
Setelah menerima janji dari Senior Reina aku tidak bisa berpikir jernih, banyak hal terbayang-bayang dalam benakku, bahkan lima jam pelajaran, dari bahasa Indonesia, matematika, dan produktif tidak ada satu materi pun bisa aku ingat.
Hanya mendengar suara senior Reina yang tidak berhenti berdengung di ujung telinga, sedangkan orangnya sudah lama pergi. Dan orang lain melihatku dengan cara yang tidak biasa, lebih seperti seonggok sampah berserakan di dalam kelas, kurang lebih begitu makna pandangan para murid lelaki ini.
Diantaranya tiga serangkai Woro, Cayo dan Sano mulai berbisik-bisik....
"Tuh anak kaya orang kerasukan setan, ngelamun gara-gara diajak ngobrol senior Reina, apa sespesial itu." Ucap Cayo dengan siriknya.
"Lu iri kan Yo, ngomong aja, jujur.... Gua bisa kok bantu lu ngobrol sama Senior Reina." Balas Woro dengan wajah penuh kebanggaan.
"Eh, di toilet ada kaca, apa lu gak pernah gitu ngaca, lu aja ngobrol sama Cewe kaya orang kena Sawan, eh malah ngasih nasihat ke gua. Mikir.." Tapi Cayo tahu sepak terjang Woro di dunia percintaan.
"Sudah, sudah, yang lebih penting, kita harus cari tahu.... Fariz itu pake cara apa sampai bisa dapet perhatian Senior Reina." Balas Sano yang ikut ambil bagian untuk bicara.
"Biar gua tanya." Woro pun maju.
Padahal dari tempatku duduk, aku bisa mendengar semua bisikan mereka dengan jelas, tapi aku tetap diam dan pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba saja muncul sesosok Woro Asmoro yang datang dengan wajah penuh kesombongan di hadapanku, padahal apa yang bisa dia sombongkan, selain kelebihan berat badan dan lemak di dalam perut.
"Riz, gua mau tanya."
"Tanya apa ?, Soal senior Reina."
"Gimana lu tahu." Terkejut Woro.
'Ya orang sejak tadi gua denger, lu-lu pada ngomongin gua.' balas aku dalam hati.
__ADS_1
"Bapak gua dukun, lah gua anaknya." Asal aku membalas.
Aku sendiri cukup tahu kenapa mereka bertiga begitu penasaran tentang senior Reina, tapi jangankan mereka, aku sendiri masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Lu tahu, jika di perumpamkan antara kita dan Senior Reina, kita itu ibarat lalat yang mendekati bangkai."
'Eh, lu tega amat, nyamain Senior Reina seperti bangkai.' pikir ku dengan aneh untuk cara Woro memberi perumpamaan.
"Ya gua pikir otak lu itu salah Woro."
"Gua gak salah, tapi yang gua pikir, gimana ceritanya sampai senior Reina itu deketin lu Riz."
'Ya gua aja kagak tahu, lu malah tanya....'
"Jadi gini ro...."
"Lu tahu hukum Newton Hukum Newton 2 menyatakan, percepatan sebuah benda akan berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya serta berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan akan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya, apa lu tahu ? ."
"Kagak, Apa itu ?." Woro bertanya dengan wajah polos.
"Makanya belajar.... Jadi, selama kita punya usaha dan niat, tentu berbanding lurus dengan hasilnya." Jawabku dengan tersenyum sombong.
"Memang usaha apa yang lu lakuin."
"Gak ada." Singkat saja aku menjawab.
Ya itulah kenyataannya, aku tidak pernah cari perhatian, berlagak sok keren, atau mengirim pantun kepada Senior Reina, tapi kenapa, bagaimana bisa, apa yang terjadi. Sampai-sampai aku mendapat perhatian yang spesial.
__ADS_1
Sedikit hati aku bertanya-tanya apa yang ingin senior Reina bicara, notabenenya aku lebih seperti tokoh sampingan atau pun pemeran pohon tanpa ada sekenario di dalam sebuah drama sinetron.
Jam pulang sekolah.....
Aku masih duduk diam di dalam kelas ketika semua orang sudah pergi keluar untuk pulang, sebenarnya ini tidaklah terlalu aneh, karena aku memang selalu pulang belakangan karena tidak ada hal lain yang dikerjakan di rumah.
Menunggu Senior Reina, sejenak aku pandangi foto presiden dan wakilnya, begitu pula burung Garuda yang menengok ke kanan diantara mereka. Semua tampak biasa saja, bahkan seisi ruang kelas pengap dan penuh retakan di dinding tidak berubah sama sekali.
Setelah 15 tahun aku hidup, ini pertama kalinya menunggu seorang wanita yang sudah janjian untuk bertemu, aku bingung, tentang apa perkataan yang harus di ucapkan kepada Senior Reina.
Hingga beberapa saat, Senior Reina pun menampakkan diri di balik pintu dengan wajah tersenyum dan tampak lelah.
"Fariz apa kau lama menunggu ?."
"Tidak senior, hanya tiga puluh menit, dan itu bukan waktu yang lama." Balasku dengan gugup.
"Syukurlah, aku sampai berlari takut kau pulang." Jawab Senior Reina dengan wajah merah dan berkeringat.
"Begitukah ?, Jadi apa yang senior ingin bicarakan ?."
"Tunggu sebentar...." Jawab senior Reina selagi menarik nafas dengan perlahan.
Langkahnya masuk kedalam kelas dan mengambil bangku tepat di depanku, aku bingung, aku pula penasaran, melihat sosok yang begitu spesial, dan menjadi primadona sekolah berada tidak jauh dari setengah meter.
Senior Reina mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan mengeluarkan selembar kertas untuk dia letakkan tepat diatas meja.
"Fariz apa kau mau bergabung dengan kelompok ku untuk lomba nanti." Ucap senior Reina dan itulah tujuannya.
__ADS_1