
Hukum Newton adalah hukum yang menggambarkan hubungan antara gaya yang bekerja pada suatu benda dan gerak yang disebabkannya. Hukum Gerak Newton menjadi hukum dasar dinamika dengan merumuskan pengaruh gaya terhadap perubahan gerak benda. Rumusan ini lantas dikenal luas sebagai Hukum Newton I, Hukum Newton II, dan Hukum Newton III.
Bacakan bunyi hukum Newton 1 :
jawaban Woro Asmoro : Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.
komentar guru : contohnya.
Jawaban Woro Asmoro : Cinta, ketika dua manusia tidak akan saling mengenal satu sama lain jika hanya diam, tapi ketika satu orang mencoba menjalin hubungan maka akan ada yang berubah.
komentar guru : Pergi kau !, Sekarang kau Fariz bunyi hukum Newton 2.
Jawaban Fariz Anfal :Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan atau bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya benda.
Komentar guru : contohnya.
Jawaban Fariz Anfal : Cinta, ketika cinta dua manusia yang begitu besar membawa mereka melaju ke pelaminan, tapi tiba-tiba masalah dari masa lalu datang dan membuat rencana mereka berhenti. rasa sakit itulah yang bisa mereka rasakan.
komentar guru : Di sebelah ruang guru, dekat toilet ada ruangan bernama UKS, kau tentu tahu apa guna UKS, tapi bapak tidak menyuruhmu ke sana. bisa tidak sekarang kau pergi ke toilet dan siram dirimu sendiri sampai tidak ada sisa. selanjutnya Sano Setio aji Pangestu hukum Newton 3.
jawaban Sano : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah.
komentar guru : jika kau asal memberikan contoh, bapak suruh kau tidur di lapangan, sampai lapangan itu pindah sendiri.
Jawaban Sano Setio aji Pangestu : senapan yang ditembakkan mengakibatkan peluru terdorong keluar dari senapan. Selain itu, gaya bahan bakar roket menyebabkan roket terdorong ke atas dan terbang ke angkasa.
komentar guru : bagus untuk ini kau bisa memberi contoh yang benar.
balasan Sano : lagian konsekuensinya gak kira-kira, sejak kapan sekolah kita punya lapangan, masa gua harus pergi ke kampung sebelah cuma buat tiduran.
********
Ini seperti biasa, waktu saat pulang sekolah, aku dengan kedua temanku, Sano dan Suro, berjalan di sekitar jalan trotoar dengan suasana panas yang begitu membakar kulit, tentu matahari seperti tepat di atas kepalaku, walau jam di ponsel sudah menunjukan pukul 2 siang,
"Apa kalian tidak haus, " Bertanya aku kepada kedua temanku ini, karena aku sendiri sudah tersiksa dengan teriknya matahari yang membuatku dehidrasi,
"Untuk apa haus, aku masih memiliki semangat, bahkan jika harus berjalan jongkok sampai rumah ."
Tentu jawaban Suro dengan semangatnya, walau aku sudah muak untuk mendengar tentang semangatnya itu,
__ADS_1
"Harusnya gua nggak nanya ama loe Ro ."
Sedangkan, Sano yang sudah sempoyongan untuk berjalan tegap sudah tidak bisa, tapi dengan sisa tenaganya seperti ingin mengibarkan bendera putih dan aku sendiri pun sama seperti Sano, kepalaku pusing bahkan aku seperti bisa meminum air sungai sekali pun jika tidak ada warung minuman di sini, tapi sekitar seratus meter dari tempat kami, aku seperti melihat oasis di tengah padang gurun, walau itu sekedar warung pinggir jalan dengan lemari es di depannya, kami bertiga berlari sekencang mungkin, sampai melupakan rasa lemas kami dan langsung membuka lemari Esnya, merasakan ke sejukan datang menyelimuti kami bertiga,
"Sejuknya, "
"Ya, kau benar, "
"Aku setuju ."
