
Yara membuka lembaran demi lembaran diary milik Yila. Semua tulisan Yila ditujukan padanya bukan pada yang lain. Malah di sana ada ungkapan yang sangat menyayat hati Yara ketika Yila menuliskan sebuah pengakuan yang ternyata tanpa disadarinya pernah menyakiti hati Yila.
"*Juli 2019, hari ini aku kembali mengantarkan pesanan pada Bu Rosi tetangga dekat sekaligus baiknya ibu. Ibu tidak menyuruh, hanya aku yang mau. Alasannya karena rumah Bu Rosi dekat tinggal melangkah beberapa meter. Sekalian ingin melihat Mas YP. Saat mendatangi rumah Bu Rosi, bersyukur Bu Rosinya ada. Akan tetapi karena sedang sibuk, yang membukakan pintu kebetulan Mas YP. Entah kenapa sudah beberapa hari mengantarkan pesanan kue di sore hari, selalu kebetulan Mas YP yang menyambutku*.
Sambutan dingin selalu Mas YP hadirkan, padahal aku selalu mengucap salam dan berusaha tersenyum ramah. Meskipun aku pemalu, tapi aku tahu beretika dengan tetangga.
Mas YP meraih pesanan Bu Rosi lalu akan membalikkan badan. Namun malang, sebelum Mas YP berbalik tiba-tiba kakiku tersandung tangga dan alhasil tubuhku ambruk mengenai kantong kue pesanan Bu Rosi. Malu dan sedih aku dapatkan saat itu juga. Mas YP menatapku sangat ketus dan sedikitpun tidak merasa peduli pada aku yang ambruk. Nasib baik kue pesanan itu tidak sampai jatuh, hanya saja saat Bu Rosi memeriksa, ada beberapa kue yang sedikit penyok.
Dengan baik hatinya Bu Rosi menolak niat baikku untuk mengganti kue yang rusak. Padahal aku sungguh-sungguh akan mengganti karena di rumah ibu masih membuat kue yang sama. Namun keukeuh Bu Rosi menolak, lagipula kuenya dia bilang pesannya dilebihkan, jadi yang rusak itu tidak dihidangkan pada tamu undangan yang menghadiri syukuran di rumahnya. Akhirnya aku mengalah dan pamit. Saat di pintu samping, karena setiap aku mengantar pesanan selalu menggunakan pintu samping, aku berpapasan dengan Mas YP, dan aku berpamitan seperti biasanya. Namun Mas YP hanya menatap dingin dan berkata dengan judes, "lain kali hati-hati, matanya jangan jelalatan dipakai yang tidak-tidak!"
Mendengar Mas YP berkata seperti itu, aku merasa sangat malu dan bergegas pergi dengan wajah menunduk. Sungguh hari itu aku benar-benar menangis karena heran dengan sikapnya yang sangat tidak ramah padaku."
Untaian kata demi kata telah dibaca Yara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menyadari dia terlalu dingin dan ketus pada gadis itu. Yara mendadak kembali terbayang-bayang sikapnya pada gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya. Betapa perlakuannya sangat buruk. Diberi salam hanya dijawab di dalam hati, dikasih senyum kadang mengumpat dalam hati bahwa Yila ganjen ingin cari perhatiannya. Karena Yara terlalu larut dalam rasa sakit hati akibat perlakuan mantan istrinya, Nita. Maka, Yara menganggap semua wanita termasuk Yila hanya perempuan ganjen yang berusaha mencari perhatiannya.
Tahu begitu, Yara sunguh berdosa menganggap Yila hanya perempuan ganjen yang sedang mencari perhatiannya, Yara menyesal telah menganggap buruk gadis itu. Padahal gadis itu benar-benar mempunyai cinta yang tulus untuk Yara.
Yara membuka kembali lembaran berikutnya. Semuanya tentang ungkapan cinta Yila pada Yara. Lalu saat tiba di lembaran yang terakhir ada catatan terbaru dari Yila, yaitu sebelum tanggal terjadinya ijab qabul bersama Yara.
