STUPID CLASS

STUPID CLASS
Konsultasi 3


__ADS_3

Sebuah buku tua, usang dan kusut Woro keluarkan, itu adalah kitab yang dia beli dari tukang loak seharga 50 ribu rupiah dengan judul 'kiat sukses percintaan, dan bisnis dalam lima langkah'.


"Buku macam apa ini." Sano meremehkan.


"jangan sembarangan loe No, ini buku ajaib dari pendekar cinta gunung Gede." Woro marah untuk sikap Sano.


"Tapi kaya mencurigakan gitu."


"Kalo gak mau ya udah." Ucap Woro yang siap memasukan buku ke dalam kantong celana.


"Maaf, maaf..." Sano langsung berubah sikap dengan wajah memelas.


*Seorang lelaki harus menunjukan kelebihannya :


"Jadi apa kelebihan loe ." Bertanya woro kepada sano dan sano pun mulai berfikir dengan seriusnya,


"Ah ada satu, gua memiliki kelebihan, gua bisa membuat pantun ." jawabnya, dan sedikit aku mengakui itu memang satu satunya kelebihan yang dia miliki, sisanya adalah kekurangannya.


Jadi anggap saja, kalau seorang pacar setiap hari mendapatkan pantun dari Sano mungkin akan tergoyang hatinya tapi itu hanya beberapa hari selebihnya mungkin akan mengatakan.


"Sudah cukup gua sudah bosan mendengarkan pantun loe, kita putus ". Seperti itu gambaran di dalam pikiranku,


Sano mulai beraksi dengan gayanya saat berdiri di depan kelas, rambut tersisir rapi seperti akan berfoto album kenangan mulai memberhentikan salah satu siswi yang akan ke kantin saat lewat di depan kelas kami,


"hey nona, dengarkan pantunku ini,


Tak perlu sedikit malas,


walau kasur terasa mulus,


Bolehkan aku menatap matamu dan membalas,


dengan perkataan lembut dan halus, "


Sungguh aku terkejut mendengar pantun sano yang begitu aduhai, tapi siswi itu melihat aneh dengan tersenyum kecut kepada Sano.


"Terlalu malas itu tidak baik,


Sedikitlah rajin walau sebatas membaca,


Walau mataku membalas balik,


Setidaknya ngaca sebelum bicara, "

__ADS_1


Balasnya yang ternyata membuat sano tampak syok untuk meneruskan pantunnya, dengan cepat Siswi itu pergi dengan terkejut saat aku melihat ke arahnya dan cara pertama gagal,


*Tunjukan kejantananmu :


Ini sedikit beresiko tentunya, karena ini mempertaruhkan sebuah keberanian untuk langsung berbicara dengan target,


"Lihat itu Sano, ini kesempatan loe ." Teriak Woro yang menunjukan seorang siswi di luar gerbang dengan beberapa lelaki besar berbrewok seperti menggodanya, tapi wajah siswi itu tampak kesal,


"Ya, gua siap, " Jawab sano dengan penuh keberanian menghampirinya,


"Yo sudah lama menunggu ." Kata sano dengan soknya menghampiri gadis dalam masalah itu, tapi tatapan mata dari lelaki besar itu, seperti sedang mengancam,


"Maaf kakak, gua ada urusan dengannya jadi tolong jangan ganggu ." Kata woro yang berdiri di samping siswi itu,


"Anis, apa kau ada urusan dengannya, " Bertanya lelaki itu kepadanya,


"Tidak ada kok ayah, aku juga tidak mengenalnya, siapa loe ....? ." Kata si siswi itu dan ternyata dia adalah anak dari lelaki besar berberewok itu,


"Ah maaf, gua kira dia teman gua ." Kata sano mencari alasan dan tanpa pikir panjang langsung tancap gas dan lari pergi entah kemana, cara kedua tidak berguna,


*Tunjukan kalau kau itu tidak perhitungan :


Melihat seorang siswi di kantin sekolah dengan bingungnya seperti mencari uang untuk membayar apa yang dia beli, tapi sepertinya tidak menemukan apa yang di carinya, tanpa di suruh Sano mendekat,


"Ada apa ibu, " Bertanya sano kepada ibu kantin,


"Sudah mbak, kalau memang ketinggalan biar saya saja yang membayarnya, "kata sano dengan penuh percaya diri,


"Tapi ..."


