
Hari demi hari kesehatan Yila dan kandungannya semakin memperlihatkan perkembangan yang bagus. Yila sudah tidak shock lagi dan takut. Dan yang lebih berkembangnya lagi interaksi Yila dengan Yara sang suami sudah lebih baik dari pada awal-awal nikah. Yila sudah berani berbicara lebih banyak dengan Yara walaupun memang sikap pemalunya ada.
"Mas minumnya," sodor Yila sembari meletakkan satu gelas kopi latte kesukaan Yara. Yara menghentikan aktifitas di Hpnya lalu meletakkan Hp itu di atas meja. Yara menoleh ke arah Yila lalu meraih kopi itu dan langsung diseruputnya.
"Terimakasih Sayang, kopinya nikmat banget panas-panas begini," ucap Yara meletakkan gelas yang masih ada sisa kopinya itu. Dengan cepat Yara meraih jemari Yila dan membawanya ke dalam pangkuannya. Yila dengan malu-malu mendekat duduknya dengan Yara.
"Alhamdulillah kamu dan bayi kita sudah semakin sehat, aku senang melihatnya. Kamu juga sudah tidak shock lagi," ucap Yara sembari memeluk pundak Yila. Yila tersentak malu dan merasa canggung.
"Sayang kenapa kamu masih malu-malu seperti itu berdekatan denganku, bukankah aku sudah tidak dingin dan menakutkan lagi?" sela Yara sembari meremat jemari Yila. Yila semakin malu-malu dan tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Pipinya merona merah mirip buah ceri.
Yila menghela nafasnya dalam-dalam untuk menghindari wajah Yara yang menatap lurus ke arah wajah Yila. Saat tatapan mata itu beradu, Yila benar-benar tidak bisa menyembunyikan lagi rasa malunya. Kemudian secepatnya Yila mengalihkan tatapannya ke arah lain. Matanya seakan pedih lalu dikedipnya.
__ADS_1
"Sayang, kemarilah." Yara meraih tubuh Yila lalu menyandarkannya di dada Yara. Yara mengelus bahu Yila dengan lembut menyalurkan energi positif ke dalam diri Yila.
"Sayang, terimakasih banyak karena sudah mencintai aku. Sepuluh tahun lamanya ternyata jodohku hanya lima langkah persis lagunya Iceu Wong," ungkap Yara semakin erat memeluk tubuh Yila. Sejenak Yila tiba-tiba ingin ketawa atas ucapan Yara barusan yang menyebut jodohku hanya lima langkah milik penyanyi Iceu Wong. Tidak habis pikir Yara ternyata pemerhati lagu juga.
"Apa yang kamu tertawakan, aku tahu kamu sedang tertawa?" tanya Yara penasaran. Yila mengatupkan bibirnya rapat-rapat sembari bangkit dan berlari ke dalam kamar menyembunyikan rasa malunya.
"Mau kemana, kamu jangan lari?" Yara mengejar Yila ke kamar lalu tanpa ragu mengunci pintu kamar. Yara menghampiri Yila yang menelungkup wajahnya dengan bantal, lalu menjamahnya. Yila ingin menghindar tapi terlambat Yara sudah menangkapnya dengan merangkul tubuh Yila dari belakang. Kemesraan mereka kini terulang kembali, Yara menumpahkan kasih sayangnya kepada Yila dengan segenap rasa.
__ADS_1
"Ahhhh, aduhhh.... " Yila tiba-tiba menjerit karena perutnya merasakan mulas yang tidak ia rasakan sebelumnya. Menyadari Yila akan segera melahirkan, Yara dengan sigap menyiapkan segala keperluan melahirkan.
Bu Rosi dan Pak Riza serta Bapak dan Ibunya Yila segera merapat dan mengantar Yila ke rumah sakit. Tidak terkiranya kebahagiaan mereka sebab ini merupakan cucu pertama bagi Bu Rosi dan Pak Riza.
Akhirnya kisah ini sampai di sini dulu ya teman-teman. Mohon dukungannya supaya penulis bisa semangat lagi untuk berkarya lagi. Mohon maaf jika penulis dalam menyampaikan tulisannya tidak sesuai keinginan pembaca.
Akhir kata saya ucapkan Assalamualaikim warohmatullahhiwabarokatuh...
__ADS_1