
Arabela masih sibuk tertawa terbahak bahak, sedangkan Ciko kini telah menemukan ide briliant supaya bisa menyadarkan Arabela, tunggu koq menyadarkan sebenernya Arabela tidak pingsan, mungkin lebih tepatnya supaya Arabela mendengar omongan Ciko.
Ciko menjalankan aksinya yaitu menepuk bahunya Arabela yang masih sibuk dan asyik tertawa terbahak bahak, sementara Arabela yang merasakan ada yang menepuk bahunya langsung mencoba meredam tawanya namun tak bisa, sehingga kini Arabela tertawa kecil sambil menengok ke arah sumber tangan yang tadi menepuk pundaknya.
Ciko menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, karena kini Arabela menatapnya walaupun masih dengan tawa yang kecil, namun sepertinya tidak masalah yang penting bagi Ciko, Arabela menyadari kehadiran dirinya di situ.
"Papa ngapain nepuk bahu aku, jangan bilang aku di kira mama terus papa menepuk bahu aku, karena papa ingin meminta jatah ke mama" tuduh Arabela sambil menatap penuh selidik ke arah Ciko, bahkan kini Arabela sudah tak mengeluarkan tawanya, entah tawa kecil atau tawa terbahak bahak, sedangkan Ciko yang mendengar tuduhan Arabela membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
"Arabela kamu apa apaan sih menuduh papa sembarangan, papa itu ngga menuduh kamu mama kamu, karena kamu beda jauh dengan mama kamu, kalau mama kamu ngga pernah tertawa keras kayak gitu, sementara kamu seenak jidatnya kamu tertawa keras bahkan dengan porsi yang lama, papa kalau mau minta jatah ke mama kamu bukan gitu caranya tapi langsung bicara ke intinya" oceh Ciko sambil menatap nyalang ke arah Arabela sedangkan Arabela mengerucutkan bibirnya lima ratus centi ke depan.
"Terus ngapain papa menepuk bahu aku, bikin aku heran tahu ngga dengan kelakuan papa" ucap Arabela sambil memicingkan satu mata ke arah Ciko, sementara Ciko mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, membuat Arabela menautkan kedua alisnya semakin heran.
__ADS_1
"Arabela papa menepuk bahu kamu itu dengan banyak tujuan, tapi papa senang karena tujuan papa terlaksana, ternyata" perkataan Ciko belum selesai namun sengaja di potong oleh Arabela.
"Memang apa tujuan papa menepuk bahu aku ?" tanya Arabela sambil menatap ke arah Ciko dengan wajah yang di penuhi dan di selimuti banyak tanda tanya, sementara Ciko mengeluarkan senyum licik.
"Tujuan papa menepuk bahu kamu itu supaya kamu berhenti tertawa terbahak bahak Arabela, karena gara gara suara kamu gendang telinga papa hampir saja rusak, dan ternyata cara papa menepuk bahu kamu terbukti bisa menghentikan tawa kamu yang dari" lagi dan lagi perkataan Ciko belum selesai sudah di potong oleh Arabela.
"Oh jadi papa menepuk bahu aku cuma supaya aku berhenti tertawa terbahak bahak, papa jahat banget deh, anak lagi bahagia makanya tertawa terbahak bahak kenapa malah papa menghentikan tawa aku anakmu yang sedang berbahagia ini, kelakuan papa bakal aku aduin ke mama, supaya papa ngga dapat jatah dari mama" ancam Arabela dengan nada ketus sambil melototkan kedua matanya ke arah Ciko, sedangkan kedua matanya Ciko terbelalak lebar dengan mulut menganga.
Sungguh Ciko bingung kalau seandainya Arabela benar benar mengadukan perbuatannya kepada Cintya sang istri, di jamin sang istri tidak akan memberikan jatah ke Ciko, sehingga kini Ciko memutar otaknya untuk berpikir keras mencari alasan yang tepat buat Arabela, lebih tepatnya Ciko sedang memaksa otaknya supaya Ciko tetap mendapatkan jatah dari Cintya.
