
Yila tidak menghiraukan Yara yang memanggilnya. Dia masih menangis sisa tadi. Inginnya dia dibiarkan seperti itu sampai rasa marah itu hilang dengan sendiri dan nanti normal kembali. Yila tidak ingin ditekan atau dipaksa seperti apa yang ibunya lakukan tadi.
Yara heran dan menghampiri Yila setelah melihat bahunya berguncang diiringi isak tangis. Yara duduk di sampingnya dengan kresek hitam di tangannya.
"Sayang kok menangis, kamu kenapa menangis? Apakah karena perut kamu mual?" tanya Yara khawatir. Yila tidak menyahut dia masih menangis.
"Sayang, aku bawakan rujak buat kamu. Ayo bangkitlah dulu, makanlah rujak ini. Ini bisa membuat rasa mualmu hilang," rayu Yara sambil membelai bahu Yila. Yila masih tidak peduli, isak tangisnya kini malah semakin pecah.
Tapi, mendengar kata rujak, Yila tiba-tiba tersentuh, sebab dari kemarin dia ingin makan rujak. Namun, karena rasa marahnya pada Yara, Yila terpaksa memendam keinginannya dalam hati.
Yara bingung ada apa dengan Yila ? Dia tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba menangis seperti itu saat dirinya pulang kerja tadi?
"Ayolah bangun sayang, dan bicaralah apa yang membuatmu sedih seperti ini?" desak Yara meraih bahu Yila dan berusaha mengangkatnya.
"Jangan sentuh, semua ini karena Mas Yara!" tudingnya tiba-tiba dan menyalahkan Yara. Yara tersentak dengan ucapan Yila yang menuduhnya.
"Ok aku minta maaf, semua ini pasti ada hubungannya dengan kejadian di Yogya sana, kan? Maafkan aku, aku memang salah, aku tidak segera mencari perempuan itu saat kamu menemukan bukti fitnahan dia," ujarnya yang hanya dibalas isakan tangis Yila yang semakin keras. Yara semakin bingung dengan sikap Yila. Akhirnya Yara membiarkan Yila menangis sepuasnya.
Beberapa hari kemudian, sikap Yila masih sama, dia masih mendiamkan Yara. Tapi tidak membuat Yara menyerah, dia terus menunjukkan perhatiannya. Bagaimanapun juga Yila begini karena Yara.
Di Kantor Yara
__ADS_1
"Ya ampun, sudah semingu berlalu tapi sikap Yila masih seperti ini, lalu aku harus apa? Tapi aku tidak boleh menyerah, sebab Yila sekarang sedang hamil. Jangan-jangan sikapnya ini pengaruh dari kehamilannya," duganya ngomong sendiri di balik meja kerjanya.
"Woyyyy, Yara, lu melamun ya, ngoceh sendiri?" tegur Rangga membuyarkan lamunan Yara yang sejak tadi kepergok Rangga ngoceh sendiri. Yara tersentak dan kaget, lalu melihat ke arah Rangga.
"Apaan, sih, lu, Ga?" Yara terlihat gugup seakan baru tersadar dari lamunan.
"Elu barusan kenapa ngoceh sendiri? Gue dengar lu lagi ngomongin bini lu."
"Ah, dasar lu tukang nguping," sergahnya malas.
"Elu pasti masih memikirkan sikap bini elu yang masih marah? Wajar dong, Ra. Dia itu lagi hamil, dan biasanya orang hamil sensitif. Jadi kita, eh elu maksudnya, harus ekstra sabar menghadapinya, terlebih bini lu baru saja kena insiden jambak rambut versus jambak baju," ujar Rangga mengungkit kembali insiden yang mengakibatkan Yila seperti itu.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti juga dia berubah dengan sendirinya. Gue melihatnya bini lu memang marah tapi sesaat saja. Tinggal elunya saja yang sabar. Jangan biarkan elu ego, sebab yang elu hadapi adalah perempuan hamil." Rangga sang teman kantor masih belum menyerah memberi semangat pada Yara.
