
Setelah tadi terjadi insiden barbeque yang gagal, malam ini setelah Isya Yara begitu terlihat sangat sibuk. Dia menyiapkan makan malam begitu semangat. Dibantu Bi Ratmi yang memang sejak tadi siang sudah sibuk menyiapkan acara barbeque yang gagal.
Makan malam yang akan digelar sudah kelihatan hilalnya. Di meja makan dapur lantai atas, semua pekerja villa sudah mempersiapkan makan malam yang romantis. Terlihat romantis mungkin bagi sebagian orang. Namun bagi Yila hanya perasaan yang menegangkan yang kini mengentak-hentak dadanya.
"Ya Allah, kenapa aku harus menyukai dan mencintai lelaki dingin ini? Kadang dia sangat dingin, dan kini dia begitu sibuk dan bersikap hangat. Mungkin karena ada maunya," pikir Yila dalam hati.
"Krekekekkkk."
Suara pintu terbuat dari kayu itu terdengar berbunyi, bagai gendam di siang hari yang siap menghantam, bagi Yila. Keringat dingin seakan mengucur. Debar jantung Yila semakin kencang
"Bruggghhh."
Tubuh Yila ambruk di atas ranjang, rasa lemas merasuki raganya tiada berdaya. Bersamaan dengan itu Yara masuk dan sontak kaget melihat Yila yang ambruk di atas ranjang ukuran raja.
"Yila!" teriak Yara kaget dan segera menghampiri Yila yang ambruk. Yara mendekati tubuh Yila lalu naik ranjang untuk membetulkan posisi tubuh Yila menjadi telentang.
"Bi Ratmi, Bi ... " teriak Yara memanggil Bi Ratmi dengan lantang. Bi Ratmi yang masih menyiapkan makan malam, terperanjat dan segera menunda pekerjaannya. Bi Ratmi menghampiri juga ikut kaget.
"Ada apa dengan Non Yila, Den?" tanya Bi Ratmi penasaran.
"Saya tidak tahu, Bi. Coba Bibi periksa, kira-kira istri saya kenapa?" Bi Ratmi mendekati Yila dan mencoba meraba kening dan juga lengannya. Keringat dingin yang mengucur di dahi Yila bisa jadi karena efek perut yang kosong. Bi Ratmi bisa menyimpulkan sebab sore tadi acara barbeque gagal.
"Saya rasa Non Yila mengalami stress, Nona mungkin tadi sedang memikirkan sesuatu di saat perut kosong. Itu kesimpulan Bibi, Den. Sebentar, biar Bibi bikinkan teh manis yang hangat biar Non Yila kembali bertenaga." Bi Ratmi segera bergegas keluar kamar untuk membuat teh manis unruk Yila.
Sebetulnya Yara merasa tersindir saat tadi Bi Ratmi menyimpulkan kenapa Yila bisa seperti itu, bisa jadi Yila tadi memang sedang memikirkan kejadian barbeque yang gagal, Yila yang dibentak olehnya sama sekali tidak sempat makan. Mungkin saja perutnya kosong, lalu lemas dan pingsan. Yara termenung merasa bersalah sambil mengelap keringat di dahi Yila.
__ADS_1
"Maafkan aku Yila, aku tidak bermaksud membentakmu tadi, aku mohon maafkan aku," bisik Yara pelan.
Tadi saat acara barbeque tiba-tiba ada pesan WA masuk dari nomer yang tidak dikenal. Ternyata dia mengaku Nita. Yara yang memang sudah melupakan Nita, ingatannya bangkit kembali ke masa 10 tahun yang lalu di mana Nita ketahuan berselingkuh dengan laki-laki yang menjadi atasan di kantornya. Yara kesal dan marah, kenapa Nita tiba-tiba datang mengganggunya lalu menerornya lewat WA, padahal nomer Nita sudah diblokir dan Yara sudah ganti nomer yang baru. Semua itu membuatnya tida sadar sudah membentak Yila. Kini Yara merasa menyesal.
Tidak berapa lama Bi Ratmi datang membawa secangkir teh manis hangat. "Den, ini air teh hangatnya." Bi Ratmi meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja, lalu membantu mengangkat tubuh Yila supaya duduk bersandar di ranjang.
