STUPID CLASS

STUPID CLASS
Desa


__ADS_3

Langkah kaki perlahan memasuki jalan setapak dengan hamparan sawah dan pohon Cemara di sebelah kiri dan kanan, suasana damai tanpa suara bising klakson saling bersautan tidak akan pernah di temukan dalam Desa ku ini.


Empat tahun, ya itu waktu yang cukup lama pergi dari desa untuk mencari kehidupan dalam lingkaran siklus kebutuhan dan penghasilan di perusahaan entah milik siapa.


Aku tidak menganggap bahwa itu adalah sebuah kesalahan, segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki makna dan arti untuk kita pahami, hingga memang aku sadar, bahwa masa terindah bagi manusia adalah masa-masa sekolah.


Aku, Sano, Woro, Cayo atau pun Suro, semua memiliki impian, cita-cita, keinginan dan tujuan, ketika di masa itu, kami begitu percaya dengan masa depan untuk hidup yang lebih baik, mendapat segala hal dari perjuangan dan menikmati hasil penuh rasa bangga.


Para pemuda yang polos, bodoh, percaya diri, sangat berantusias, dan tidak tahu apa pun mengenai kota Jakarta. Walau pada akhirnya aku tidak tahu tentang kabar semua teman-teman ku yang melangkah di jalan berbeda untuk tujuan masing-masing.


Dengan sedikit berat ransel yang penuh dengan keperluanku, langkah kaki di jalan aspal penuh berbatu ini semakin terasa melelahkan ketika pergelangan siku sudah merasakan sakit karena terlalu lama membawa beban berat, sejak tadi rasa panas matahari tepat di atas kepalaku, membakar kuit dan melelehkan minyak rambut merek terkenal hingga membasahi dahiku ini, walau pun begitu setelah masuk ke sebuah gapura di jalan setapak, semilir angin yang sekedar lewat dari utara membawa sedikit kesejukan aroma pohon cemara yang berderet di pinggiran jalan , aku kenal sekali aroma cemara di siang hari seperti ini.

__ADS_1


'Ini sama seperti dulu, tidak berubah .' Sedikit aku bergumam,


Saat melihat sekelilingku, tanpa sadar terlintas seorang anak SD dengan pakaian merah putih dan ransel kecil bergambar super hero yang sedang trend saat ini, langkah kaki kecil berbalut sepatu baru dan senyum cerianya, di sampingnya seorang anak lelaki yang tingginya hanya berbeda beberapa centimeter saja, saling berbincang tentang kartun pagi hari yang kemarin dilihatnya, tentu anak SD hanya akan membicarakan hal kesukaan mereka.


Bukan tentang masalah pemerintah yang selalu memikirkan naik turun ekonomi yang pada akhirnya tidak di perdulikan sama sekali atau pun masalah percintaan yang membuat galau karena cemburu melihat dua cicak bermesraan, kedua anak kecil itu melintas di wajah cerianya dan membuatku iri, mengingat aku yang dulu mungkin sama seperti mereka berdua, masih bisa tersenyum ceria walau itu sebatas melihat film power rangers berhasil mengalahkan musuh, aku menghela nafas, menggeleng dan menghembuskan kembali.


"Sungguh aku iri." Gumam aku,


Masih di dalam perjalananku yang baru saja terhenti setelah melihat warung pinggir jalan yang menyediakan minuman dingin membuat leherku gatal, menghitung uang receh di dalam kantong, ada empat ribu lima ratus dari lembaran dua dan sisanya logam putih bergambar bunga, mengambil satu botol air bersoda dan menunggu sang penjaga warung datang,


Sebuah warung tanpa ada penjaganya, seperti ini sangat jarang bahkan tidak pernah ada di jakarta, karena pastinya setelah di tinggal pergi beberapa menit saja mungkin separuh barang dagangan sudah lenyap di curi orang.

__ADS_1


Tapi di desa seperti ini semua orang masih menanamkan kejujuran, tidak mungkin ada orang yang tega mengambil barang orang lain tanpa membayarkannya, sungguh perbedaan yang sangat berbeda jauh, termasuk juga barang dagangannya, sekian lama menunggu tanpa ada yang mendengar panggilanku, aku sudah merasa haus dan langsung saja meminumnya.


"Apa yang kau lakukan ." Suara wanita dari belakangku.


"Aku mau ....." Belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, wanita itu tampak terkejut,


"Kau mau mencuri yah, "


"Tidak, tidak ." Aku terkejut bukan main, bagaimana tidak, untuk seorang lelaki yang tidak tahu menahu tentang kehidupan di desa ini, langsung mendapatkan sambutan hangat dengan di tuduh sebagai pencuri,


"Terus di tanganmu itu apa ."

__ADS_1


"Ah ini minuman yang aku ambil di kulkas ini ." Jawaku begitu saja.


__ADS_2