Suami Aku Kaya Harta

Suami Aku Kaya Harta
Sudah Tua Jadi Pikun


__ADS_3

Crist kini langsung memasang wajah panik dan cemas, sehingga tak ada tawa yang menghiasi wajahnya, entah kenapa tawa itu lenyap begitu saja, setelah Crist mendengar bentakan Ciko.


Bukan hanya karena bentakan Ciko tapi Crist juga teringat bahwa sang mama alias istri dari Ciko itu di culik oleh penculik, dan Ciko meminta bantuan Crist untuk mencari penculik sang mama alias istri Ciko, sehingga kini Crist langsung tersadar dan teringat semua tujuan Ciko masuk ke kamarnya.


Ciko mengulum senyum tipis di bibirnya, bagaimana tidak senyum karena Crist sudah berhenti tertawa, bahkan muka Crist sekarang terlihat serius tidak seperti tadi, hal itu membuat Ciko tersenyum tipis.


"Ayo papa kita berdua berangkat sekarang" ajak Crist sambil menatap Ciko sekilas, lalu Crist tanpa menunggu jawaban Ciko langsung berjalan ke arah halaman rumah, sedangkan Ciko langsung menaikkan satu alisnya ke atas lalu berkata.


"Crist memang kita berdua mau kemana ?" tanya Ciko dengan raut wajah bingung sambil menatap punggung Crist yang sedang berjalan, Crist yang mendengar suara sang papa langsung menghentikan langkah kakinya, bukan hanya itu saja tapi Crist langsung menatap ke arah Ciko.


"Papa lupa atau pikun, maklum aku baru ingat papa sudah tua jadi pikun, kita berdua mau cari mama alias istri papa sekalian mencari penculik yang menculik mama alias istri papa" sahut Crist sambil menatap tajam ke arah Ciko, sedangkan Ciko membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.


Sungguh Ciko tak terima di katakan kalau Ciko itu pikun, sehingga sedetik kemudian Ciko langsung melototkan kedua matanya ke arah Crist, kini Ciko sangat tersulut emosi mendengar perkataan Crist.


"Crist papa itu ngga pelupa dan ngga pikun, buktinya papa masih ingat kalau kamu anak papa, jadi kamu jangan menuduh papa sembarangan, makanya kalau ngomong yang jelas ngga usah di singkat kayak tadi bikin bingung" ketus Ciko sambil tetap melototkan kedua matanya ke arah Crist, sementara Crist memutar bola matanya malas.


"Terserah apa kata papa yang penting papa bahagia, ayo buruan papa kita berdua cari mama alias istri papa jangan banyak drama kayak sinetron saja" ajak Crist dengan nada ketus lalu bersiap untuk melangkah menuju ke halaman rumah.

__ADS_1


Namun Crist belum sempat melangkahkan kakinya terdengar suara yang tidak asing di telinganya, sehingga Crist mengurungkan niatnya untuk melangkah ke halaman rumah.


"Iya dong kamu sebagai anak harus membahagiakan papa, sebaiknya kita berdua jangan cari mama kamu alias istri papa sekarang soalnya papa lagi menunggu Arabela mengambilkan minuman buat papa, soalnya papa haus jadi minum dulu nanti" jelas Ciko panjang lebar melebihi panjangnya rel kereta api, sementara Crist tersenyum kecut mendengar omongan Ciko.


Arabela yang telah melangkah selama beberapa puluh tahun kelamaan dong, maksudnya setelah Arabela melangkah selama beberapa puluh menit, kini Arabela telah sampai di dapur, lalu Arabela melangkah menuju ke kulkas.


Cintya yang sedang sibuk menyiapkan lauk pauk ke dalam mangkok, langsung menoleh ke arah sumber suara, karena Cintya mendengar suara langkah kaki yang mendekat, ternyata itu adalah langkah kakinya Arabela, kini Cintya menatap ke arah Arabela lalu berucap.


