
Arabela memutar otaknya untuk melepaskan kedua tangannya Crist yang ada di mulutnya, sementara Crist tak henti hentinya mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.
Ciko masih menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, sungguh Ciko yang tak mendengar suara Arabela dan Crist, menduga kalau Crist dan Arabela berkomunikasi lewat batin, sehingga Ciko tidak mendengar percakapan mereka berdua.
Sungguh saat ini Ciko kesal dengan kedua anaknya, bagaimana tidak kesal kalau Ciko tak di ajari berkomunikasi lewat batin, padahal Ciko menduga Crist dan Arabela bisa berkomunikasi lewat batin, bahkan sekarang sedang berkomunikasi lewat batin.
"Mmmmpppp" Arabela mengeluarkan teriakan, namun suara teriakan Arabela tidak terdengar jelas sama sekali, karena terhalangi oleh kedua tangannya Crist yang sedang menyumpal mulutnya Arabela.
"Arabela kamu ngomong apaan sih, kalau mau ngomong itu yang jelas, bukannya kamu dulu sudah di sekolahkan otomatis kamu bisa bicara dengan jelas dong" sahut Crist sembari menatap nyalang ke Arabela.
Arabela yang mendengar jawaban Crist yang tanpa dosa, membuat Arabela mendelik ke arah Crist.
Sungguh Arabela kesal dengan Crist karena menghina dirinya yang berbicara tidak jelas, padahal sumber dari Arabela yang tidak jelas saat berbicara itu Crist.
Cintya yang berjalan dengan cepat kini sudah sampai di sekitar kamarnya Crist, Cintya semakin mempercepat langkah kakinya ketika melihat bahwa sang anak bungsu sedang di sumpal mulutnya oleh tangan seseorang.
Chintya tidak begitu jelas melihat orang yang menyumpal mulutnya Arabela, karena orang itu membelakangi Cintya, namun samar samar Cintya melihat wajah dari Arabela.
__ADS_1
Sebenarnya Cintya sudah geram dan tersulit emosi melihat Arabela di perlakukan seperti itu, ingin sekali Cintya berteriak gara gara orang tersebut, namun Cintya mengurungkan niatnya.
Cintya berpikir kalau Cintya langsung berteriak, akan membuat orang yang menyumpal mulutnya Arabela pergi bahkan lari terbirit birit, untuk kabur menyelamatkan diri.
Sehingga Cintya lebih baik memilih untuk berjalan mempercepat langkah kakinya, baru setelah Cintya dekat dengan orang tersebut, Cintya akan meminta orang tersebut supaya melepaskan kedua tangannya dari mulutnya Arabela.
Saat Cintya sedang berjalan ke arah Arabela yang sedang di sumpal mulutnya oleh orang, samar samar Cintya melihat ada orang lagi di sekitar Arabela dan orang yang menyumpal mulutnya Arabela.
Sungguh Cintya semakin kesal dan tersulut emosi dengan pemandangan itu, apalagi Cintya melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ciko sedang menutup kedua telinganya Ciko, sehingga Cintya menyimpulkan bahwa Ciko membiarkan pria asing itu menyakiti Arabela, kini Cintya menambahkan kecepatan langkah kakinya mendekat ke arah Arabela dengan hati yang bergemuruh menahan emosi.
"Tuhan tolong bantu aku terlepas dari tangannya kak Crist, bukan karena tangan kak Crist bau sambal tomat, atau bau sambal terasi, tapi aku pengin bebas bicara kayak dulu lagi, awas saja kalau aku sudah bebas bicara aku bakal balas perlakuan kak Crist lebih parah dari ini" batin Arabela dengan tatapan kesal menatap ke arah Crist yang sedang tersenyum mengejek ke arah Arabela.
"Sepertinya Arabela sudah tidak teriak lagi kayak tadi, soalnya aku ngga mendengar suara teriakan Arabela, bahkan suara Arabela dan Crist juga aku ngga mendengar sama sekali, lebih baik aku buka telinga aku saja, soalnya aku penasaran Arabela dan Crist sedang bicara apaan kenapa aku ngga dengar apa yang mereka berdua obrolkan walau hanya satu kata" batin Ciko membulatkan tekad untuk membuka kedua telinganya dari tangannya.
