
Setibanya di rumah, Yara segera memapah Yila dari mobil. Yara senang banget karena satu hari di rumah orang tuanya, ada perubahan yang sangat signifikan dari ila. Yila mulai tersenyum meskipun itu hanya masih interaksi dengan Papa dan Mamanya Yara. Itu artinya guncangan jiwa dalam diri Yila tidak seberat yang ditakutkan. Yila memang masih shock dan kini solusinya sudah Yara temukan, yaitu dengan cara Yara harus lebih lembut dan sabar lagi dalam memperlakukan Yila.
"Sayang, hati-hati." Yara membawa Yila ke dalam kamar dengan sangat hati-hati. "Istirahatlah Sayang, aku mau bilang Bi Dian untuk membuatkan rujak untukmu," ujar Yara sembari beranjak dari kamar. Yila mengangguk dan membiarkan Yila pergi.
Tidak berapa lama Yara telah kembali ke kamar, menenteng sebuah mug yang berisi jus mangga untuk Yila. Kali ini Yara benar-benar memperlihatkan perhatiannya pada Yila. Demi Yila kembali sehat dan janin yang dikandungnya juga sehat.
"Sayang, minumlah jus mangga ini, pasti ini sangat segar buatmu. Juga sehat untuk bayi kita," ujar Yara seraya meletakkan mug itu di atas meja, lalu duduk di samping Yila dan meraba perut Yila, tidak lupa sebuah kecupan manis dia daratkan di pipi Yila yang selalu merah merona jika didekati Yara. Sangat kumplit perlakuan Yara kali ini.
"Mas Yara, aduh sakit Mas," rintih Yila. Sontak Yara kaget masa dicium pipi saja Yila sakit.
"Kenapa, Sayang, sakit apa?" heran Yara sembari menatap wajah Yila yang semakin cantik saja sejak dia hamil.
"Jari saya yang diduduki Mas Yara," ucap Yila memberitahu. Yara terejut, dia tidak tahu bahwa dia tidak sengaja menduduki jemari Yila.
"Wahhh, sakit, Sayang? Aku minta maaf, aku tidak tahu. Tadi langsung duduk tanpa melihat ada jari kamu." Yara merasa bersalah lalu meraih jemari Yila yang tadi tidak sengaja dia duduki.
"Aku minta maaf," ucapnya menyesal seraya menarik jemari Yila menuju bibirnya kemudian ditiup dan diciumnya. "Oh, Sayang, aku mau mengungkapkan perasaanku selama kita nikah. Kamu dengarkan, ya," ujarnya memberi instruksi bahwa dia ingin mengungkapkan sesuatu. Yila mengangguk lalu tersenyum tipis malu-malu.
__ADS_1
Sebelum Yara memulai ceritanya, Yara bangkit lalu tanpa basa-basi mengangkat tubuh Yila dan dipindahkan ke atas ranjang. Sejenak Yila merasa terkejut dengan perlakuan Yara yang tanpa diduganya. Yila dibaringkan seenak dan senyaman mungkin. "Bagaiman, segini nyaman nggak?" tanyanya sebelum tubuh dia menyusul terbaring di pinggir Yila.
"Iya, Mas, nyaman." Mendengar itu Yara menaiki ranjang, dia membaringkan tubuhnya tepat di samping Yila, lalu tangan kirinya dia pakai untuk menjadi sandaran kepala Yila, dan tangan kanannya iapakai mengusap-usap perut Yila dengan lembut. Situasi ini membuat suasana yang romantis dan hangat. Namun, Yila merasa sangat canggung dan masih risih karena perasaan malu-malu itu datang lagi mengganggu.
"Santailah, Sayang. Kamu memang selalu setegang ini dekat dengan suamimu, kita menikah sudah hampir enam bulan, tapi kamu masih malu-malu kucing," ujar Yila seraya mengusap perut Yila tanpa henti.
Sejenak Yara melepaskan dahulu rasa sesak di dadanya sebelum dia benar-benar mengungkapkan semua isi hatinya kepada Yila selama dia menikah.