"Tidak apa, sudah soal nantinya, biar saya yang urus karena sepertinya mbak sedang ada urusan yang penting yah ." Kata Sano yang memang begitu jantan walau aku tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya saja aku sedikit terpikir untuk melihat isi dompetku,


"Kalau begitu Terima kasih, kakak siapa, " kata siswi adik kelas itu,


"Ah panggil saja Sano ." kata sano dengan tersenyum lebar,


"Nanti aku ganti " kata si dia yang langsung pergi,


"Jadi apa benar loe yang akan bayar tuan dermawan ." kata ibu kantin melihat sano seperti ingin membunuhnya,


"Memangnya berapa bu, " bertanya sano dengan tersenyum kecut,


"150 ribu," katanya, dan membuat sano terkejut, termasuk juga aku karena sebuah alasan,

__ADS_1


"15 ribu...."


"150 ribu rupiah ." kata ibu kantin dengan seriusnya, sano melihat kearahku dengan wajahnya memelas, dan aku pun sudah menduga ini akan terjadi, hingga pada akhirnya walau uang aku, Sano dan Woro kumpulkan tetap saja itu masih kurang. jadi cara ketiga lebih baik hilangkan saja,


Melihat wajah Sano yang tampak begitu terpukul aku sedikit iba dengannya, karena terbayang seberapa keras dia mencoba untuk mencari pacar tetap saja hasilnya seperti dugaanku,


"Apa gua harus menyerah saja riz " kata sano dengan lemasnya,


"Untuk saat ini sepertinya begitu, tapi tenang saja, mungkin suatu saat ada seorang gadis yang akan mencintai loe sepenuh hati, "kata aku saat menepuk pundaknya,


"Ya loe benar ."Jawab sano dengan tersenyum kecut,


"Jadi untuk saat ini kita nikmati saja masa muda kita walau tanpa cinta, " kata aku membuat sano sedikit tersenyum,


*Selalu bersikap baik kepada orang lain dalam keadaan suka atau pun suka.


Dan di saat kami berdua pulang bersama, kami melihat seorang gadis dengan seragam siswi sekolah kami dan emblem kelas satu listrik 1, melompat seperti hendak mengambil sesuatu dari atas pohon itu, namun karena terlalu tinggi dia terlihat begitu murung,


"Apa yang terjadi ." kata sano menghampirinya,


"Sepatu saya ada yang melemparnya di atas ." katanya tanpa melihat sano,


"Riz, tolong bantu gua ."kata sano memanggilku,


"Siap laksanakan ."


Aku mengangkat Sano yang berdiri di pundakku untuk mengambil sepatu gadis ini, dengan sedikit sulit untuk mengimbanginya, aku terjatuh tepat setelah sano berhasil mengambilnya, baju yang kotor dengan tanah seperti sebuah hiburan untuk aku dan sano, kami berdua tertawa seperti biasanya, karena kami saat ini untuk menolong tanpa memikirkan alasan apa pun, sano memberikan sepatu sebelah kepada gadis itu.


*Tersenyumlah, meski pun kita tidak tahu cinta di terima atau di tolak.


jika ini adalah kisah dongeng cenderella maka ini adalah hal yang romantis, tapi sepertinya tidak begitu, gadis itu dengan tiba tiba setelah Sano memberikan sepatunya dia langsung berlari tanpa mengucapkan apa pun, aku menepuk pundaknya,


"Seperti biasa ." dengan mengacungkan jempol,


"Ya seperti inilah ." sano tersenyum dan tertawa,


Tapi saat kami akan pergi, gadis itu dari kejauhan melambai kearah kami,


"Kak Sano terima kasih banyak ." teriaknya dan melihat Sano terdiam untuk beberapa saat,


"Sama sama ." balasnya dengan berteriak,


"Nah riz, apa loe tahu sepertinya gua jatuh cinta ." Kata sano,

__ADS_1


"Selamat kalau begitu, jadi dengan cara apa untuk membuatnya jadi pacarmu ." kata aku bertanya dengan sedikit bercanda,


"Dengan cara gua sendiri " jawabnya dengan tersenyum dan terus melambai walau bayangan gadis itu sudah tidak tampak di matanya,


__ADS_2