"Arabela kamu mau ngapain ke sini ?" tanya Cintya sambil menatap Arabela, sedangkan Arabela yang sudah ada di depan kulkas langsung menoleh ke arah sumber suara yaitu Cintya.


Setelah minuman tersebut ada di tangan Arabela, kini Arabela langsung menutup pintu kulkas, setelah pintu kulkas tertutup, dan Arabela hendak melangkah menuju ke ruangan dimana Ciko berada, Arabela seperti merasakan keanehan.


Cintya yang telah mendengar jawaban dari Arabela, kini Cintya melanjutkan kegiatannya yaitu meletakkan lauk pauk ke mangkok, kini Arabela menatap ke arah Cintya, sedetik kemudian Arabela berkata.


"Mama tahu ngga koq perasaan aku ada yang aneh tapi apa ya mama tahu ngga ?" tanya Arabela sambil menatap lekat ke arah Cintya, sedangkan Cintya langsung menoleh ke arah Arabela sambil memicingkan satu matanya.


"Arabela perasaan kamu ada yang aneh apa ? atau jangan jangan kamu sudah mulai jatuh cinta ? siapa pria yang bikin perasaan kamu aneh kayak gitu ? mana mama tahu perasaan kamu aneh kenapa kan kamu belum ngomong" tanya Cintya melayangkan pertanyaan yang bertubi tubi buat Arabela, sedangkan Arabela dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil menampilkan wajah yang bersemu.

__ADS_1


Kenapa malah Cintya jadi menuduh Arabela sedang jatuh cinta, itu yang ada di otaknya sekarang, Arabela menggeleng memang perasaan yang di rasakan aneh itu bukan karena jatuh cinta, tapi karena suatu hal entah apa Arabela belum ingat.


"Ma ma mama jangan bertanya banyak banyak, bikin bingung mau jawab yang mana dulu" sahut Arabela dengan nada terbata bata, sedangkan Cintya merasa ada keanehan dalam Arabela karena untuk pertama kalinya Arabela menjawab omongan Cintya dengan nada terbata bata.


Cintya berjalan mendekat ke arah Arabela, sementara Arabela bingung apa yang membuat perasaan aneh, setelah Cintya ada di depan Arabela, kini Cintya menelisik menatap ke arah Arabela.


"Arabela kenapa kamu jawab omongan mama dengan nada terbata bata ? apa kamu mulai jatuh cinta ? tapi siapa pria yang membuatmu jatuh cinta ? ingat Arabela kamu masih kuliah dan belum wisuda jadi kamu ngga usah terlalu sering memikirkan pria yang kamu cintai" nasehat Cintya sambil menatap lekat ke arah Arabela, sedangkan Arabela langsung menganggukkan kepalanya samar.


"Mama aku sedang tidak membahas aku yang sedang jatuh cinta, tapi aku sedang bingung apa yang membuat perasaan aku aneh" celetuk Arabela sambil mencoba berpikir, sedangkan Cintya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Arabela kamu mengambilkan minuman buat papa apa karena kamu di suruh papa ? apa papa ngga mencari mama ? atau malah papa sibuk mencari mama sampai papa kehausan dan menyuruh kamu mengambil minuman ?'' cerca Cintya meloncatkan banyak pertanyaan kepada Arabela, sementara Arabela yang mendengar pertanyaan dari Cintya langsung mengingat sesuatu dan perasaan anehnya sudah terjawab sudah.


''Mama baru aku ingat kalau perasan aku itu aneh karena papa" jawab Arabela sambil menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, sementara kedua matanya Cintya langsung terbelalak lebar mendengar omongan Arabela.


Sungguh pikiran Cintya sangat ketakutan, apalagi mendengar jawaban dari Arabela, membuat Cintya berpikir bahwa Arabela mencintai papanya Arabela sendiri alias Arabela cinta kepada suami Cintya.


"Arabela maksudnya kamu itu kamu mencintai papa kamu ?'' tanya Cintya sambil menatap tajam ke arah Arabela, sedangkan Arabela membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.

__ADS_1


__ADS_2