STUPID CLASS

STUPID CLASS
Flashback


__ADS_3

Saat itu aku masih baru di kelas 1 listrik 2, termasuk hari pertama sebagai siswa SMK, dengan seragam putih abu abu yang baru jadi dari toko penjahit, aroma menyengat dari wangi parfum murahan dan potongan rambut cepak 321, aku sedikit berharap akan mendapatkan beberapa teman baru yang mungkin mengubah kebosananku dari kehidupan ini,


Berawal dari pertemuanku sebelum masuk kelas, lebih tepatnya berada di depan gerbang sekolah,


Sedikit canggung saat melihat beberapa wajah baru yang saling berbincang dengan teman baru mereka sendiri, dengan lebih banyak diam dan memikirkan bagaimana bosannya aku di masa sekolahku saat SMP,


"Yo kawan perkenalkan ...." ucap seseorang yang muncul tepat di belakang.


Aku menunggu perkataan itu, dia yang menepuk pundakku dari belakang, membuatku sedikit gugup karena akan berbicara kepada seseorang yang tidak aku kenal,


"Ya, perkenalkan juga ......."


Dan saat aku melihatnya, sosok yang begitu samar bahkan tidak pernah jelas saat mengekspresikan wajahnya, tampak terkejut saat saling melihat,


"Riz, "


"Loe Sano ."


"Kenapa loe di sini ."


"Harusnya gua yang tanya sama loe Riz ."


Dia sano yang sama terkejutnya saat melihatku, tentu yang aku rasakan bukan sebuah kebahagiaan karena teman satu SMP menjadi satu kelas di sekolahku yang baru, tapi lebih ke rasa kecewa karena melihat wajah yang membuatku kesal,


"Kenapa gua harus satu kelas sama loe "

__ADS_1


"Bukan gua doang di sini, "


Perkataan Sano memberikan pertanda sebuah masalah di mana akan datang badai di hariku yang cerah saat menikmati masa SMK di sekolah ini, dan itu di buktikan ketika seorang berbadan sedikit gemuk masuk dengan bergaya layaknya vokalis band memasuki panggung,


"Oi semuanya, "


Teriak woro yang langsung bergaya di depan kelas, walau setiap mata melihatnya, mereka langsung memalingkan wajah dan menganggap Woro itu seperti angin saja,


"Ro sini ."


Teriak Sano yang melambai memanggil woro untuk mendekat dan ketika dia mendekat aku mendengar perkataan kecewanya,


"Kenapa gua satu kelas sama loe lagi No, " Kata Woro yang kecewa dengan kenyataan di terima olehnya,


"Loe juga di kelas ini riz, "


Terkejutnya woro sungguh membuatku kesal, dan melihat kedua temanku ini aku sempat berfikir kalau aku tidak merasa seperti sudah SMK,


"Tapi loe pada inget sama Naru ?."


"Ah, memangnya napa Ro ."


"Dia juga di kelas ini No ."


"Benarkah ."

__ADS_1


"Benarkah ."


Aku pun ikut terkejut karena sudah sangat jarang aku bertemu dengannya,


"Tuh ..."


Woro menunjuk ke arah seorang pria yang hanya duduk terdiam di bangku paling depan dan aku melihat seorang lainnya di sampingnya yang begitu bersemangat saat mengobrol bersama dengan Naru, walau pun begitu bersemangatnya orang yang terus bercerita, wajah Naru terlihat seperti menahan mulesnya karena terus mendengar ocehan temannya itu,


"Entah kenapa naru selalu saja mendapatkan kesialan di kehidupannya, " kata aku sedikit kasihan melihat wajahnya dari jauh,


"Ya dia tidak berubah ."


Entah kenapa di balik pertemuan ini aku merasa sesuatu yang sedikit menarik akan terjadi setelah melihat berbagai jenis manusia yang memiliki penyakit kepribadian menyusahkan berkumpul di satu ekosistem.


Woro Asmoro yang penuh percaya diri bahkan sampai bertumpuk di dalam kepala, seakan dunia berputar di sekitarnya. Sano Setio aji Pangestu yang hidup penuh harapan untuk sekedar mencari cinta, kemalangan tanpa akhir dan selalu di tolak.


Naru Udin, lelaki polos, jujur, dan baik hati, tapi semua yang menjadi sifat orang baik-baik berbalik membuat kehidupannya semakin susah. Cayo Alata, lelaki dengan masa depan suram, tidak tahu aturan main, seenaknya sendiri dan tulalit, jangan berharap apapun untuk lelaki satu ini.


Suro, sosok egois penuh semangat, jiwa muda membara, dan hidup dengan segala perjuangan yang dia buat sendiri, hingga orang lain harus ikut kena imbasnya. Sedangkan untukku sendiri, ingin aku bilang, lelaki tampan, cerdas, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan bersahaja, tapi jika aku katakan itu semua maka hanya akan membuat konspirasi.


Tapi bisa aku bilang, aku bukan orang yang bodoh-bodoh amat, paling tidak masih lebih baik dari Woro, Cayo atau pun Sano, karena nilai KKM di setiap mata pelajaran ku masih di atas rata-rata.


hanya saja, satu masalah yang membuatku lebih memilih menjadi orang biasa saja, tanpa menunjukkan diri sebagai murid cerdas di mata para guru, terkadang kita perlu mengikuti alur dari orang-orang bodoh, agar bisa melihat bagaimana kehidupanku semakin menarik.


karena selama ini, aku menyadari sesuatu dimana kehidupan dalam masyarakat, seorang manusia selalu dipandang dalam lingkaran 'nilai' dan 'prestasi', tanpa kedua hal itu seakan tidak pernah di harapkan. aku tidak menyukai cara mereka dan ini adalah hidup yang aku jalani dengan caraku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2