
pertanyaan ke 15 :
Terjemahkan kalimat ini ke bahasa inggris,
"Aku datang ke kota untuk bekerja di perusahaan, "
Jawaban Refani Yusina : I want to city For working in company,
Komentar guru : Bagus, kau sudah fasih dalam berbahasa inggris, besok langsung kuliah ke Arab Saudi.
Jawaban Sano Setio aji Pangestu : "I Am .....work in go to Company ? ."
Komentar guru : kau harus lebih banyak belajar bahasa inggris terlebih dahulu, jangan cuma tahu 'I love You', 'yes' 'thank You'... dan juga kenapa kau bertanya di akhir kalimat ?.
balas Sano Setio aji Pangestu : ya maaf Bu, kita kan orang Jawa.
Jawaban Woro Asmoro :$%--~6&$_'&@ 5;:_--&_;:45@_;sbanm
komentar guru : Sebelum kau mencoba berbahasa inggris, lebih baik kau belajar berbahasa manusia terlebih dahulu.
komentar Fariz Anfal : pak saya gak kebagian buat jawab ?.
Balasan guru : gak perlu. kau jelas bukan manusia.
Balas Fariz Anfal : lah kok gitu..?
*********
Beberapa minggu yang lalu, kelas kami mendapatkan murid pindahan dari kota, seorang anak lelaki yang begitu pendiam, dengan wajahnya yang terliaht begitu murung, aku dan beberapa temanku mendiskusikannya,
"Dia tampaknya masih belum terbiasa di kelas ini ." kata sano kepadaku, dan aku melihatnya sejak awal dia masuk ke kelas ini, setiap hari dia hanya terdiam dan duduk di mejanya,
"Coba loe berbicara kepadanya Riz, " Kata sano dengan menggoyangkan dagunya ke arah si murid pindahan junaidi,
"Apa yang loe pikirkan, kenapa harus gua, " Teriak aku menolak usul dari sano,
"karena loe itu mudah sekali mengajak ngobrol setiap orang, bahkan satu sekolah memberiakan julukan kehormatan kepadamu, si lelaki caper ." Kata Sano membalas perkataanku,
"Itu bukan pujian atau pun kehormatan ." Kata aku dengan kesalnya,
"Memangnya apa bedanya, julukan itu membuat loe terkenal hingga satu sekolah, " Kata woro ikut dalam perbincangan ini,
"Sejak kapan aku merasa terhina seperti ini, " Kata aku menepuk dengan keningku,
"Memangnya sehina apa loe, karena mendapatkan julukan itu, jika di bandingkan dengan gua,aku di juluki Si suara emas toilet, padahal mereka tidak mengerti seberapa merdunya suara gua, " Kata woro dengan mengusap air matanya,
__ADS_1
"Maafkan gua, loe saja yang tidak mengerti kawan ." Kata aku dengan menepuk pundak woro,
"Kau juga Riz, kalau begitu akan gua tunjukan suara gua ini," Kata woro dengan tiba tiba berdiri, dan setiap orang yang mendengar niatan dari woro itu, keluar dan ada pula yang menutupi mulutnya, sedangkan aku tidak keluar atau pun menutupi mulut woro, aku menutup telingaku dan mengumpat di bawah meja,
"Kenapa dengan kalian semua, gua kecewa ." Woro berlari keluar dengan mengusap air matanya,
"Ya dengan begini semoga saja dia menyadari tentang kelebihannya itu ." Kata Sano seperti bersyukur dengan mengusap dadanya,
Tentu beberapa saat setelah kejadian woro, si murid pindahan junaidi melihat kami semua, tapi pandangan itu tampak melihat jijik dengan adanya kami di dalam kehidupan barunya di sekolah ini,
"Ayo cepat sana Riz ." kata sano melihatku dan menggoyangkan dagunya ke arah si murid pindahan,
Sedangkan aku menunjuk diriku sendiri, seperti menjadi tumbal untuk temanku yang satu ini, aku seperti menolak tapi memang apa boleh buat, karena aku sendiri seperti tidak ingin melihat keadaan ini,
Tentu dengan senjata pamungkasku, sebuah minuman kaleng dan wajah tersenyum layaknya anak kecil mendapatkan uang lima puluh ribu di hari raya idul fitri, aku mendekatinya,
"yo kawan, loe tampak begitu murung, apa yang terjadi, " Kata aku menyodorkan minuman kaleng ke arahnya,
"Apa masalah loe,kenapa loe datang mengajak gua berbicara ." Jawabnya dengan sedikti judes,
"ayolah jangan seperti itu, kita ini kan teman, " Kata aku sedikit merayunya,
"Aku tidak ingat gua pernah berteman dengan loe." Jawabnya, walau sedikit membuatku kesal aku tidak menyerah, mungkin kalau seperti ini
'Mungkin aku membutuhkan suro untuk menyemangati aku dari belakang '. Kata aku dalam hati,
"Tidak ada ." Teriak aku ke arah suro yang berdiri di depan pintu kelas,
"Aneh sekali, perasaanku tadi seperti ada yang memanggilku ." Kata suro yang keluar dengan wajah bingungnya, mungkin suro pantas menjadi seorang paranormal, karena bisa membaca isi hatiku,
"jadi apa maksud loe mengajak gua berbicara ." Bertanya kembali junaidi kepadaku,
"apa loe tidak tahu apa gunanya teman itu, gua katakan teman itu sangat berharga ." Kata aku dengan seriusnya,
"Kalau begitu jual saja temanmu pasti kau akan untung banyak ." Jawabnya dengan cepat,
"Ah mungkin kau benar ." Setuju aku dengan perkataan Junaidi.
