Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 10 OTW Bulan Madu


__ADS_3

"Aku pikir kamu belum menikah lagi Mas. Tapi aku yakin kamu masih belum move on dari aku, terbukti kamu sepuluh tahun membiarkan hidupmu dalam kesendirian," urai hati Nita penuh penyesalan dan tekad. Penyesalan karena Yara sudah menikah lagi dan bertekad bisa kembali meraih hati Yara, karena Nita pikir Yara belum bisa melupakannya meskipun tadi telah memperkenalkan perempuan muda sebagai istri barunya.


Mobil yang ditumpangi Yara dan Yila kembali keluar dari rest area daerah Cianjur, kini melaju memasuki jalan yang menuju kota Bogor. Sesekali Yara melirik Yila yang masih membenarkan baju belakangnya yang didudukinya melipat. Yila nampak gelisah, duduknya saja tidak tenang.


"Ahhh ya ampun, rupanya gadis di sampingku ini sangat pemalu dan canggung saat menghadapi aku, gimana nanti menghadapi malam pertama?" bisik hati Yara.


Dilihatnya kembali dengan ujung mata Yila yang masih gelisah. Tiba-tiba Yara ingat kejadian tadi saat di dalam mall, tepatnya di toko baju saat Nita memegangi tangannya, Yila melihat langsung kejadian tadi. Yara berharap Yila melupakan kejadian tadi dan tidak berpikiran yang tidak-tidak.


Untuk membunuh rasa canggung dan gelisah yang melanda Yila, Yara menyetel audio di dalam mobilnya. Sebuah lagu dari Pasto berjudul 'Sayang' kini diperdengarkan. Saat lirik pertama terdengar seketika debaran jantung Yara semakin berguncang, dia merasakan kembali cinta yang luar biasa pada gadis di sebelahnya setelah sepuluh tahun bergulat dengan kesendirian. Lirik lagu Pasto ini seperti sebuah ungkapan hatinya yang dalam yang kini dia rasakan mewakili isi hatinya.


"Aku takkan pernah berhenti, mencintaimu sampai aku mati. Aku akan selalu setia menemanimu setiap waktu."


Sepenggal lagu Pasto yang diperdengarkan di car audio mobil milik Yara, juga membuat Yila merasakan debaran jantung yang tidak biasa. Rasa gelisah tadi kini berubah menjadi rasa tersanjung yang tiba-tiba muncul. Yila merasa saat ini dia seolah diperhatikan dan disanjung oleh Yara. Serba salah dan rasanya ingin menyembunyikan wajah entah di mana.


Yila merasakan semakin serba salah saat Yara menatap ke arahnya dengan ujung mata. Yila tidak berani menoleh dan menatap balik, baginya Yara merupakan sosok kutub es yang bergelar suami. Dekat, tapi tidak bisa dijangkau saking dinginnya.


Sampai lagu Pasto habis, lagu itu diganti dengan sebuah lagu penyanyi lain yang tingkat menghanyutkan perasaannya lebih dalam lagi daripada lagu Pasto. Kali ini seorang penyanyi pendatang baru yang sedang viral bernama Bli Komang atau Raim Laode, menyanyikan sebuah lagu yang lebih indah dan dalam maknanya berjudul 'Sebab kau terlalu indah'. Lirik lagu ini seolah ungkapan hati Yara untuk Yila. Yila menjadi sangat tersipu malu dan perasaan hanyut oleh lagu itu.


Lagu demi lagu diperdengarkan silih berganti sehingga tidak terasa mobil Yara sudah tiba di sebuah villa milik keluarga Yara. Namun saat Yara ingin turun dan membukakan pintu, rupanya Yila tertidur sangat pulas. Terpaksa Yara membiarkan sejenak Yila tertidur di dalam mobil. Namun sampai lima menit berlalu, Yila tidak bangun juga.


Dengan berat hati Yara mencoba membangunkan Yila, menggoncang bahu Yila perlahan. Saat matanya melihat tepat di wajah Yila, alangkah terpesonanya Yara dengan ukiran sempurna di wajah Yila. Hidung yang bangir dan bibir yang tipis mungil, rasanya sudah tidak sabar ingin segera merenggut kesuciannya.

__ADS_1


"Yila, bangunlah!" ujarnya mengguncang pelan bahu Yila sekali lagi. Yila perlahan bergerak dengan menahan pinggangnya. Mungkin saja pinggang Yila terasa pegal sehingga Yila terlihat sedikit meringis saat merabanya.


"Mas Yara! Sudah sampai, Mas?" tanyanya sembari menutup mulutnya karena rasa kantuk yang masih tersisa. Air matanya tiba-tiba keluar setelah barusan nguap.


"Ayolah turun, kita sudah sampai," ajaknya sembari membuka pintu mobil untuk Yila.


