
Pertanyaan ke Sembilan....
Tuliskan rumus kimia yang bisa digunakan dalam kehidupan memasak sehari-hari.
Jawaban Fariz Anfal : CH³COOH asam cuka, NaCl Garam Dapur, C¹²H²²O¹¹ Gula.
tambahan dari Fariz : Jika dikatakan seperti itu, setiap kali aku memasak, bukankah sama saja aku melakukan praktek kimia.
komentar Naru udin : ngomong-ngomong, aku ingat ketika kakak ku membuat cuka empek-empek kemarin, beberapa bahan yang dia gunakan bisa di katakan sebagai formula kimia.
komentar Fariz Anfal : Oh memang cara seperti apa yang kakak mu itu gunakan Naru.
Balas Refani yusina : intinya Asam, asin, manis dan sedikit rasa unik. itu yang dia katakan untuk menggunakan empat syarat ini agar bisa membuat cuka Empek-empek. Jadi rumus kimia yang kakak gunakan untuk membuat cuka empek-empek adalah CH³COOH (cuka sebagai asam) + NaCl (Garam sebagai rasa asin) + C¹²H²²O¹¹(gula sebagai sentuhan rasa manis) + HCN (Hydrogen Cyanide untuk aroma unik).
Komentar Fariz Anfal : apa kakakmu itu mau membunuh orang !.
*******
Apa kalian ingin tahu, apa yang membuatku kesal, tentu bukan karena nilai ujian yang buruk. Karena itu sudah sering aku dapatkan. Bukankah pula karena kena marah guru karena sering terlambat, karena itu juga sering aku lakukan. Dan bukan pula saat kita di katakan sebagai murid tidak berguna, karena aku sudah sering di perlakukan seperti itu.
Tapi yang membuatku kesal adalah saat melihat seseorang yang tidak mengerti tentang sebuah batasan, dimana ada waktunya saat kita harus serius, dan ada waktunya pula untuk kita berhenti dan beristirahat.
Tapi seperti tidak berpengaruh kepada satu orang yang melakukan segalanya dengan tekad kuat, bahkan dalam bernafas. Dia adalah Suro, ketua kelas listrik 2 yang hidup penuh dengan semangat membara.
terlebih lagi ketika aku mendengar perkataan dari Suro yang membuatku kesal... "Jangan menyerah, ini belum berakhir, ayo semangat ."
__ADS_1
Suro mengatakan itu dengan teriakan penuh semangat jiwa muda, seperti pejuang melihat penjajah yang berani berkorban nyawa untuk merebut kemerdekaan. Tapi yang membuatku heran adalah semua orang di kelasku mengikuti teriakan semangat dari Suro, bahkan mereka mendukung sekuat tenaga.
'Sungguh merepotkan '. Kata aku dalam hati melihat Suro berdiri di depan kelas dengan gaya Bung Tomo saat melakukan pidatonya untuk menyemangati pemuda saat melawan penjajah.
Usut punya usut, Suro Satrio Wibowo lahir tepat pada tanggal satu Suro yang menjadi asal usul dari namanya itu, seperti kepercayaan dari tradisi Jawa, dimana siapa pun orang lahir di malam tanggal 1 bulan suro, dia akan memiliki kelebihan, seperti mampu melihat makhluk gaib, kecerdasan spiritual, ahli dalam berbagai macam bidang, atau keberuntungan di dalam hidupnya.
Aku benar-benar mengerti sekarang, kenapa apa yang menjadi kelebihan dari Suro, ya... dia kelebihan semangat.
Sedangkan saat ini kita berada di hari Senin dimana upacara bendera akan berlangsung, panas matahari yang sudah naik 35°, suasana lembab dari angin musim kemarau, atau seseorang yang berdiri tegas di depan kelas sembari berteriak lantang.
"Semuanya, kawan-kawan ku, dengan semangat jiwa muda mari kita tunjukan kekuatan kita, di Jam upacara hari ini demi menghormati para pahlawan yang telah berkorban nyawa untuk kemerdekaan negara tercinta kita, Indonesia !!!." Teriaknya dengan semangat termasuk jari telunjuknya semakin ke atas, melebihi poster bung Tomo yang asli.
