STUPID CLASS

STUPID CLASS
Jam istirahat


__ADS_3

Kita selalu memiliki cerita di dalam hidup yang tidak ingin kita ingat, bahkan jika mampu untuk melupakannya maka akan terasa lebih baik, untuk di lupakan tanpa perlu merasa malu untuk sekedar mengingatnya, Di jam istirahat ini semuanya berkumpul di dekat mejaku, membawa berbagai makanan dengan minuman kaleng dan itu mengganggu jam istirahatku sendiri, aku sebenarnya tidak begitu perduli dengan apa yang di lakukan oleh keempat temanku ini,


"Sungguh merepotkan kalau berurusan dengan para manusia ini ." Kata Jun yang duduk di bangku depanku dengan bergumam seperti kesal tapi sebenarnya dia ingin ikut berbincang di dalam diskusi tidak berguna ini,


"Termasuk juga kau Jun, kau sama merepotkannya dengan mereka semua, "Balas aku dengan melihatnya yang begitu santai bahkan di depannya sudah tersedia minuman dingin serta lainnya,


"Tentu saja aku tidak termasuk di dalam kelompok ini, karena aku tidak tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka semua yang tidak berguna itu, " Kata jun dengan sombongnya, tapi matanya itu memiliki niatan lain karena matanya itu sangatlah fokus melihat percakapan tidak berguna mereka bertiga,


"Oi Riz apa loe ingat dulu Naru waktu SD pernah mengajak kita untuk membolos, "Kata sano melihat kearahku yang sedang merebahkan diri di atas meja,


"Memangnya pernah kita melakukannya, " bertanya aku sedikit tidak ingat kejadian saat SD,


"Ia waktu kita kelas lima, kita membolos di perkebunan samping sekolah dan saat gua tanya naru katanya dia berak di celana ." kata Sano yang mengingat kejadian itu,


"Ah loe benar, " Kami semua tertawa menceritakan kejadian di mana Naru sampai setengah panik saat mendengar jam masuk pelajaran waktu SD dulu, karena dulu aku, Sano, Naru dan Woro satu SD, tapi setelah lulus naru masuk ke SMP 1 dan kami bertiga masuk ke SMP 2,


"Benarkah, " Kata woro sedikit tidak percaya karena dia tidak ikut membolos waktu itu,


"Bicara soal Naru, apa kalian ingat waktu Naru masuk ke dalam kelas dan saat itu para cewek sedang ganti pakaian, "Kata woro sedikit terlihat serius menceritakan kisahnya,


"Kalau tidak salah itu kelas empat dan dia menangis karena di bawa oleh cewek satu kelas ke ruang guru ." Kata aku sedikit tertarik dengan percakapan ini,


"Ia gua ingat, saat itu juga Fariz membelanya, mengatakan kalau Naru tidak tahu kalau saat itu semua cewek sedang ganti ." kata woro menunjuk ke arahku,

__ADS_1


"Gua sedikit iri dengan naru, tapi juga kasihan melihatnya, " kata Sano dengan tertawa terbahak bahak,


Tapi setiap cerita yang menurutku memang memalukan itu menjadi terasa indah, karena perasaan rindu dengan diriku ketika masih berada di sekolah dasar,


"Entah kenapa, gua merasa Naru itu memang selalu sial, karena gua tidak pernah mengingat ada hal baik yang dia dapatkan sampai sekarang ." Kata sano dengan menggelengkan kepalanya,


"itu tidak benar, saat aku satu kelas dengan naru di SMP dia sedikit terkenal di kalangan kakak kelas loh ." Kata Suro dengan semangatnya,


"Memangnya apa yang terjadi ro ." Bertanya Sano, termasuk aku dan semuanya pun ingin mengetahuinya, sedikit rasa penasaran tentang Naru saat smp,


"Dia itu sering di panggil oleh kakak kelas dan selalu memberikan sedekah uang sakunya, sungguh aku kagum dengan kebaikan hatinya, " kata sano dengan tangan mengepal,


'Oi itu di palak, bukan sedekah itu, sadar oi '.


"Ah benarkah, dia memang tidak berubah sejak dulu ." kata sano dengan mengangguk,


"Ia kau benar, "kata woro yang setuju dengan perkataan suro,


"Karena itu aku selalu salut dengan Naru, " kata suro yang berdiri dan menjujung tinggi kepalan tangannya,


'Loe semua pura pura tidak tahu atau memang Loe semua itu bodoh', Maki aku dalam hati dan menggeleng memikirkan nasib Naru,


"Ternyata di balik kesialannya itu dia adalah orang yang baik, sungguh gua nggak menyangka ." kata Jun dengan mengangguk dan mengusap matanya,

__ADS_1


'Loe juga taplak, gua kira loe yang paling waras di sini, ternyata loe sama saja.' Kesal aku kepada Junaidi dalam hati, tapi tatapan mataku sungguh mengatakan yang aku pikirkan,


"Ada apa denganmu Riz, apa loe sakit perut ." kata sano melihatku aneh,


"Tidak hanya saja aku merasa pusing mendengar perkataan kalian ." jawaban yang aku katakan membuat mereka semua tertawa,


"Satu hal lagi tentang kesialan Naru....." kata woro yang berhenti mengatakannya saat melihat Naru masuk kedalam kelas bahkan Naru menunjukan betapa kesalnya dia,


Tapi entah kebetulan atau tidak, dia mendekat dengan wajah kesalnya, sepertinya dia dari tadi mendengar obrolan kami semua saat menceritakan kesialannya,


"Dulu waktu olah raga renang, dia hampir pulang tanpa celana, karena tidak membawa celana gantinya ." Kata Woro melanjutkan perkataannya dan tidak memikirkan perasaan Naru yang sudah terlihat betapa sakit hatinya,


'Oi loe gila yah, wajah Naru itu kesal ngelihat kamu, taplak '. Teriak aku dalam hati yang begitu kasihan melihat wajahnya,


"Itu gua tahu Woro, kenapa loe tahu kejadian itu ". teriak sano melihat kesal kearah Woro,


"Dan juga dulu waktu kelas lima, gua ngelihat Naru dari pagi sampai pulang duduk terus di bangkunya, dan waktu pulang aku baru tahu kalau Naru boker di celana ." Kata woro dengan menahan tawanya,


"Itu juga gua tahu ." teriak Sano dengan wajahnya memerah,


"Napa loe tahu kejadian yang gua rahasiain dulu ." Teriakan sano memperlihatkan betapa sakit hatinya saat mendengar ucapan dari Woro,


Dan pada akhirnya pembicaraan ini, hanya menghasilkan hal tidak berguna tanpa tahu apa manfaatnya,

__ADS_1


__ADS_2