"Terimakasih, Mas." Yara membiarkan Yila berjalan duluan, sedangkan dia meraih barang-barang belanjaannya.


Seorang lelaki paruh baya menghampiri dan menyapa ramah. Mungkin dia salah satu penjaga villa keluarga ini. "Silahkan Den Yara, semua sudah dipersiapkan oleh istri saya. Makan siangnya juga sudah siap," ujarnya memberitahu sembari mempersilahkan dengan telapak tangannya, sangat sopan.


"Makasih Mang Jatma. Kamar atas sudah siap?" Yara mencoba meyakinkan kembali.


"Sudah, Den. Sesuai permintaan. Mamang hampir lupa mengucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia sampai jannah," ucap Mang Jatma, penjaga villa Rosiza ini. Villa Rosiza, bisa jadi namanya diambil dari nama kedua orang tua Yara, yaitu Ibu Rosi dan Pak Riza.


Yara dibantu Mang Jatma dan Bi Ratmi membawakan barang-barang ke atas. Tiba di sebuah kamar, mereka berdua berhenti.


"Den Yara, makan siangnya apakah mau dibawakan saja ke meja makan di lantai dua ini atau mau di bawah saja?" tanya Mang meyakinkan.


"Bawakan ke sini saja, Mang," titah Yara seraya membuka pintu kamar yang akan ditempatinya selama dua malam bersama Yila.


Mang Jatma dan Bi Ratmi mengangguk patuh seraya kembali ke bawah dan bersiap membawakan makan siang ke atas, yang kebetulan di lantai atas ada ruang makan yang hanya untuk makan dan minum-minum saja, tapi tidak untuk masak.

__ADS_1


Yara masuk kamar diikuti Yila. Sikap Yila masih canggung sama seperti pertama kali. Pernikahan yang baru berjalan dua minggu ini pastinya dibumbui rasa canggung dan masih malu-malu. Itu yang dirasakan Yila.


Saat kakinya pertama kali masuk kamar, nuansa pengantin baru sangat kental terasa. Wangi melati menyeruak. Ketika melihat ranjang, Yila dan Yara disuguhkan pemandangan yang romantis. Taburan bunga mawar merah dan sepasang handuk angsa tengah bercengkrama di tengah ranjang, menambah suasana semakin romantis. Yila menatap malu, seakan dirinya kini sedang memadu kasih bersama Yara.


"Simpanlah tas kamu itu di atas meja. Jika ada benda yang kamu butuhkan tinggal ambil dan tidak mencari kemana-mana," titah Yara saat Yila masih bengong. Yila tersentak, tapi tidak membantah, Yila segera menyimpan tas itu.


"Kalau kamu mau mandi dulu, silahkan mandi dulu. Setelah mandi kita makan siang," ujar Yara lagi tanpa bantahan dari Yila. Yila segera beranjak ke kamar mandi, meninggalkan Yara yang kini menduduki ranjang pengantin bertabur bunga mawar yang wanginya menusuk hidung.


Tidak berapa lama Yila keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. Saat keluar kamar mandi, Yila merasa malu sebab di sana ada Yara yang masih duduk di atas ranjang sambil berbicara di telpon.


"Ok, ok. Siap. Aku sedang di puncak bersama istriku. Nanti pulang dari puncak aku segera pantau proyek kita." Setelah itu obrolan di telpon berhenti, sepertinya Yara menyudahi obrolannya.


Yara menatap tubuh Yila dari atas sampai bawah. Dia merasa takjub walau hanya melihat dari belakang saja. Yila terlihat sangat sempurna, gadis perawan yang pemalu ini malam nanti harus dia miliki.


Tiba-tiba Yara mendekap dan meraih bahu Yila. Jantung Yila berdebar seketika, dia sangat takut jika saat ini juga Yara akan memintanya.


"Pakailah baju ini, aku sudah menyiapkan lengkap dengan **********," ujarnya seraya menepuk bahu Yila. Tubuh Yila diputar sampai 180 derajat, dan kini tubuhnya berhadapan dengan Yara. Rasa panas langsung menyergap wajahnya, muka Yila terlihat seperti kepiting rebus.


"Ya, ampun kenapa wajah kamu merah seperti kepiting rebus? Aku tidak apa-apakan kamu, lho. Aku hanya memutar tubuhmu supaya kamu bisa melihat baju yang aku sediakan itu," ujar Yara sembari menunjuk ke arah baju yang disimpan di atas ranjang.


Yila tersenyum malu-malu dan menuju baju yang disiapkan Yara, setelah bahunya dilepaskan Yara. "Terimakasih, Mas," ucapnya sembari meraih baju yang disiapkan Yara.

__ADS_1


Yara ke kamar mandi meninggalkan Yila yang kini meraih baju yang telah disiapkannya. "Pasti dia sangat cantik dan seksi pakai baju itu," gumannya memuji sembari masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2