Tiba-tiba Rival muncul saat Yara dan Rangga menyudahi obrolannya. Rival datang memberi kabar yang membuat Rangga dan Yara terkejut.
"Si Nita mengundurkan diri dari perusahaan ini, kalian belum dengar berita ini?" ujarnya dengan dengan nafas yang ngos-ngosan. Yara dan Rangga memang baru tahu berita ini, tapi Yara sudah mencium gelagat ini, sebab kemarin sore di parkiran Nita tanpa sepengetahuan teman-temannya Yara, Nita mendatanginya dan minta maaf karena dia akan keluar dari perusahaan yang baru beberapa minggu dia diterima bekerja di sini.
"*Aku mau mengundurkan diri dari perusahaan ini, aku minta maaf aku salah karena telah mengejar kamu sampai hampir saja mencelakai istri barumu. Aku juga sekarang telah menerima akibat dari semua ulahku. Aku dimarahi keluargaku, lalu mantan suamiku mengambil hak asuh anak yang selama ini aku perjuangkan. Aku benar-benar minta maaf, Yara. Mungkin ini balasan buat aku yang sudah zolim sama kalian, kamu dan istri kamu*." Tanpa kata, Yara memasuki mobilnya sesaat setelah Nita menceritakan niat dan sekelumit kisah hidupnya yang sejak kejadian jambak rambut versus jambak baju viral di media sosial.
__ADS_1
"*Yaraaa, satu kata maaf darimu akan melapangkan hidupku. Aku sudah menerima konsekuensi dari semua yang telah aku perbuat*," teriak Nita saat mobil Yara mulai melaju meninggalkan parkiran kantor. Nita terduduk dan menangis di sana. Nita benar-benar menyesal, akibat keserakahannya ingin merebut kembali Yara dari kehidupan barunya, kini dia menerima akibatnaya.
"Yaraa, lu tidak sedang melamun, bukan? Bukankah ini kabar gembira buat elu dan kita semua?" tanya Rival mengagetkan Yara yang lagi-lagi melamun.
"Gue biasa-biasa saja, biarkan itu mengalir apa adanya bagai air, gue tidak mau euforia merayakan nasib buruk orang lain. Bisa saja dia mengundurkan diri untuk mencari tempat yang lebih nyaman," sahut Yara datar.
Rangga dan Rival saling tatap, lalu menepuk-nepuk bahu Yara menyemangati keputusannya.
Sementara itu di kediaman Yara, saat itu suasana sangat cerah. Yila yang baru saja mandi siang dan berdandan sangat cantik duduk santai di teras rumah sambil menikmati semangkok rujak dan jus jambu biji merah, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya.
Yila mendongak disusul sang ibu mertua dari dalam rumah yang kebetulan siang itu datang membawa rujak dan membikinkan jus jambu merah biji untuknya.
"Mobil siapa itu Neng?" tanyanya pada Yila dengan memanggil Neng seperti biasanya.
"Yila juga belum tahu, Bu. Sepertinya orang yang mau menanyakan jalan atau apa. Kita lihat saja apakah orang di dalam mobil itu turun dan menanyakan sesuatu."
"Mencurigakan nggak, ya, itu orang, Ibu takut orang jahat," cemasnya sambil menatap keluar pagar yang hanya tingginya satu meter.
"Semoga saja bukan, Bu," harap Yila sembari menatap ke arah depan. Saat keduanya fokus menatap ke depan pagar rumahnya, Yila dan Bu Rosi sama terkejutnya, sebab yang mereka lihat adalah orang yang mereka kenal. Lalu Yila dan Bu Rosi saling lempar pandang, mereka menyiapkan diri dari kemungkinan buruk yang akan dilakukan dua orang tersebut. Siapakah dua orang tersebut?
__ADS_1