
pertanyaan ke enam :
Kemampuan petani untuk mengolah sampah menjadi kompos dari hari ke hari semakin baik. Pada hari pertama ia mampu mengolah 2 m³ sampah, pada hari kedua 5 m³ sampah dan pada hari ketiga 8 m³ sampah. Pada hari ke 10, seberapa banyak petani dapat memproses limbah :
Jawaban : Refani yusina : 100m³.
Komentar guru : itu benar, jadi.....
komentar Fariz Anfal : maaf pak sepertinya ada yang salah.
guru berkomentar lagi : sudah jelas jawaban Refa benar, tidak ada yang salah disini, kecuali otak yang kau pakai itu.
komentar Fariz Anfal : tidak bukan itu, bapak salah kelas, jam pelajaran sekarang adalah sejarah, bukan matematika.
Guru menoleh ke Refa meminta jawaban : itu benar pak, sekarang jam pelajaran ibu Sofi.
komentar guru : maaf kalau begitu.
******
Siang ini tentu tidak seperti biasanya, angin semilir musim kemarau yang kering sekali pun terasa seperti akan terjadi badai besar, burung kutilang bertenggeran di dahan pohon kesemek terlihat binggung untuk buang hajat, itu menunjukan pertanda buruk akan terjadi, walau di setiap hari hal yang dianggap tidak biasa itu selalu di temui di dalam kelas ini,
Setiap siswa hanya melakukan sesuatu yang tidak berguna, seperti Sano mempaktikan ilmu merayu tingkat tinggi dari sebuah buku berjudul 'jurus jitu menaklukkan hati wanita ', 50 lembar dengan harga lima ribu rupiah, itu pun minta diskon karena sering membeli buku dari lapak emperan toko yang sama atau hal aneh lainnya adalah melihat seorang bernyanyi dengan ember menutupi kepalanya, yang kemudian di sertai tubuhnya menggigil karena mendengar suaranya sendiri atau pun seorang ketua kelas yang begitu bersemangat dengan tangan mengepal tinggi dan mata berapi-api, untuk kelas 10 jurusan listrik 2 itu adalah hal wajar, sewajar-wajarnya seorang manusia yang bernafas untuk hidup,
Tapi itu beberapa menit yang lalu, karena siang ini terlihat begitu menegangkan, wajah Sano yang pucat, Woro terlihat memegang perut karena mules dan ekspresi kaku dari Cayo, ekspresi Cayo itu adalah hal biasa jadi tidak perlu dibahas, itu semua adalah akibat dari Guru non produktif Ibu Sofi di siang ini sudah memulai sidang untuk menentukan nasib para narapidana dengan nama siswa, tetang ujian untuk para siswa agar terelepaskan dari jerat hukum dan yang menentukan itu adalah jawaban dari kami semua di sini.
Dengan nada suara yang lantang ditambah pula pengeras suara speaker ruang kelas, membangunkan semua siswa yang biasanya hanya melamun karena memikirkan serial TV semalam dan bahkan tertidur di saat pelajaran, tatapan mata dari Ibu Sofi itu seperti menunjukan kalau Ibu guru yang satu ini sangat serius untuk memberikan hukuman, karena memang kelas ini sudah terkenal karena kebodohannya, hingga kepala sekolah pun akan mengatakan,
"Dari pada mengurusi mereka semua, lebih baik aku bermain catur dan kalah saja ." pak kepala sekolah mengatakannya dengan nada suara suram dan lemas, begitulah keputusasaan yang tertanam hingga masuk ke dalam hati Bapak Kepala sekolah.
*Pertanyaan pertama.
Dengan berdiri tegap dan melihat serius, buku pertanyaan yang di pegang Ibu sofi seperti akan membacakan teks proklamasi, beserta ekspresi sama seperti Presiden Ir.Soekarno kala itu,
"Siapa yang menemukan lampu pijar, "
"Saya Bu ." Angkat tangan Woro dengan cepatnya, aku sendiri tidak menyangka kalau Woro yang sejak tadi memegang perutnya bisa mengerti pertanyaan dari Ibu Sofi,
"Ya bagus, apa woro jawabannya, " Kata ibu sofi dengan sedikit tersenyum,
"Saya bu, "
__ADS_1
" Ia jawabannya apa ."
"Saya bu ."
"Jangan buat saya marah, jadi siapa yang menemukan lampu pijar, Woro ." Ekspresi Ibu Sofi berubah seperti Bung tomo di atas mimbar untuk menyuarakan semangat pejuang, bahkan gayanya pun mirip, seperti poster Bung Tomo di diding kelas ini,
"Saya bu, kemarin saya menemukannya di bawah laci meja guru, aku sendiri tidak tahu kalau ibu mencarinya, jadi aku buang bu, sudah mati sih ." Jawaban dari Woro dengan wajah tampak polos, sungguh seperti bayi yang tidak tahu apa pun, lepaslah sudah coretan merah ke arah nama Woro dan sudah di pastikan hukumannya, Remidi .
