yang sudah bisa kami berdua bayangkan,


Saat setelah jam masuk, setiap temanku melihat kami berdua hanya terdiam dan duduk di bangku kami,


"Ada apa dengan muka loe , Riz, ada gambar tangan di pipi loe dan juga loe sano ." Kata woro dengan sedikit tertawa dan juga bingung,

__ADS_1


"Sudah lupakan saja, jangan banyak bertanya, " kata aku dengan wajah menahan penderitaan yang begitu kejam,


"Ya, Loe benar ." setuju sano yang masih meneteskan air mata,


__ADS_2