
Jam delapan malam, teman-teman Yara dari PT Sentosa Bersama datang menjenguk Yila. Yara menyambut bahagia kedatangan teman-temannya.
"Masuk, masuk. Kalian datang keroyokan begini malam-malam, ya ampun, mirip ke kondangan saja," canda Yara sembari mempersilahkan teman-temannya masuk. Untung saja ruang tamu rumah Yara muat lima puluh orang lebih sehingga teman-temannya yang diperkirakan hanya dua puluh orang itu muat di dalamnya.
"Kami tidak sempat kalau jenguknya siang, Ra. Lagipula teman-teman bisanya hanya jam segini, Sabtu dan Minggu giliran quality time kami bersama keluarga," kilah Rangga yang turut membawa istri dan anaknya.
"Mana istri lu, apa sudah beristirahat?" tanya Rival sembari pingak pinguk mencari istri Yara.
"Ngapain elu nyari bini gue, bini elu di samping mau di kemanain?" canda Yara lagi bikin suasana tambah riuh.
"Kampret! Ya iyalah gua nyari bini elu, gue bawa rombongan ke sini mau ngapa selain mau jenguk bini lu? Masa iya mau selingkuh?" sergah Rival gedek dengan candaan Yara. Yara yang dikenal dingin dan jutek, kini berubah kocak jika sudah bergabung dengan gengnya.
"Bini gue di ruang tengah, tadi habis makan malam. Bini kalian suruh ke dalam saja. Kalian mau ke dalam atau tetap di sini juga tidak masalah. Tapi bini gua pemalu, kalau kalian masuk semua para lelaki, bisa-bisa bini gua pingsan," sahut Yara sembari tersenyum.
"Pingsan? Memangnya kami ini monster, wajah setampan ini masih pingsan juga?"
"Sudah, tidak usah protes. Emang kenyataannya begitu, kok. Kalian memang monster, wak, wak, wak," tawa Yara mendadak mengelegar di udara. Yara seakan lepas dan bahagia saat mencandai teman-teman kantornya. Para istri akhirnya beriringan menuju ruang tengah rumah Yara. Mereka melihat Yila terbaring di sofa ruang tengah ditemani ibunya.
__ADS_1
Sehabis makan malam tadi, Yila mendadak merasakan sakit lagi di kepalanya sehingga dia harus minum obat pereda nyeri. Melihat para istri dari teman-temannya Yara datang menjenguknya, Yila bangkit dari sofa dengan wajah yang meringis menahan sakit.
"Duhhhh, kami minta maaf Mbak Yila, kedatangan kami tidak tepat malah mengganggu istirahat Mbak Yila," sesal salah satu istri dari temannya Yara.
Yila mesem, dia berusaha tersenyum seramah mungkin pada istri-istri temannya Yara meskipun sakit kepalanya masih mendera, sepertinya efek obat pereda nyeri masih belum bereaksi.
"Terimakasih atas kehadiran teman-teman sekalian, saya sangat bahagia dijenguk kalian. Semoga kalian selalu diberkahi dan umur panjang oleh Yang Maha Kuasa," ucapnya sembari tersenyum malu, sebab Yila memang tidak biasa didatangi orang sebanyak itu ke rumah.
"Sudah baringkan kembali tubuhnya Mbak Yila, kami datang ke sini hanya ingin memberikan doa supaya Mbak Yila cepat diberi kesembuhan," ujar Rani istrinya Rival sembari meraih tangan Yila dan mengusapnya.
"Iya, Bu, sama-sama. Kami juga minta maaf jika kedatangan kami membuat Mbak Yila malah terganggu," tukas Rani meminta maaf.
Akhirnya karena Yila yang terlihat sudah mengantuk karena pengaruh obat pereda nyeri, teman-teman Yara berpamitan pulang. Sebelum mereka benar-benar pulang dan meninggalkan kediaman Yara, Yara terlebih dahulu memberitakan bahwa Yila istrinya yang masih dalam masa pemulihan pasca sakit dijambak Nita, kini sedang hamil.
Semua teman-teman Yara heboh dan satu persatu memberi ucapan selamat pada Yara sekaligus mengejeknya dengan bapak tua, sebab di usia Yara yang mau 35 tahun, dia baru mau punya anak.
__ADS_1
"Bye, bye, Pak Tua. Selamat atas kehamilan istrinya. Sekarang benar-benar deh bakal jadi bapak. Tunggu sembilan bulan lagi bayi, lu. Hati-hati, jangan sampai anak elu nanti manggil elu bapak tua," guyon Rangga sembari beranjak dari teras rumah Yara menuju mobilnya.
Akhirnya satu per satu teman-temannya Yara pulang dan kembali ke rumahnya masing-masing. Yara lega atas kedatangan mereka yang kompak menjenguk Yila. Rumah Yara pun, kini kembali sepi sepeninggal teman-teman Yara yang pulang.
Sesaat setelah teman-temannya pulang, Yara sejenak menyesap rokoknya di ruang tamu sebelum membenamkan diri ke peraduan.
Yara menyudahi sesapan rokoknya, dia membereskan sisa-sisa sekar rokoknya ke asbak. Yila masuk ke dalam, saat tiba di ruang tengah, Yara melihat Yila sudah tertidur. Yara bingung ingin membangunkan Yila supaya tidurnya di kamar saja, tapi Yara kasihan jika harus membangunkan Yila.
"Mas Yara, istirahatlah. Mas Yara sepertinya sudah sangat lelah." Tiba-tiba Bu Yuli menghampiri dari arah dapur seraya menyuruh Yara istirahat saja.
"Kalau begitu, saya permisi ke kamar dulu. Ibu juga lebih baik istirahat, sejak tadi Ibu sangat sibuk menyiapkan makanan ," tukas Yara sopan.
Yara pun menaiki tangga dan tidak kembali lagi ke bawah, sebab Yila sudah ditunggu ibunya tidur di bawah.
Dua hari kemudian, Yara sudah bisa masuk kerja. Meskipun dia masih khawatir akan keadaan Yila, tapi masa cutinya sudah habis dan tidak bisa absen lagi. Yara pamit terlebih dahulu pada Bu Yuli dan Yila. Saat ingin pamit pada Yila, Yara masih melihat wajah Yila yang hanya senyum seulas yang dipaksa mengantar kepergian Yara untuk bekerja.
__ADS_1
Yara pergi dengan suasana hati yang masih gundah gulana karena sikap Yil yang masih dingin.