
pertanyaan ke 14 :
Kata bijak adalah kalimat atau perkataan yang memiliki satu kekuatan dari kecerdasan dan penilaian untuk suatu kebenaran.
berikan satu contoh kata inspirasi dari para tokoh yang menginspirasi kalian :
jawaban Fariz Anfal : mumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya dari Andrea Hirata.
jawaban Woro Asmoro : Teruslah tersenyum, karena hidup adalah hal yang indah dan ada banyak hal untuk disyukuri. dari Marilyn Monroe
Jawaban Sano Setio aji Pangestu : Dia yang mengerjakan lebih dari apa yang dibayar pada suatu saat akan dibayar lebih dari apa yang dia kerjakan. dari Napoleon Hill.
jawaban Yuno Selamet : Kesuksesan dan kegagalan adalah sama-sama bagian dalam hidup. Keduanya hanyalah sementara dari Shah Rukh Khan.
jawaban Refani yusina : Tidak perduli kau ada dimana, kau seperti apa dan apa yang kau lakukan, semua tergantung kepada dirimu sendiri dari Sina Yuzuki.
Jawaban Suro : semangat jangan menyerah dari dirinya sendiri.
*******
saat ini kami di ruang kelas, dimana kami memiliki tugas untuk memberikan catatan rencana masa depan kami kepada guru wali kelas. Hanya saja untuk kami para lelaki MADESU, dimana masa depan hanya sebatas waktu yang akan membuat kami mengikuti alur kehidupan masyarakat mayoritas dalam rutinitas P 14 ( pergi pagi pulang petang pala pusing pinggang pegal-pegal pan*tat panas penghasilan pas-pasan.)
Tapi jika bertanya untuk apa tugas ini, tujuan sekolah untuk menulis lembar rencana masa depan menempatkan mimpi kita, karena sekolah ingin memastikan rencana kami adalah hal baik dan sekedar membantu mengarahkan kemana langkah kami selanjutnya setelah lulus.
Memang sedikit menyusahkan, walau pun begitu yang lebih menyusahkan adalah saat berurusan dengan wali kelas kami ini, Ibu guru Firda, memang cantik, lajang dan umur masih 20 tahunan, jika beranggapan dia baik hati sungguh sangat terbalik, karena setiap kami membuat masalah dia bisa berubah menjadi lebih ganas dari pada 'Ibu kota ', karena ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.
"Silakan kumpulkan lembarannya, " Kata ibu Firda dengan nada kesalnya, tentu setiap temanku hanya terdiam dan menunduk, aku sendiri pun tidak berani untuk melihat ke arah mata ibu wali kelas kami.
__ADS_1
"Kalian, sudah ibu beri waktu untuk mengisi lembar masa depan kalian, tapi masih banyak yang belum mengumpulkan, baru disuruh mengarang saja kenapa malas, tulis saja mau menjadi presiden, pilot, dokter atau suster." Kata ibu firda dengan memukul meja, sungguh keras bahkan mungkin meja itu sedikit retak karena pukulannya.
"Maaf Bu kami semua laki-laki tidak mungkin menjadi suster." celoteh Fariz atas ucapan ibu Firda.
"Diam kau Fariz." tegas suara ibu Firda mengancam dengan tongkat kayu yang siap dia lemparkan.
"baik Bu." tentu saja melihat wajah cantik ibu Firda marah, Fariz lebih memilih diam, karena satu kata salah dia bisa kena tampol.
Semua murid kelas pun mulai mengisi lembar masa depan secara dadakan, tidak perduli dengan apa yang mereka inginkan, paling tidak untuk sekarang menuruti perintah dari Ibu Firda.
lima belas menit waktu yang diberikan, masing-masing murid cuma bisa pasrah untuk jawaban dari lembar masa depan, karena bagi mereka masa depan masih menjadi sesuatu yang samar-samar, sehingga ditulis saja apa pun dalam pikiran.
"baik semua kumpulan sekarang." tegas perintah ibu Firda.
"Tapi belum selesai Bu." Cayo menjawab karena dia masih tidak yakin untuk masa depannya.
Ekspresi para murid pasrah dan menyesal, setiap lembar telah terkumpul di atas meja ibu Firda, tapi wajahnya masih belum berubah, masih tampak marah dan kesal kepada kami.
"Coba ibu lihat, apa yang kalian tulis di angket ini ." Kata ibu guru melihat lembar paling atas dari setumpuk angket di kelas ini,
"Masa depan dari Woro Asmoro, ingin menjadi langsing. Apa apain ini, apa karena saat ini kau gagal untuk menjadi langsing, dan itu membuatmu bermimpi untuk menjadi langsing di masa depan nanti ." Kata ibu firda dengan berteriak keras mengacungkan penggaris kayu di tangan.
"Ya memang begitu bu, " jawab woro dengan menunduk karena takut.
"Jangan bercanda." Woro pun sepertinya tidak bercanda dengan masa depannya itu.
"Masa depan Cayo, ingin menjadi hokage, apa itu hokage, kalau kau memiliki kyubi dan bisa mengunakan jurus ninja, mungkin kau mampu, tapi ini dunia nyata, jangan campur dengan imajinasimu ." Teriak ibu Firda lagi, sedangkan Cayo tanpa menjawab dia hanya terdiam dan mungkin sedang menangis di dalam hati.
__ADS_1
,
"Masa depan dari suro, aku ingin menjadi pahlawan .pahlawan apaan, jangan bermimpi, kalau pahlawan bukan ada di sini tapi di dalam film." itu membuat suro seperti di pukul telak mendengar perkataan dari ibu firda, karena aku bisa meihat kobaran semangatnya menurun.
"Masa depan Sano, ingin menikahi guru yang cantik seperti ibu Firda. kau pasti punya cermin di rumah kan ?." bertanya ibu Firda dan bagi kami itu bukan sesuatu yang baik.
"Punya Bu." jawab Sano dengan pasrah.
"Itu tuh banyak kegunaannya, paling tidak bisa membuatmu sadar tentang mimpimu, " Banting lembaran kertas Sano di atas meja.
"Kalian itu masih muda setidaknya punyalah mimpi yang jelas, jangan asal saja menulis jawabannya." Teriaknya saat membuka lembar berikutnya.
"Lembar dari Naru, aku ingin masuk kuliah jurusan teknik informatika dan berkerja di perusahaan." Ibu firda terdiam sejenak.
Tapi beberapa saat setelahnya ibu firda membanting mejanya sambil berteriak... "Naru setidaknya buatlah lelucon untuk masa depanmu."
Ibu firda mengambil semua lembar lain dan keluar dari kelas, itu semua membuat kami terdiam tanpa mengatakan apa pun.
Sungguh masa depan itu memang sangat besar, tapi masa depan bukan untuk di tulis, melainkan masa depan untuk di jalani semampu kita, tanpa ada kata takut atau pun menyerah, karena yang membuat kita takut adalah mendengar ibu wali kelas yang sedang marah hanya untuk tahu seperti apa masa depan kita nanti.
Di kejadian saat ini, aku mendapatkan pelajaran singkat yang berharga, setakut apa pun kita untuk menggapai masa depan, jangan pernah menyerah, karena saat kita menyerah dan asal asalan, kita akan mendapat bentakan dari wali kelas.
'Sunguh merepotkan'.
Kata aku dalam hati dengan perasaan lega karena lembaran kertasku tidak di bacakan oleh Ibu Firda, karena di dalam kertasku tertulis.
Aku ingin menjadi suami, ibu firda.
__ADS_1