"Ayoooo." Teriak seluruh siswa di kelas dan perkataan semangat itu hanya untuk sebuah kegiatan rutin upacara bendera di hari senin.
Seperti halnya sekarang, Woro yang ternyata belum sarapan pagi membuat tubuhnya kehilangan tenaga dan mulai sempoyongan, penuh kejutan ketika dia jatuh.
sedangkan Suro segera mengambil ancang-ancang dan mulai berteriak.... "Apaan itu, di mana semangatmu Woro, kita masih muda, jangan menyerah, ayo bangkit, ayo Woro, ayo, kau pasti bisa, semangat, semangat, semangat." Suro berteriak seperti itu dengan lantang.
Ditambah lagi, semua teman satu kelas mulai mengikuti alur teriakan Suro yang membakar jiwa mereka..."Semangat, semangat, Semangat."
"ayo semangat Woro."
"semangat, semangat, semangat."
sedangkan aku yang ada di barisan tengah memperhatikan guru pembina upacara dimana tatapan mata melotot mengarahkan pandangan mata tajam kepada suro.
__ADS_1
"Oi, pak kepala sekolah melihat kita ." Kata aku mengingatkan.
"Jangan perdulikan apa pun, ayo bangkit kawanku, aku yakin kau pasti bisa, " Teriakan suro bahkan lebih keras dari pemimpin upacara saat menyiapakan pasukan upacara,
Situasi yang membuatku malu setengah mati dan tatapan mata dari kepala sekolah seperti menandakan akan terjadi sesuatu yang buruk,
Setelah upacara selesai dengan semua rasa lelah seperti mendapatkan cobaan yang begitu hebat dan termasuk rasa malu, ketika melihat tatapan mata dari setiap kelas karena mendengar suara teriakan semangat dari temanku Suro ini. Sungguh aku tidak mau berada di dekatnya.
"Ada apa dengan semangat kalian tadi, ayo semuanya semangat, setelah ini kita akan mendapatkan pelajaran olah raga, mari kita dengan semangat lompat jongkok ke lapangan ."
Teriak suro di depan kelas dengan tangan mengacung ke atas, melihat wajahnya penuh keringat dengan semangatnya yang berkobar hebat.
'Apa loe bercanda ' Teriak aku dalam hati karena terkejut mendengar perkataannya.
Bahkan untuk Sano orang yang selalu terlihat malas, karena malas telah menjadi salah satu kegiatan rutinnya setiap hari, terkecuali jika harus berurusan dengan masalah percintaan.
Sano bahkan bisa langsung berdiri walau sudah berlari berkilometer, berganti pakaian olah raga, Suro dengan semangat membara, mulai melompat jongkok ke arah lapangan sekolah dan itu berjarak dua ratus meter dari kelas, tapi untuk sebagian temanku mereka mengikuti apa yang di lakukan oleh Suro. Aku beranggapan kalau memang seluruh kelasku berisi dengan orang gila yang rela mengikuti hal aneh seperti ini. karena jelas ini membuatku kerepotan.
Aku mengikuti dari belakang, tentu saja dengan berjalan biasa, melihat betapa semangatnya Suro, bahkan setelah separuh jalan melihat salah satu temanku yaitu Woro, merasa tidak kuat melanjutkan lompat jongkoknya, Suro mendekat dan seperti biasa, bukannya menolong dengan mengangkatnya, Suro semakin serius dalam menyemangatinya,
"Jangan menyerah, ayo berjuang, tinggal seratus meter lagi, ayo "
"Ya, ini belum berakhir, semangat "
Anehnya perkataan darinya itu berhasil, walau aku sendiri berfikir kalau sikapnya begitu menyusahkan, sungguh dia salah satu temanku yang memiliki penyakit kepribadian di mana, dia tidak tahu kapan harus berhenti, aku benar-benar tidak mengerti cara dia berpikir.
__ADS_1