
Yara menghampiri Yila yang baru menyudahi sarapan paginya, lalu menyodorkan segelas air minum untuknya. Yila meraih gelas itu dengan wajah yang menunduk. "Terimakasih," ucapnya pelan, tapi masih bisa didengar Yara. Sejenak Yara merasa bersalah atas perdebatan kecil tadi di kamar hotel. Gara-gara Nita, semua mood ingin senang-senang di kota gudeg ini selama menikmati liburan sekaligus hiburan dari perusahaan tempatnya bekerja malah berantakan.
"Sayang, setelah ini kita diperbolehkan jalan-jalan di sekitar Malioboro atau sampai Pasar Klewer, kamu cari apa saja yang kamu mau untuk dibawa pulang besok. Batik atau apapun terserah kamu," ucap Yara memberi tahu. Yila hanya menatap sekilas ke arah Yara. Yara tahu, Yila masih menyimpan kecewa atas masalah di kamar tadi.
"Mas Yara, apakah Mas Yara tidak kepikiran untuk meluruskan masalah vidio yang dikirim ke saya malam tadi? Kalau memang itu bukan Mas Yara, kenapa Mas Yara tidak menemui mantan Mas Yara untuk mengklarifikasinya," ujar Yila memberanikan diri. Yara mengerutkan keningnya lalu menatap Yila.
Yara membawa Yila ke tempat yang lebih jauh dari teman-temannya supaya tidak terdengar mereka saat bicara.
"Sayang, bisa nggak masalah ini aku luruskan setelah pulang dari acara ini? Sekarang waktunya begitu mepet, besok kita pulag. Setelah masuk kerja aku akan berusaha mencari menegur dan mencari tahu apa tujuannya."
"Tapi, kenapa tidak sekarang Mas? Saya hanya ingin kesungguhan Mas Yara meluruskan semua ini di depan saya supaya jelas dan benar-benar yakin bahwa di antara kalian memang tidak terjadi hal yang seperti nomer itu kirimkan," desak Yila terlihat sendu.
"Sudah aku bilang, sepertinya saat ini waktunya kurang tepat, terlalu sempit," alasan Yara lagi sembari meraih rokok dalam saku celananya dan menyalakannya di sana. Yila diam tidak menyahut ucapan Yara lagi. Namun di dadanya bergejolak rasa ingin menemui Nita dan meminta klarifikasinya saat itu juga.
__ADS_1
"Sayang," sapa Yara saat Yila terlihat bengong dan melamun. Yila mengangkat kepalanya yang tadi merunduk membalas panggilan Yara.
"Ayo," ajaknya seraya menggandeng lengan Yila mesra. Sikap dan perlakuan Yara terlihat romantis dibalik gempuran teror Nita mantan istri Yara.
"Sebentar saya mau ke kamar mandi dulu," ijin Yila seraya melengos dan pergi. Yila sengaja pamit untuk berusaha menemui Nita yang selalu meneror hubungan rumah tangganya. Yila tidak puas dan tidak sabar jika harus menunggu sampai pulang ke kotanya.
Yila dengan gesit mencari keberadaan Nita. Yila tahu Nita jua sudah tidak sabar menunggu perang di dalam rumah tangga Yara dan Yila. Dan akhirnya pencarian Yila berhasil. Nita secara kebetulan sedang menuju toilet di hotel itu.
Yila berhasil menyamai langkah Nita. Sejurus kemudian antara keduanya hanya saling pandang lalu dengan cepat Nita mengalihkan wajahnya ke bawah.
"Ada apa?"
"Saya hanya ingin menyampaikan unek-unek saya pada Mbak Nita untuk stop mengganggu suami saya dan mengejar suami saya," tandas Yila dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Nita balik menatap wajah Yila yang memohon dengan wajah yang jelas terlihat sangat marah. "Apa buktinya jika saya telah mengganggu suami kamu? Lagipula antara aku dan suamimu masih ada ikatan yang kuat, kami masih saling mencintai," tegasnya percaya diri.
"Untuk itu saya memohon pada Mbak Nita untuk stop meneror suami saya, karena suami saya dan saya saling mencintai dan tidak akan seorangpun memisahkan," tegas Yila meminta untuk yang kedua kalinya.
"Jika saya tidak mau bagaimana?" tantang Nita tidak merasa takut. Yila tersentak dengan pertanyaan konyol Nita yang ditujukan untuknya.
"Tentunya Mbak Nita merupakan perempuan yang tidak tahu diri, dong jika begitu. Kalau mau punya suami, harusnya mencari yang single dan tidak beristri. Apakah Mbak Nita tahu kalau Mas Yara sering cerita kepada saya bahwa dia sangat kecewa dengan pernikahannya yang terdahulu? Mas Yara kecewa dengan mantan istrinya yang telah berselingkuh darinya dengan atasannya di kantor tempatnya bekerja," ungkap Yila, sejenak Yila diam untuk mengatur nafas.
"Mas Yara menjadi trauma untuk menikah lagi karena dia takut jika perempuan yang dinikahinya akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Mbak Nita dulu. Mas Yara sangat benci pengkhianatan, maka dari itu dia pantang kembali ke masa lalu," tegas Yila melanjutkan ucapannya tadi.
"Jangan terlalu percaya diri kamu sebagai istri dan pendatang baru dalam kehidupan Yara. Aku yang lebih tahu siapa Yara. Aku mengenalnya. Dan rasa trauma itu adalah bukti cinta dia masih ada untukku," ucapnya lagi dengan percaya diri yang semakin bertambah sehingga membuat Yila sangat muak.
"Segitu percaya diri banget dan bangga mengakui masih mencintai suami orang di depan istrinya mantan suami Anda. Dulu saat Mbak Nita menjadi istrinya kenapa bisa tega bermain curang di belakangnya? Lalu apakah Mbak Nita tidak takut ditegur sama Tuhan?" ujar Yila menyindir sikap Nita yang dianggapnya over percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah jika Mbak Nita punya keyakinan seperti itu, silahkan cintai suami saya, tapi tidak untuk dimiliki hati maupun jiwa raganya. Dan yang paling penting stop Mbak Nita mengirimkan vidio palsu tentang suami saya. Saya tahu, kawan sekomplotan Mbak sedang berusaha menyamar menjadi suami saya dengan memakai baju kemeja yang sama.