"Tentu saja ." Jawab lagi dia dengan judes.
"Tidak bukan begitu, karena teman gua itu tidak mungkin laku untuk di jual ." Kata aku dengan berteriak,
"Oi Riz, beraninya loe mau menjual gua demi keuntungan loe sendiri, kalau memang gua laku untuk di jual, sudah dari dulu, gua sudah jual diri gua sendiri ." Jawab sano dengan berteriak balik ke arahku.
"Maafkan gua, " Tersenyum kecut aku kepada Sano,
__ADS_1
"Ya ampun, apa kau itu serius untuk berteman di kelas seperti ini ." Gumamnya yang terdengar olehku,
"Jangan begitu kawan, apa loe tahu apa itu seorang teman ." Bertanya aku kepadanya,
"Gua tahu, kenapa aku tidak ingin berteman itu karena saat teman gua sedih, gua pun ikut sedih, saat teman gua susah, gua pun akan merasa susah dan gua tidak menginginkan hal itu ." Jawabnya dengan mata begitu sendu,
"Wah tidak gua sangka, pandangan loe begitu hebat, tapi bukankah, saat teman loe bahagia, loe juga akan bahagia, " Berkata aku dengan situasi yang sangat bagus,
"Tidak, loe salah, karena jika teman gua bahagia, gua akan merasa iri, dengki dan berasa kesal melihatnya, " Jawabnya kembali mengubah pandanganku kepadanya,
"Gua mempertanyakan rasa kemanusiaan loe sekarang ." kata aku yang lemas setelah mendengar ucapannya,
"Tapi memang seperti itulah manusia ." Jawabnya kembali dengan menatapku serius,
"Tidak, kau salah, lihat temanku sano dia ......." Berhenti aku mengatakan isi hatiku dan sedikit memikirkannya, mengingat kembali setiap hal yang pernah di lakukan Sano dan itu semua selalu membuatku kesal,
"Ya mungkin loe benar ." lanjut aku yang mendapatkan jawabannya setelah memikirkan apa yang di maksudkan olehnya,
"Oi, apa yang loe katakan Riz,apa loe ingat dulu waktu loe ketinggalan bus, siapa yang menemani loe jalan kaki ." Teriak sano dari tempatnya duduk,
"Ia, loe memang menemani gua, tapi yang membuat gua ketinggalan bus adalah menunggu loe boker kelamaan ." Balas teriakan Sano dengan aku berteriak pula,
"Sungguh, kalian di sini konyol sekali " Katanya tanpa melihat ke arahku,
'Mungkin setelah ini, memang gua membutuhkan teriakan semangat dari suro, untuk menyembuhkan rasa lelahku ini '. Kata aku dalam hati,
"Apa ada yang memanggilku lagi ." Teriak suro yang langsung masuk dengan semangatnya,
"Tidak ada ." Teriak aku yang sangat kesal karena Suro selalu datang saat aku membutuhkannya, walau itu hanya dalam hatiku saja .
"Sungguh aneh ." Kata suro yang masih terlihat bingung dan keluar dari kelas ini,
Dengan sedikit rasa kesal, aku berdiri dan pergi, tapi di langkahku dia berkata,
"Jadi menurut loe seperti apa itu teman ." katanya yang menghentikan langkahku,
"Tapi apa loe tahu, untuk gua seorang teman akan selalu ada jika loe membutuhkan bantuan, ingat kami semua di sini adalah teman loe, maka jangan malu untuk meminta bantuan kami ." Kata aku yang dengan kerennya berjalan pergi meninggalkannya, dengan tangan melambai tanpa melihat dan berjalan kembali meja tempatku duduk,
"Oi Riz, kau lupa dengan hutang loe kemarin, waktu loe membeli alat tulis, " Teriak Sano yang berlari dan mengguncang tubuhku dengan kencangnya,
"Jangan mengrusak gaya keren gua ini, padahal gua sudah sangat keren tadi, " Teriak aku dengan membalas guncangannya,
"Gua tidak perduli, sekeren apa pun perkataan loe, loe akan tetap menjadi si lelaki caper, " jawab sano membuatku kesal,
"Apa kau bilang dan juga gua sudah menggantinya dengan membayarkan minuman loe kemarin waktu loe kecopetan, " Balas aku karena kesal,
__ADS_1
"itu ya itu, ini ya ini ." Jawabnya semankin membuatku kesal,
Sungguh apa sebuah pertemanan memang seperti ini, aku mempertanyakan rasa kemanusiaan kita sampai sekarang.