"Menyesal ibu bertanya kepadamu, " Kata ibu sofi menepuk keningnya, mengubah senyum kepercayaannya tadi menjadi mata jahat,
*Pertanyaan kedua,
Ekspresi wajah Ibu sofi yang tadi seperti Bung Tomo atau pun Ir.Soekarno sekarang sudah berubah menjadi R.A Kartini persis seperti posternya, yang tepat di samping poster Bung Tomo,
"Jangan main main lagi , Pada tahun 1945 saat jepang menyerah tanpa syarat dan para pemuda mengetahui berita itu, kemana Ir soekarno di asingkan ." Ibu Sofi masih bertanya dengan tegas dan sedikit muram, sungguh mirip dengan poster R.A Kartini,
Semuanya terdiam,
Beberapa menit masih tetap terdiam,
"Baik kalau begitu, Cayo apa jawabanmu ." Tunjuk Ibu Sofi ke arah Cayo yang sejak tadi melamun dengan wajah kaku yang senyum-senyum sendiri,
"Cayo, jangan melamun ." Bentak Ibu sofi dengan memukul meja, Cayo terkejut dengan wajah kaku dan mulut ternganga,
"Maaf kalau begitu, jadi apa jawabanmu ." Ibu Sofi yang terkejut pula memelankan suaranya,
"Pertanyaannya aja saya tidak tahu Bu, Ibu minta jawaban, ibu becanda nih ."
"Makanya dengarkan ." Kata Ibu Sofi dengan memukul meja hingga retak, sungguh aku sendiri melihat betapa kuatnya pukulan itu, membuat aku lebih ingin keluar dari kelas ini dengan alasan kalau aku sedang mules,
"Pada tahun 1945 saat jepang menyerah tanpa sayarat dan para pemuda mengetahui berita itu, kemana Ir soekarno di asingkan, silakan jawab ." Wajah ibu sofi menatap serius ke arah Cayo bahkan tanpa mengedipkan matanya,
"Wah, kalo ibu guru bertanya seperti itu, aku gak tahu bu, "
"Kenapa kamu gak tahu, memangnya kamu gak belajar ."Bentak kembali Ibu Sofi yang menahan emosinya untuk keluar dari tenggorokannya,
"Bukan begitu Bu, aku sendiri belum lahir waktu itu bu, jadi bagaimana aku bisa tahu kemana Ir soekarno di asingkan ."
"Lupakan, lupakan saja ." kata ibu sofi dengan marahnya,
*Pertanyaan ketiga,
__ADS_1
Wajah Ibu sofi sudah berubah, sekarang tidak mirip dengan poster pahlawan apa pun, lebih mirip dengan poster iklan jamu Nyonya Nyengir dan makna dari ekspresinya seperti mengatakan 'terserahlah apa pun mau kalian, asal jangan bercanda atau saya telan semuanya ', sungguh panjang maknanya,
"Pada tahun berapa tragedi bandung lautan api terjadi, Fariz silakan jawab ."
Pada akhirnya korban berikutnya adalah aku, aku menelan ludah berulang kali, memikirkan jawabannya,
"Wah, waktu rumah saudara saya kebakaran di tegal aja saya gak tahu Bu, apa lagi bandung lautan api, saya gak tahu Bu," Jawab aku dengan seadanya alasan di dalam otakku,
"sepertinya ibu salah masuk kelas, " Kata ibu sofi dengan lemasnya,
Pertanyaan keempat,
Ekspresi ibu sofi semakin berubah, tidak menjadi poster apa pun, entah itu iklan atau selebaran kondangan, sekarang makna dari ekspresinya seperti mengatakan 'Aku lapar ',
"Ini adalah pertanyaan yang bahkan anak smp aja pasti bisa menjawabnya, "
Kami sedikit gemetar mendengar teriakan dari ibu sofi, walau pun berteriak wajah ibu sofi terlihat sudah mencapai batasnya,
"Berapa lama jepang menjajah indonesia ."
Setelah ibu sofi mengatakan pertanyaannya, tetap saja tidak ada yang menjawabnya,
"kalian itu kenapa, kalian itu SMK masa pertanyaan SMP saja tidak bisa, "
"Maaf ibu kami semua sudah bodoh sejak SD, jadi pertanyaan SMP sekali pun kami tidak bisa menjawabnya, "
Lemas Ibu Sofi mendengar perkataanku dan mungkin kalau ada bendera putih di dekatnya, , ibu sofi sudah mengibarkannya, pertanda menyerah dari medan pertempuran ini,
Pada akhirnya dengan ekspresi yang tidak bisa di maksudkan maknanya, memberikan pertanyaan terakhir sebelum jam pelajaran selesai,
"Baik sebelum kalian bisa menjawabnya tidak ada yang boleh keluar, "Kata ibu guru menuliskan sesuatu di papan tuis,
Siapa presiden pertama indonesia ? .
Di lanjutkan,
"Baik siapa yang bisa angkat tangan, " Bertanya ibu sofi dan dengan serentak seluruh siswa di kelas ini mengangkat tangannya,
"wah bagus kalau kalian mengerti, jadi apa jawabannya, " ibu sofi tersenyum lega, terlihat betapa bahagianya Ibu Sofi setelah melihat seluruh kelas dengan semangat ingin menjawabnya,
"SAYA BU ." Serentak seluruh kelas menjawab pertanyaan ibu sofi dan semua siswa dalam kelas keluar dengan bahagianya,
__ADS_1
Itu membuat Ibu Sofi terdiam dan ikut keluar tanpa mengatakan apa pun,
Setelah kejadian itu keesokan harinya, papan nama kelas kami di ganti, dari Kelas 10 listrik 2 menjadi 'Kelas Anak Usia Dini ' .