__ADS_1
"Juni 2023, malam ini bapak dan ibu akan menghadirkan tamu. Katanya tamu untukku yang akan melamar aku. Padahal ibu dan bapak tahu aku tidak mau dijodohkan, terlebih jika dijodohkan dengan laki-laki yang tidak aku kenal."
Walaupun sebelumnya aku selalu menolak permintaan ibu dan bapak tentang rencananya yang ingin menjodohkan aku dengan seseorang, tapi malam ini aku tidak bisa apa-apa. Aku akhirnya patuh, terlebih kedua kakakku A Yudha dan Teh Yuri sangat mendukung perjodohan ini. Terutama A Yuhda, dia antusias, sebab dia juga mengalami hal yang sama dengan diriku. Pernikahannya dengan teh Raisa merupakan hasil perjodohan. Namun sampai sekarang, mereka akur dan langgeng sampai menghasilkan dua anak yang tampan dan cantik.
*Aku tersenyum getir saat itu, ketika keluarga tamu yang akan melamarku telah datang. Hatiku langsung sedih sebab jika aku terpaksa menerima lamaran laki-laki yang akan dijodohkan dengan aku, maka aku harus rela melupakan Mas YP. Terlebih saat tetangga ibu, yaitu keluarga Bu Rosi dan Pak Riza ikut hadir dalam acara lamaranku dengan lelaki yang tidak aku kenal, aku langsung shock dan tiba-tiba saja tubuhku bergetar. Aku berpikir bahwa keluarga Bu Rosi merupakan tamu undangan yang akan menghadiri acara lamaranku*.
*Namun ternyata dugaanku salah, setelah Bu Rosi mengatakan bahwa yang akan melamar justru mereka, salah satu anaknya. Aku menjadi bingung sekaligus kaget, anak Bu Rosi yang mana yang akan dijodohkan denganku? Mas Yara tidak mungkin sebab yang aku tahu dia lelaki dingin yang selalu judes jika bertemu dengan aku. Sedangkan adiknya Mas Yara, sudah menikah dan kini sedang studi di Amerika dan tinggal di sana. Lantas anak yang mana yang akan Bu Rosi jodohkan denganku*?
Yara berhenti sejenak membaca tulisan Yila sampai di situ. Yara mendongak, matanya yang berkaca-kaca disekanya. Jika tidak diseka maka bulir bening itu akan jatuh.
Yara melanjutkan dua lembar terakhir untuk dibacanya, lalu Yara melihat sebuah foto dirinya dan juga Yila disandingkan secara sengaja oleh Yila. Di sana tertulis sebuah ungkapan alhamdulillah serta emot cinta selamanya untuk Yara.
__ADS_1
"*Terimakasih Ya Allah, ternyata laki-laki yang dijodohkan denganku adalah Mas Yara, laki-laki yang selama ini aku cinta dalam diam. Aku sangat bahagia, aku janji aku akan menjadi istri yang baik buat Mas Yara, setia, serta menjaga kehormatannya. Semoga Allah selalu melindungi pernikahan kami, walaupun dalam diri Mas Yara tidak ada cinta untukku. Semoga suatu saat Mas Yara akan mencintaiku seperti aku mencintai Mas Yara*.
*Aku berharap, Mas Yara adalah jodoh pertama dan terakhirku. Aku mencintaimu Mas YP, semoga kita selalu bersama dan bahagia*."
Untaian kata-kata penutup berupa doa dari Yila menyadarkan Yara bahwasanya cinta Yila padanya benar-benar tulus dan apa adanya. Yara tidak menduga gadis muda yang cantik tapi pemalu itu sangat mencintainya.
Yara segera bergegas dan mengakhiri membaca buku diary Yila. Yara malam ini bermaksud menjemput Yila dan membawanya pulang. Yara akan meminta maaf dan akan berusaha mencintai Yila seperti Yila mecintainya.
"Maafkan aku, Sayang. Tunggu aku, aku akan menjemputmu," gumannya sembari keluar rumah akan menjemput Yila yang diduganya di rumah orang tua Yila.
__ADS_1