STUPID CLASS

STUPID CLASS
Empat tahun....


__ADS_3

empat tahun kemudian.....


Sudah terlalu lama aku duduk di depan layar monitor dengan puluhan lembar kertas tugas kantor yang tidak pernah berkurang, tiga cangkir kopi tanpa ada sisa di dalamnya dan puluhan batang rokok yang memenuhi asbak hingga berserakan, tapi itu semua tidak membuatku merasa lebih baik, setiap hari hanya berkemelut deretan kalimat yang bertulis rapi di lembar kerja layar monitor putih, merangkum proposal kerja dan hanya menunggu untuk di tolak oleh manager sambil melemparkannya ke depan wajahku.


Aku bisa bayangkan itu.


Bahkan di hari sabtu ini aku tidak menghabiskannya untuk bersantai, aku tidak berpikir kalau pekerjaan ini membuatku tertekan, hanya menghabiskan waktu dengan apa yang aku miliki, selain pekerjaan aku tidak memiliki hal lain, seorang lelaki tanpa ada hobi atau pun rutinitas di luar jam kerja, sebagai seorang lajang dengan kehidupan yang sempit, banyak teman kantorku sering membawaku ke tempat hiburan, tapi aku tidak pernah merasa kalau hal itu akan membuatku menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya, aku seperti seorang pengacau di tengah kegembiraan semua orang, seperti saat setiap orang tertawa bercerita tentang kisah cinta masa SMA mereka dengan sejadi-jadinya tertawa hingga di tengah percakapan aku berkata .


"Jika kau mengatakan hal itu, kau seperti memberikan lembar proposal pada bos tanpa kejelasan tujuannya " .


Hingga mereka semua terdiam seperti di tarik kembali ke dalam kenyataan dan karena itulah aku selalu menolak setiap ajakan untuk berkumpul dengan teman sekantor, hingga aku sadar di setiap akhir pekan aku hanya berakhir di depan komputer, kasur dan kamar mandi .

__ADS_1


Layar ponsel yang menyala dan kembali redup, hanya pesan masuk dari para pegawai yang masih terlena di sela hari libur weekendnya untuk mengajakku berlibur di pantai atau pun sekedar menemani mereka bercakap ria .


Aku tidak punya waktu untuk hal itu.


Mereka yang masih menikmati sisa manis madu untuk di hirup hingga nanti malam dan terkejut saat mengingat kalau tugas untuk pekerjaan mereka sudah di ujung deadline, aroma manis madu yang mereka miliki saat ini akan berakhir hingga hari senin menampakkan dirinya, sedikit harapan dari mereka hanya sebatas mendoakan kalau manager makan nangka dan lupa mengeluarkan bijinya hingga tersedak membuat biji nangka itu tersangkut di tenggorokan, sehingga kepala manager harus di rawat untuk beberapa hari, itu yang sering aku dengarkan dari percakapan mereka saat jumat lalu .


Berkerja di bidang management marketing membuatku selalu di sibukkan oleh lembaran proposal yang harus buat, tapi dari pekerjaan ini semua aku sempat menyadarinya, kalau kehidupan nyata di dalam dunia kerja itu selalu berbanding terbalik dengan dunia khayalan kita semasa sekolah dulu, berpikir sederhana, lulus sekolah, di terima kerja, menabung, beli ini itu, menikah dan hidup nyaman bersama keluarga, sederhana untuk di pikirkan, tapi sulit saat menjalaninya, aku sadar dengan kenyataan itu .


Lembar kerja masih tertumpuk di samping meja kerja di dalam kontrakan sederhana yang aku sewa 800 ribu untuk satu bulan, tidak termasuk air dan listriknya, para tetangga sedang sibuk menenangkan anak mereka yang terus merengek meminta di belikan mobil-mobilan padahal gaji suaminya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, atau pun suara dengkur lima pegawai bangunan yang tiada henti berirama saling dialog satu sama lain, dengkuran mereka seperti suara serigala yang berkomunikasi memanggil kawanan, tapi ini berlangsung hingga siang hari, mungkin karena jam lembur yang mengharuskan proyek pembangunan gedung apartement harus di selesaikan tepat waktu, pekerjaan mereka sama sepertiku, hanya saja mereka berkerja dengan tekanan tenaga dan aku berkerja dengan tekanan batin, termasuk juga aku bukan tipe orang yang tidur dengan mendengkur, itu menurutku .


Kembali aku melihat layar ponsel yang kembali menyala, nomor kontak baru, masuk ke dalam inbox pesan, aku hanya beranggapan kalau itu hanya pesan penipuan yang berkedok kode sms untuk memenangkan satu unit mobil avanza dari undian vocer pulsa dan aku tidak memperdulikannya .

__ADS_1


Karena aku tidak pernah beli voucher pulsa.


Saat kembali aku melihat layar monitor, aku sadar dengan kenyataan yang ada di hadapanku, sekeras apa pun aku berkerja dan selama apa pun aku menghabiskan waktu, di depan layar monitor yang mungkin sudah bosan untuk saling pandang denganku, hal ini akan terus berulang hingga nanti aku dipensiunkan, artian halus dari PHK .


Aku save semua data yang tidak pernah ada ujungnya itu, mematikan semua perangkat komputer dan merebahkan diri di atas kursi yang sudah menemaniku berkerja selama 4 tahun ini, saat ini pikiranku kosong, tidak ada alasan untuk aku melakukan hal lain selain mengistirahatkan mentalku dan berharap doa para pegawai di perusahaan menjadi kenyataan .


Aku membuka semua pesan yang masuk ke dalam inbox, semua temanku hanya menceritakan keluhannya, dari mulai tugas kerja yang belum selesai, di putuskan pacar, di maki oleh mertua, di usir istri dan ada pula yang meminta pinjaman karena uang gajian habis untuk berlibur keluarganya .


Padahal ini baru tanggal 1,


Tapi ada yang berbeda dari semua pesan yang aku dapatkan selama ini, nomor kontak baru yang tadinya aku anggap sebagai modus penipuan berhadiah, ternyata bukan, saat aku membaca kata demi kata mengalir kedalam otakku, membuatku ingat tentang semua hal berharga yang aku lewatkan demi mendapatkan kehidupan tidak berguna saat ini, aku membuka mata, tubuhku berdiri tanpa perduli lagi dengan tumpukan kertas yang menjadi belenggu, membuka pintu dan pergi .

__ADS_1


__ADS_2