Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 35 Yila yang Konyol


__ADS_3

Yara terkejut dengan isi kado barteran itu, dia tidak tahu kado yang berhasil dia dapatkan kado milik siapa? Yang membuat dia terkejut adalah isi kado itu terbilang nyeleneh dan bikin dia tersinggung. Sungguh jika Yara tahu siapa orangnya, maka tidak segan dia gampar orang itu sampai klenger. Sayangnya tidak ada aturan dalam permainan tukaran kado ini, panitia penyelenggara juga tidak menentukan atau melarang peserta membeli kado ini itunya. Yang tidak habis pikir buat Yara, kenapa bisa ada orang sampai kepikiran memberi kado sebuah alat yang fungsinya spesifik dan kelihatannya sangat tidak sesuai diberikan dalam acara santai seperti ini. Terkecuali jika diberikannya dalam ajang demo kesehatan, mungkin itu wajar bagi kalangan tertentu.



"Siapa orangnya yang membuat kado isinya alat pengaman? Sepertinya ini ada unsur kesengajaan seseorang. Dia sepertinya ingin membuat aku penasaran dan stress dibuatnya dan mencari tahu siapa yang membuat kado seperti ini? Baiklah, tidak akan aku pedulikan milik siapa kado ini, lebih baik aku memusnahkannya," ujar Yara dan berniat memusnahkan kado itu, sebab dia tidak membutuhkan alat itu, dan baginya itu kado yang tidak pantas diberikan dalam acara santai seperti ini.



Subuh menjelang, Yila bangun dalam keadaan tubuh dibungkus selimut dan tubuh Yara yang melekat di punggungnya. Yila berusaha menepis lengan dan kaki Yara yang sengaja mengunci tubuhnya. Yila heran, kenapa dia sampai tidak ingat saat Yara semalaman memeluknya mirip koala nemplok? Apakah dia semalam tidur sangat nyenyak?



Yara benar-benar sangat berat saat Yila mencoba mengangkat salah satu kakinya. Belum juga terangkat, Yara sudah terlanjur bangun. Yila menjadi kesal sehingga kaki Yara yang mengunci kakinya dia hempas sekuat tenaga dan akhirnya berhasil terlepas. Yara terkejut melihat Yila begitu kasar. Namun setelahnya Yila juga terkejut dan merasa bersalah karena sudah menghempas kaki Yara sampai Yara kaget.



Yila bangkit, kemudian turun dari ranjang dengan muka yang menunduk. Yila masuk kamar mandi, kali ini dia tidak mandi, hanya mengambil wudhu dan sikat gigi.



Tidak lama dari itu Yila sudah keluar lagi, Yara pikir akan lama dan mandi. Yara terus memperhatikan Yila yang sepertinya enggan menoleh sedikitpun padanya. Yara tahu, semua sikap Yila ada hubungannya dengan penemuan Yila di saku celananya yang sengaja diselipkan Nita di saku celana Yara. Anehnya semalaman Yara tidak melihat Nita, padahal dia ingin mempertanyakan kenapa Nita menyimpan alat pengaman yang dibungkus secarik kertas yang diselipkan di saku celananya?


__ADS_1


Yara mengepalkan tangannya, dia geram dengan kelakuan Nita yang sudah over menurutnya. Kalau Nita bukan seorang perempuan, sudah habis Nita digamparnya. Sayangnya Nita seorang perempuan, meskipun dia melakukan hal yang senyeleneh apapun, Yara tidak bisa melakukan kekerasan fisik padanya.



Yila menyudahi sholatnya lalu menuju meja rias yang ada di dalam kamar hotel itu. Yila duduk dan mulai menyisir rambutnya yang panjang legam, kemudian dia ikat satu dan diangkatnya tinggi ke atas tepat di ubun-ubunnya, sehingga rambutnya berayun-ayun ke sana kemari memperlihatkan leher jenjangnya yang menggemaskan.



Setelah mengikat rambut, kemudian Yila mengoleskan skincare tipis-tipis di wajahnya, lalu bedak padat di tap-tap tipis juga ke wajahnya, setelah itu Yila mengoleskan lipstik merah jambu yang memerah bibirnya, tidak lupa eyeliner di bawah mata yang semakin mempertegas kecantikan wajahnya. Yara sampai terkagum-kagum dibuatnya, ternyata Yara sangat lihai dalam merias dirinya.



Yila berdiri melihat dirinya sejenak di cermin, lalu bergegas menuju lemari yang berada di kamar hotel dan meraih dress selutut yang dipilihkan Yara sejak dari rumah, yang sudah Yila persiapkan kemarin di sana.




"*Ternyata selain pendiam dan pemalu, Yila juga sangat konyol dan aneh*," batinnya diimbuhi senyum di wajahnya.



Ternyata Yila belum menyudahi aktivitasnya, dengan cepat Yila merundukkan tubuhnya. Yara kaget, apa lagi yang akan Yila lakukan? Tidak berapa lama kemudian Yara kembali berdiri dengan baju yang sudah diganti dengan dress selutut yang dia ambil tadi di lemari.

__ADS_1



Yara terkesima melihat penampilannya subuh ini, Yila benar-benar menjelma bak artis papan atas yang di undang ke acara TV untuk podcast. Tidak hentinya Yara berdecak kagum akan kecantikan paripurna Yila istrinya yang kini sudah cantik , wangi dan menggemaskan meskipun tidak mandi di subuh ini.



Yila berjalan dengan cantiknya menuju dispenser yang berada di dalam kamar hotel. Sementara Yara masih fokus memperhatikan Yila yang kini mulai menyeduh kopi sachet yang sudah disediakan di sana. Satu buah cangkir latte sudah dibuat Yila, sehingga wanginya langsung menguar di udara. Yara yang melihat, sudah tidak sabar lagi ingin menikmati kopi latte buatan Yila. Untuk itu Yara segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudhu, sebab sejak tadi fokusnya hanya mengawasi Yila yang unik, tanpa harus mandi dia sudah cantik dan wangi.



Namun belum sampai kaki Yara memasuki kamar mandi, rupanya kopi latte yang diseduh oleh Yara bukan untuknya, melainkan untuk Yila sendiri. Nampak Yila menyeruput kopi itu sambil berjalan menuju pintu balkon. Yara terkesima seketika melihat Yila yang kini seakan berubah.



Yila membuka pintu balkon lalu duduk santai di kursi rotan yang berada di sana. Kopi latte yang sudah dia buat diletakkannya di atas meja. Dengan santainya Yila menikmati kopi latte di subuh menjelang paginya ini sembari menatap hamparan rumah-rumah di sekitar hotel.



"Sruputttttt, ahhhhhh, nikmatnya," gumannya menikmati lezatnya kopi buatannya sendiri. Sejenak Yila melupakan rasa cemburu plus kesalnya pada Yara atas apa yang dilihatnya tadi malam lewat Hpnya, yaitu vidio kiriman seseorang ke Hpnya.



"Kriettttt." Pintu balkon terdengar dibuka, tapi Yila enggan menolehnya, dia sudah tahu itu pasti Yara yang menyusulnya menuju balkon. Yara duduk di kursi sebelah Yila dengan secangkir kopi yang sama di tangannya kemudian Yara menyeruputnya dengan nikmat. Yila masih tidak peduli dengan keberadaan Yara yang menurutnya mengikuti Yila. Yila tidak terima, dengan kesal dia berjingkat meninggalkan balkon lalu masuk kamar kembali dan meletakkan cangkir bekas kopinya di atas meja dispenser. Yila nampak benar-benar marah.

__ADS_1


__ADS_2