Cintya telah sampai di sebelah Crist yang sedang memunggungi Cintya, karena perasaan yang kesal dan emosi yang di tahan, membuat Cintya langsung mengeluarkan suara teriakannya.
__ADS_1
"Lepaskan Arabela" teriak Cintya dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Ciko langsung memegang telinganya sendiri, karena heran dengan suara yang familiar di telinganya.
Crist yang mendengar teriakan Cintya dari belakang langsung mematung di tempat, dalam pikiran Crist, apakah Cintya sekarang sudah mati karena di bunuh oleh penculik yang menculik Cintya, sehingga suara tadi itu suara hantu Cintya.
Arabela tersenyum bahagia karena mendengar suara Cintya, sungguh Arabela merasa doa dirinya di ijabah oleh Tuhan.
"Bukannya tadi aku di sini cuma sama Arabela dan Crist, kenapa saat aku buka kedua telinganya aku, malah yang aku dengar bukan suara Arabela atau Crist, tapi malah yang aku dengar suara Cintya istrinya aku, perasaan telinga aku masih normal, aku ngga mungkin salah dengar, itu kayak suara istri aku bukan suara Arabela dan Crist" batin Ciko sambil memegang kedua telinganya.
"Mmmmmmmmmpppppp" suara teriakan Arabela yang tertahan oleh tangannya Crist, sementara Ciko langsung mematung di tempat, sungguh Ciko bingung bukankah tadi dia mendengar suara Cintya dengan jelas, namun kenapa sekarang yang Ciko dengar itu suara yang tidak jelas gara gara tersumpal sesuatu.
Cintya menatap ke arah Arabela yang sedang berusaha berteriak, namun suara Arabela tertahan oleh tangannya Crist, sementara Crist membuyarkan dan membubarkan semua lamunannya, yang berpikir bahwa Cintya sudah jadi hantu dan menyuruh Crist melepaskan tangannya Crist dari mulutnya Arabela.
"Saya bilang Lepaskan Arabela" teriak Cintya lebih keras dan lebih kencang dari yang tadi, sementara Crist langsung merasa ketakutan, bukan karena mendengar suara teriakan Cintya yang keras dan hampir merusak isi dunia ini, namun yang Crist takutkan itu Crist berpikir kalau Cintya sudah jadi hantu.
Ciko yang mendengar dengan sangat jelas suara teriakan Cintya, langsung membuat Ciko terlonjak kaget, dalam hatinya Ciko heran, kenapa suaranya berubah ubah, karena di hinggapi dan di selimuti rasa penasaran tingkat dewa, membuat Ciko memberanikan diri menatap ke arah sumber suara.
"Mama" gimana Ciko lirih begitu Ciko sudah melihat Cintya yang ada di depannya.
Walaupun suara Ciko sangat lirih namun masih bisa di dengar oleh Crist, sungguh Crist semakin ketakutan dengan keadaan sekarang.
Cintya yang kesal dan emosi karena pria itu tidak melepaskan tangannya dari mulut Arabela, membuat Cintya langsung melakukan kekerasan, namun sebelum melakukan kekerasan Cintya ingin mengeluarkan uneg uneg terlebih dahulu.
"Papa keterlaluan sekali kenapa membiarkan anak kita berdua di sakiti oleh pria asing, harusnya papa itu hajar pria ini yang sudah berani menyumpal mulutnya Arabela, kenapa papa hanya diam saja malah papa menutup kedua telinganya papa, oh mama tahu jangan bilang papa juga membiarkan pria asing ini memperkosa Arabela, makanya papa sampai menutup kedua telinganya papa supaya papa ngga mendengar suara teriakan dan suara erangan dari Arabela dan pria asing ini" bentak Cintya sambil melototkan kedua matanya, sementara Ciko, Crist, dan Arabela kompak membelalakkan kedua mata mereka bertiga.
__ADS_1