Ya kami semua seperti memiliki pikiran yang sama,
"Oi, kalau mau beli jangan cuma berdiri di depan lemari es, itu mengakibatkan pemanasan global" Kata bapak penjaga warung dengan melihat kami kesal, padahal dia sendiri tidak tahu soal pemanasan global dan juga tidak ada hubungannya antara kami bertiga yang berdiri di depan lemari es dengan pemanasan global karena sama, kami pun tidak tahu,
Selagi kami memilih minuman dingin, Sano mengajakku berbicara,
"Hei Riz apa loe tahu, di sekitar sini sering terjadi penjamretan ." kata Sano saat mengambil minuman lemon bersoda,
"Kalau memang benar mungkin kita harus beraksi, " kata aku memandangnya serius,
"Apa maksud loe dengan beraksi, " Kata sano melihatku aneh,
"Aku tidak ingin mendengar perkataan itu dari loe Riz ." Kata sano dengan lemasnya,
"tapi Itu benar, sebagai pemuda bangsa indonesia harus semangat ." Jawab Suro dengan mata berapi api,
Saat Sano akan membayar minuman yang sudah di teguknya, seseorang dengan sepeda menyenggolnya di belakang, sedikit aneh memang jika ada seorang yang menyenggol Sano sedangkan jalan masih lebar,
"Oi, kemana dompet gua "
Sano terlihat begitu bingung, dengan mengecek setiap kantong di seluruh bajunya,
"Itu dia jambretnya ." Teriak sano yang langsung berlari mengejarnya, di ikuti kami berdua,
Tapi karena jamret itu menggunakan sepeda, apa daya semangat lari kami sudah lenyap dalam beberapa ratus meter setelah mengejarnya, termasuk Suro yang tampak lemas karena panasnya siang hari ini,
"Oi lihat, ada yang punya sepeda, "Teriak Sano melihat seorang murid dari sekolah lain yang sedang duduk di bangku jalan,
Tentu kami bertiga langsung mendekat, tapi orang yang melihat kami mendekat dengan nafas memburu tampak ketakutan,
__ADS_1
"Maaf kawan, boleh gua pinjam sepedanya, gua ingin mengejar jamret ." Kata Sano dengan wajahnya menakutkan,
"Ah, boleh kok ." jawabnya yang mungkin takut karena melihat kami,
Dengan persiapan yang gagah dan kuda kuda untuk menggenjot sepedanya, Sano sudah bersiap mengejar seperti penunggang kuda kerajaan inggris,
"Ayoooo." Teriak sano, tapi baru beberapa meter tubuhnya oleng dan terjatuh,
"Oi, loe tidak bisa naik sepeda rupanya ." Teriak aku sedikit kesal karena aku tadi sempat terkagum melihat aksinya,
"Jangan menyerah, aku akan membantumu dari belakang, " Teriak suro yang menjaga bagian belakang sepeda dan sano bersiap lagi untuk menggenjotnya,
Beberapa meter Sano terjatuh lagi,
"Jangan menyerah ."
Sekali lagi dan Sano terjatuh kembali,
"Masih belum, semangat semangat, " Teriakan suro membuat sano lebih semangat,
Tapi tetap saja Sano terjatuh lagi dan lagi,
karena terlalu banyak teriakan dan tetap sano terjatuh, aku sudah lupa berapa kali sano terjatuh dari sepedanya, matahari sudah tergelincir ke arah barat, jam di ponsel sudah menunjukan pukul Lima sore, dan kami berempat termasuk murid dari sekolah lain itu masih menyemangati sano untuk terus mencobanya,
"Baik, gua sudah siap ." setelah menggenjot sepedanya, Tiga meter terlewati dan sano tampak sudah lancar dengan sepedanya, terus berjalan, dan terus berjalan, dengan semangat pantang menyerah dari sano, akhirnya sano berhasil melaju dengan lancar dengan sepedanya,
"Loe bisa sano, " teriak aku melihatnya begitu senang,
"ya gua bisa, hore." Teriaknya dengan gembira,
"Akhirnya, semangat sano ." Teriakan dari suro membuat sano melaju kencang,
"Jangan cepat, cepat, kami bisa ketinggalan, " Kata aku dengan sano yang begitu menikmati bersepedanya dengan susah payah,
Berlari kami bertiga dengan murid sekolah lain yang juga tampak senang melihat Sano berhasil menaiki sepedanya,
"Sepertinya ada yang kami lupakan, tapi biarlah."
Dan pada akhirnya tidak ada yang mengetahui tujuan awal dari kisah ini.
__ADS_1