"Yila, sejak aku menikahimu sampai dengan saat ini, jujur aku mau katakan bahwa dirimu benar-benar membawa perubahan dalam diriku ke arah yang lebih baik. Terutama dari segi kebutuhan batinku yang setiap saat terpenuhi berkat menikah denganmu. Lalu sekarang aku dan kamu diberi kepercayaan sama Yang Maha Kuasa dengan dititipkannya anak di dalam rahim kamu. Maka dari itu, aku sungguh-sungguh mengucapkan terimakasih sama kamu, sebab kamu mau bertahan sampai saat ini menemani aku yang dikenal dingin ini," ungkap Yara sedikit panjang sembari memeluk erat tubuh Yila.
"Sayang, kamu menangis? Apa yang kamu rasakan? Aku minta maaf jika ucapanku barusan ada yang menyakiti hatimu?" tanya Yara khawatir.
Yila mendongak dan mengusap air matanya yang basah, lalu dia berkata, "tidak ada Mas, saya hanya terharu dengan semua yang Mas Yara katakan terhadap saya barusan. Saya merasa dicintai oleh seorang laki-laki setelah sekian lama saya memendam cinta untuk laki-laki itu," tutur Yila dengan isak tangis yang semakin kencang. Yara bangkit lalu meraih pundak Yila ikut diangkatnya.
"Sayang, aku minta maaf ternyata terlalu besar rasa cintamu padaku, aku minta maaf seumpama diawal menikah sikapku terlalu kaku dan dingin sehingga membuatmu sakit hati," ucap Yara meminta maaf atas sikapnya yang dulu begitu sangat dingin.
Tapi kini sikap dingin dan kaku itu perlahan memudar seiring cinta yang dipersembahkan Yila untuk Yara, laki-laki yang sudah sejak lama dia cinta.
__ADS_1
"Ayolah, tidurlah. Sepertinya tadi kamu sangat ngantuk sehabis pulang dari Bidan."
"Sekarang sudah tidak ngantuk Mas, saya ingin makan rujak yang tadi kita beli. Bukankah kita tadi beli rujak dan asinan yang banyak, tapi kenapa malah nyuruh Bi Dian membuat rujak?" ujar Yila mengingatkan Yara yang tadi beli rujak.
"Ya ampun, aku baru ingat. Sebentar, Sayang, rujaknya aku ambil dulu di mobil, aku lupa. Sepertinya semakin aku menua dan sejak aku akan punya bayi aku jadi pelupa," ucap Yara terkekeh menertawakan kekonyolannya karena dia kini mulai pelupa.
Yara berlari kecil menuju keluar dan menghampiri mobilnya. "Ya ampun, kenapa aku bisa lupa kalau tadi beli rujak dan asinan, tapi malah menyuruh Bi Dian bikin rujak," gerutunya pada diri sendiri.
Yara segera kembali dan menuju dapur menghampiri Bi Dian yang tadi sempat dia perintah untuk membuat rujak.
"Bi Dian, apakah rujak yang saya perintahkan tadi sudah mulai dibuat?"
"Sudah, Den. Malah ini baru saja akan saya antarkan ke kamar."
"Ok, kalau begitu nanti antar saja ke kamar bersama rujak yang saya beli tadi di pusat oleh-oleh. Saya tadi lupa bahwa saya sudah beli rujak dan rujaknya tertinggal di mobil. Wadahi pakai mangkok saja jangan lupa pakai garpu," instruksi Yara seraya kembali menuju kamar. Bi Dian diam-diam geleng-geleng kepala dengan kelakuan majikannya yang masih muda tapi sudah pelupa.
"Den Yara, Den Yara, masih muda sudah pelupa. Ini karena Den Yara saking antusias menyambut kehadiran sang jabang bayi yang masih beberapa bulan lagi. Semoga semua dilancarkan oleh Allah, Den," doa Bi Dian sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1