
Setelah semua pekerjaan yang diberikan ibu Sofi telah selesai, aku pun berjalan kembali ke dalam kelas ketika istirahat jam kedua. Terik matahari, udara panas di musim kemarau, serta semua muda mudi yang mengumbar kemesraan di kelas, membuat kepala, tenggorokan dan hatiku merasa panas.
Mereka semua sibuk dengan dunia masing-masing, tidak perduli jika ada orang lewat, saling bicara akrab dan tertawa-tawa, aku tidak menyukai pemandangan seperti ini.
"Riz kau sudah selesai..." Bertanya Sano yang menyambutku dengan badan penuh keringat.
"Ya begitulah."
"Sungguh kau memiliki semangat jiwa muda yang membara, kau sangat rajin membersihkan kamar mandi sekolah tiga kali dalam seminggu, luar biasa."
"Pala kau luar biasa, ini hukuman mana mungkin aku semangat."
"Bicara apa kau Fariz, aku selalu bersemangat meskipun dihukum untuk berlari sepuluh kali memutari lapangan."
"Dan aku yakin kau minta tambah 2 kali lagi."
"Tidak, tapi 3 kali." Jawab Suro dengan wajah tersenyum tegas penuh semangat.
Aku seperti membuang banyak energi untuk sekedar berbincang dengan Suro. terlebih lagi dengan sikapnya yang membuatku susah. Dalam situasi yang aku hadapi tentang hukuman dari ibu Sofi, mungkin bukan masalah besar karena aku memiliki banyak waktu di luar jam pelajaran.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang membuatku terkejut, karena intonasi dari pita suara itu sendiri cukup familiar di telinga.
"Bukankah kalian harus duduk di bangku, karena jam pelajaran sudah dimulai." Ucapnya.
"Baik Bu." Balasku dengan mengangguk paham.
Guru ini seperti hantu datang dengan tiba-tiba tanpa bisa aku tahu kedatangannya, setiap siswa berhamburan kembali ke meja mereka masing-masing, bahkan Suro dengan cepat berlari, Ibu guru melirikku dengan senyum yang membuatku takut.
__ADS_1
Tapi meski aku sudah duduk, guru bahasa Indonesia ini masih berjalan mendekat ke arahku dan bertanya... "Fariz apa hukuman mu dari ibu Sofi sudah selesai ?."
"Tentu saja sudah, tapi aku seperti menjadi bahan olokan saja karena sering kena hukum."
"Kau baru sadar ternyata ."
"....." Aku tidak bisa menjawabnya,
"Tapi mungkin dengan hukuman itu tidak bisa mengubah otakmu yang selalu di simpan dan menggunakan jika perlu saja, tentu ibu berharap agar kau menjadi lebih rajin." Ucap ibu yang terdengar tidak nyaman di telingaku.
"Mungkin besok aku tidak akan membawa otak sekalian Ibu ."
"Sudah lah lekas keluarkan otak kalian, eh buku maksudnya, " Karena mungkin ibu guru terlalu banyak makan otak-otak, jadinya salah menyebutkan kata buku.
Jam pelajaran seperti biasa membuatku mengantuk, padahal baru 20 menit berlangsung, aku sudah menguap lima kali, menggaruk kepala sepuluh kali dan mendapatkan lemparan kapur dari ibu guru, tiga kali pula.
"Ada apa Fariz ." Jawab ibu guru dengan wajah sedikit kesal dan tampak tidak perduli untuk menanggapi panggilanku.
"Aku ingin pergi ke uks saja Bu, "
"Pergi saja sana, lagian juga di kelas ini kerjaanmu hanya tidur saja ." Jawabnya.
Mendapatkan izin dari Ibu guru, aku berjalan keluar. Mata Refa dan teman satu kelas mengikuti kemana aku pergi. tentunya tidak akan ada yang protes dengan tidakan ku. Jika mereka semua masih ingin mendapatkan jawaban setiap ada PR untuk di contek.
"Ibu guru, " Refa berdiri dengan cepat.
"Kau duduk saja ReFa, kau sedang tidak sakit kan ? ." Jari tangan ibu guru menyuruhnya untuk tidak perlu mengantarkan Fariz.
__ADS_1
"Iya Bu." Jawab Refa dengan lemas.
Setelah kejadian karya wisata beberapa Minggu lalu, Refa cukup perhatian kepada ku dan mulai terlihat Feminim, tentu tidak seperti biasanya, tapi perubahan yang dia buat, membuat satu kelas tidak nyaman.
Aku melihat ke arah meja Refa dan menunjukkan wajahnya yang tampak kesal, dia menatapku yang terdiam di depan pintu, kemudian berbalik dan tersenyum.
Tapi bisa aku rasakan ada aura kesal dari Refa dan aku mungkin, jika guru tidak ada, dia akan melemparkan kursinya ke arahku.
Tentu aku sudah sering berjalan di sekolah saat jam pelajaran seperti ini, sangat sepi, hanya ada beberapa kelas yang sedang melakukan olahraga di lapangan sekolah.
Aku sedikit mengingat beberapa kejadian saat aku SMP, orang yang selalu berambisi untuk berada di puncak, itulah aku dulu. Mengikuti berbagai macam kegiatan dari basket, bulutangkis, voli, sepak bola, catur bahkan adu panco, gundu, dan permainan jari.
Memang dari kisah yang aku ceritakan kepada Bu Sofi, ada beberapa hal menjadi karangan saja, tapi sebagian besar adalah nyata.
Dulu Aku menginginkan keberadaanku di akui oleh satu orang saja, seorang wanita yang membuatku bisa melihat hal yang tidak pernah aku lihat, itu adalah cinta.
Tapi cinta itu tidak pernah terjadi, hanya sebatas memandangi setiap langkahnya dari balik jendela, saling menyapa saat tidak sengaja tatapan mata kami bertemu dan tersenyum, hingga pada akhirnya aku menyesal, aku di tolak. Untuk alasan apa pun, aku tidak pernah memikirkan hal itu,
Setelah kejadian itu, tidak sekali pun aku ingin melakukan hal-hal merepotkan lagi dan membuang semua ambisiku dan menjadi sosok diriku saat ini, hidup ala kadarnya, tidak lebih dari seseorang yang telah melupakan tujuan, seorang pemalas di atas bangku sekolah.
Tanpa bisa aku pikirkan, sebuah kebetulan yang tidak ingin aku dapatkan, di saat yang tepat sebelum aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang UKS.
Sosok wanita yang mengajarkan aku betapa kenyataan begitu pahit, kini ada di depanku, dia yang sedang memakai kembali kaos kaki dan sepatunya.
Tanpa sengaja melihat ke atas, tepat ke arah mataku, aku hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa pun dan termasuk dia yang hanya bisa mengatakan.
"Fariz ... " Dia menyebutkan namaku dengan jelas.
__ADS_1
Dialah 'Reina' yang aku maksudkan dalam cerita sebelumnya. Tapi disini namanya adalah Riana Dilah.