STUPID CLASS

STUPID CLASS
Resign


__ADS_3

Mereka adalah orang yang di tugaskan oleh manager bagian marketing untuk membuat proposal penjualan kepada klien dan manager melakukan pengecekan terhadap tugas itu, jika tidak ada masalah maka semua akan berjalan lancar dan mendapatkan nilai di mata manager, tapi jika sebaliknya, mereka akan benar-benar terkena sembelit selama satu Minggu .


Seorang wanita cantik umur belasan tahun pun, menjadi sedikit tegang, bisa terlihat dari tingkahnya yang terus menerus membuka dan menutup dokumen untuk pengecekan.


"Wina, Jika kamu gugup, terlihat seperti sedang sembelit saja ."


Wajahnya berubah merah, rasa gugup itu berubah menjadi malu, satu hal yang pasti, dia memang sedang sembelit,


"Apa perlu aku bawakan obat ?."


Wina, perlahan menghampiriku, memberikan berkas dokumen yang dia pegang kepadaku .


"Kak Fariz, untuk proposal ini bagaimana ?."


Aku baca sekilas, untuk ukuran seorang karyawan yang baru lulus dua tahun dan di berikan tugas langsung oleh manager, ini memang terasa sangat berat, tapi dari apa yang aku lihat, semua poin dari isi berkasnya lumayan rapi dan melihat dari keadaan manager saat ini, proposal Wina akan di setujui tanpa ada masalah .


"Ya, semuanya baik, setidaknya untuk ukuran karyawan baru, kau tidak akan terkena sembelit terlalu lama ."


"Kak Fariz bisa tolong lupakan persoalan sembelit ." .


"Ya, baiklah ."


Wina menjadi bagian dari tim yang aku pimpin dalam dua bulan ini, untuk beberapa alasan, aku lebih memilih Rina karena, dia cantik, sebuah kecantikan itu bisa mempermainkan kepribadian seseorang, ada banyak lelaki yang bisa di kendalikan oleh wajah cantik dari wanita, dan untuk masalah perdagangan, hal seperti ini sangatlah umum .


Tak perlu menunggu terlalu lama, saat Wina keluar dari ruangan manager, ekspresi wajahnya berubah, aku sendiri sudah bisa menebaknya dari tadi, hanya saja jika hal itu adalah pertama kali, siapa pun akan merasa gugup, seperti saat masuk ke sekolah baru dan tidak ada satupun orang yang kita kenal, hal seperti itu sangatlah menakutkan .

__ADS_1


"Apa kau sudah baikan, jika tidak aku sudah membelikan obat ."


"Tidak perlu, "


Dan dia pun kembali melihat kearah ku, wajahnya gugup kembali, sedikit memerah dan ragu-ragu .


"Apa yang ingin kau katakan, apa sekarang kau terkena diare ."


"Tadi sembelit, sekarang diare, apa nanti akan jadi muntaber ."


"Untuk muntaber sendiri, itu saat seseorang yang sedang lemas, kebingungan dan terengah-engah sepeti orang yang terkena PHK ."


"Aku tidak tanya itu ."


"Aku hanya menjelaskan saja ."


"Ada ."


"Acara apa ?."


"Anak darat dan cinta yang tertukar, tapi pada akhirnya aku lebih memilih tidur ."


"Bukan itu maksudku, ok besok malam kita jalan."


"Ok, kenapa tidak ."

__ADS_1


Wina pun kembali duduk, dengan ekspresi wajah terkena muntaber, sungguh untuk urusan psikologi wanita itu sangatlah rumit, mungkin hanya tuhan dan wanita itu sendiri yang tahu.


Tanpa di sadari jam kerja sudah selesai, sebagian karyawan sudah pergi meninggalkan tempat kerja mereka, termasuk Wina yang dengan terburu-buru pergi tanpa mengucapkan apa pun, hanya meninggalkan pesan singkat lewat ponselnya .


Dan saat ini aku berada di ujung sebuah pilihan, dimana sebuah surat yang aku pegang akan mengubah sebagian dari kehidupanku ini,


Ketukan pelan di depan pintu ruang manager, dengan jawaban lembut sedikit merdu,


"Masuk .."


Di dalam ruangan ini hanya ada tiga kehidupan yang masih tersisa, seorang wanita cantik dengan umur dua tahun di atasku, karyawan tetap dengan wajah murung meratapi masa depan yaitu aku dan seekor ikan mas koi di dalam akuarium yang cuma bisa melongo, aku bisa merasakan suasana hati ibu Zufa terbilang baik, sedikit senyum yang dia perlihatkan menunjukan kalau di saat ini semua akan berjalan lancar .


"Oh, pak Fariz apa yang bisa saya bantu ."


"Ibu Zufa, tolong berhenti memanggil saya pak, saya baru 21 tahun, bahkan belum menikah, jika di pangil pak entah kenapa hati saya sakit ."


Wanita itu adalah kepala bagian marketing, cantik, cerdas, berpendidikan tinggi, beraura feminim dan cantik, aku akui ibu manager kami cantik bukan buatan walau terkadang, jika sedang memiliki masalah, tidak ada satu orang pun bisa lolos dari omelannya, bahkan aku pernah melihat direktur pun pernah terdiam mendengar perkataannya .


Dia di akui oleh semua pimpinan tentang kecerdasan dan semua prospek yang dia miliki, bahkan di umurnya yang masih 23 tahun ibu Zufa menjadi bagian penting dalam roda perusahaan .


"Apa yang bisa saya bantu Fariz."


"Saya ingin mengajukan ....pengunduran diri ."


"Tunggu apa saya tidak salah dengar." Zufa kembali bertanya dengan wajah bingung dan juga terkejut.

__ADS_1


"Tidak sama sekali, aku ingin resign."


__ADS_2