Bi Ratmi dengan sigap mendekatkan bibir cangkir ke mulut Yila. "Minum dulu Non teh manis hangatnya supaya Non Yila segera bertenaga," ujarnya seraya mendekatkan cangkir itu ke mulut Yila.
"Buka mulutnya, Non." Perlahan Yila membuka mulut dan meneguk air teh manis hangat yang diberikan Bi Ratmi. Beberapa teguk Yila sudah meminum teh manis itu.
Bi Ratmi masuk ke kamar membawa nasi dalam piring dan lauknya di wadah yang lain, lalu meletakkan piring itu di meja.
"Silahkan, Den. Apakah mau Bibi saja yang suapkan?" tawar Bi Ratmi. Yara menggeleng. Melihat respon Yara seperti itu, Bi Ratmi permisi keluar.
Yara mendekati Yila yang kini mulai terlihat sedikit bernyawa. Di sini Yara harus ekstra sabar membujuk Yila untuk makan.
"Yil, makanlah dulu, aku suapin, ya." Yila tidak menyahut, dia diam lalu memalingkan wajahnya ke samping tanda menolak bujukan Yara. Yara bingung harus merayunya bagaimana.
__ADS_1
"Makanlah, dari sore tadi kamu belum makan. Ayo, buka mulut kamu," bujuknya lagi. Yila masih tidak mau. Namun tiba-tiba perut laparnya berbunyi tanda Yila benar-benar lapar. Yila terlihat kaget dan merasa malu.
"Ayo makanlah, perut kamu sudah minta diisi." Yila masih diam tapi perutnya benar-benar sangat lapar, tapi dia tidak mau ada Yara di dalam kamar. Terpaksa Yila harus mengusir Yara dalam kamar. Yila menunggu Yara merayunya lagi, setelah itu dia akan mengusirnya.
"Makanlah, kalau kamu marah karena sikapku tadi, aku mohon maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud bentak kamu. Tadi aku mendapat pesan WA dari seseorang yang tidak aku kenal, orang itu bikin aku kesal, dan aku tidak sadar telah membentakmu. Ayo makanlah," bujuknya lagi seraya sedikit bercerita tentang kenapa dia tadi membentak Yila.
Yila menoleh lalu menatap Yara sejenak. "Mas Yara keluar saja, saya mau makannya sendiri tanpa ditungguin Mas Yara," pinta Yila memberanikan diri, saking laparnya.
Yara mendongak lalu berdiri. "Ok, tapi kamu harus makan, ya. Aku keluar dulu, aku juga mau makan." Yara keluar, lalu menuju meja makan dan makan malam sendiri tanpa Yila. Ini semua gara-gara dirinya yang tadi membentak Yila gara-gara pesan Nita.
"Sudah punya keluarga baru tapi masih mengganggu rumah tangga orang, tidak sadarkah bahwa dia telah menyakitiku dahulu?" bisik Yara sembari menyendok nasi dan lauk lalu dituangkan ke dalam piringnya.
Yara makan di luar sendiri, dan Yila pun demikian. Rasa lapar yang teramat membuat dia tidak sadar menghabiskan apa yang ada di piringnya. Lagipula itu porsi sedang yang dituangkan Bi Ratmi, jadi orsi itu cukup membuatnya kekenyangan, terakhir Yila menyuapkan buah-buahan yang sudah dipotong-potong. Yila nampak sangat kenyang.
Makan malam kali ini walau hanya dinikmati sendirian di kamar, tapi menu yang dihidangkan sangat lezat. Sekilas Yila baru menyadari ada jus mangga di meja itu, untuk yang terakhir kali sebagai penutup makan malam Yila meraih gelas berkaki itu lalu meneguknya. Yila sangat menikmati jus itu, terlihat rasa senang dan lega dri wajahnya.
Setelah itu, beberapa menit kemudian mata Yila terasa ngantuk dan mulutnya mulai menguap. Yila menggeser tubuhnya dan berbenah, karena rasa kantuk begitu menyerang, Yila langsung membaringkan tubuhnya dan tidak lama dari itu dengkuran halus diperdengarkan.
__ADS_1
Yara mengibas tangannya saat melihat dari muka pintu Yila sudah tertidur. Alamat gagal lagi bulan madu hari ini. Yara sangat kecewa malam ini karena malam pertama dengan Yila harus gagal lagi.