Setelah Ciko memaksa otaknya untuk berpikir, kini Ciko telah menemukan alasan mengapa dirinya menepuk bahu Arabela, karena kalau alasan Ciko hanya supaya Arabela berhenti tertawa terbahak bahak, di jamin Ciko akan mendapat ancaman dari sang istri tidak akan mendapatkan jatah, jika Arabela mengadukan perbuatan Ciko ke Cintya.
"Arabela sebenarnya papa menepuk bahu kamu, tujuannya bukan hanya menghentikan tawa kamu saja, tapi ada alasan lain yang mengharuskan papa melakukan" karena Arabela tidak sabar dirinya langsung memotong perkataan Ciko.
"Apa tujuan papa menepuk bahu aku, buruan katakan alasannya secepatnya, jangan berbelit belit dan muter muter dong papa" pinta Arabela dengan nada setengah berteriak sedangkan Ciko menatap tajam ke arah Arabela.
__ADS_1
Sungguh Ciko emosi dengan kelakuan Arabela yang dari tadi memotong perkataan dirinya, ingin sekali Ciko menjambak rambutnya Arabela, namun Ciko takut melakukan itu, bukan takut kepada Arabela namun Ciko takut kepada Cintya, jika Arabela mengadu ke Cintya istri Ciko pasti Cintya akan marah besar, bahkan imbasnya Ciko bisa tidak mendapatkan jatah dari Cintya.
"Arabela papa juga mau jelaskan alasan papa menepuk bahu kamu, lagian kamu hobi banget memotong pembicaraan papa, kalau mau memotong mending potong tuh ayam, atau sapi, atau bebek buat lauk pauk enak rasanya, di banding kalau kamu memotong pembicaraan informasi yang kamu dapat ngga full gara gara di potong oleh kamu" jelas Ciko sambil menaikkan suaranya sampai ratusan milyar, sedangkan Arabela yang mendengar ocehan Ciko langsung mencebikkan bibirnya.
"Katanya papa mau jelaskan alasan papa menepuk bahu aku, kenapa malah papa cuma nyerocos terus ngga jelaskan apa apa ke aku, buruan papa jelaskan ke aku alasan papa menepuk bahu aku" teriak Arabela dengan sangat keras dan sangat kencang, sambil matanya Arabela menatap nyalang ke Ciko, sedangkan Ciko mendelik ke arah Arabela.
"Oke papa jelaskan sekarang juga, asal kamu jangan potong kata kata papa, supaya papa ngga capek bolak balik jelaskan dari awal" teriak Ciko dengan suara yang lebih keras dan lebih kencang dari suara teriakan Arabela, sementara Arabela melototkan kedua matanya ke arah Ciko.
"Buruan papa jelaskan ke aku" lagi dan lagi Arabela teriak dengan suara yang lebih keras dan lebih kencang dari suara teriakan Ciko tadi.
"Arabela alasan papa menepuk bahu kamu itu papa haus, jadi tolong ambilkan minum buat papa" jelas Ciko tak sepenuhnya berbohong, memang tadi Ciko berniat menyuruh Arabela mengambilkan minuman buat Ciko, sementara Arabela yang mendengar perkataan Ciko langsung membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
"Papa sedang nyuruh aku ? lagian kalau papa haus tinggal papa ambil sendiri minumannya, kenapa malah menyuruh aku" teriak Arabela dengan sangat keras dan sangat kencang, sambil mendelik ke Ciko, sementara Ciko menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Ciko sedang memikirkan alasan kenapa Ciko menyuruh Arabela mengambilkan minuman, setelah Ciko berpikir selama beberapa jam kelamaan dong, maksudnya setelah berpikir selama beberapa menit, kini Ciko telah menemukan alasan yang tepat.
__ADS_1