
Yila masih tertegun dan malu jika harus terus terang siapa sebenarnya yang dia maksud Mas YP. Namun melihat sikap Yara yang terkesan marah seperti itu, akhirnya Yila harus berterus terang siapa sebenarnya Mas YP. Dan dia akan blak-blakan sejak kapan dia menyimpan cinta seumpama Yara nantinya akan bertanya sejak kapan Yila memiliki rasa suka pada Yara.
Yila mendongak dan kini dia harus berani menyampaikan kebenaran siapa sebenarnya inisial Mas YP itu. Namun Yila sejenak berpikir, kenapa suaminya itu bisa sampai tidak kepikiran bahwa YP itu adalah Yara Pratama?
"Baiklah Mas, akan saya coba katakan dengan jujur siapa sebenarnya Mas YP itu." Yila bersuara dan dia bertekad akan membuang rasa malu di hadapan Yara bahwa sesungguhnya sejak beberapa tahun yang lalu Yila memendam rasa cinta pada Yara. Dan perasaannya itu hanya mampu dia ungkapkan di sebuah buku diari. Kesannya jaman dulu banget, padahal Yila akui dia memang terinspirasi dari cerita ibu dan tantenya yang dulu pernah menjamani trennya menulis di buku diari. Menuangkan setiap perasaannya hanya di sebuah buku yaitu buku diari.
"Sebenarnya ...."
Tiba-tiba Hp Yara berbunyi, sebuah panggilan dari seseorang yang sepertinya sangat penting tiba-tiba datang. Belum sempat Yila cerita, Yara sudah disibukkan dengan sebuah panggilan.
"Ok, kebetulan aku sekarang dalam perjalanan pulang. Setelah aku sampai rumah, aku segera menuju alamat yang kamu maksud," ucapnya. Sepertinya Yara janjian sama seseorang, sebab dia menjanjikan akan datang ke alamat seseorang.
Yara segera menyalakan mobilnya yang tadi dia hentikan di pinggir jalan akibat kemarahannya pada Yila yang belum sempat terjawab. Mata dan tangannya kini fokus ke kemudi dan ke jalan di depannya. Yila yang di sampingnya benar-benar sangat canggung dan tidak anak hati. Niat hati ingin berterus-terang malah tidak jadi, dan sikap Yara sudah terlanjur *bad mood*.
Tiga jam kemudian mobil yang dikemudikan Yara tiba di depan rumahnya. Yara turun dari mobil dengan membanting pint lumayan keras sehingga membuat Yila tersentak kaget. Gara-gara menyebut inisial namanya saat lagi asik memadu cinta, kini Yara sangat marah, dia pikir YP itu orang lain.
Yila menyusul Yara ke dalam rumah, di dalam rumah sudah ada Bi Lala yang sengaja ke rumah untuk bersih-bersih rumah di saat sang pemilik rumah sedang tidak ada. Dan Bi Lala merupakan ART panggilan jika sewaktu-waktu pekerjaan rumah sangat banyak.
"Non Yila, Den Yara, sudah pulang. Kebetulan Bibi sudah selesai membersihkan rumahnya. Kalau begitu Bibi permisi pulang dulu, ya. Jika ada pekerjaan lagi jangan segan-segan panggil Bibi," ujarnya laporan sekaligus berpamitan. Yara mengangguk lalu merogoh dompetnya dan mengambil uang upah buat Bi Lala. Bi Lala memang dibayar harian sesuai waktunya bekerja. Setelah Bi Lala berpamitan, Yara segera menaiki tangga menuju kamarnya, diikuti Yila.
__ADS_1
Di dalam kamar Yara langsung menuju kamar mandi tanpa bicara sepatah katapun pada Yila yang sangat sedih atas sikap Yara. Sepertinya Yara tidak ingin memberi kesempatan pada Yila untuk memberikan penjelasan terkait siapa Mas YP itu.
Lima belas menit kemudian, Yara keluar kamar mandi dengan wangi sampo dan sabun yang maskulin menyeruak ke dalam hidung. Yila segera berdiri dan mendekati Yara yang kini berdiri di dekat lemari untuk mencari pakaian. Tadinya Yila mau pilihkan untuk Yara. Namun Yara langsung menolak.
"Tidak usah sok perhatian, pikirkan saja selingkuhan kamu itu si Mas YP. Aku sudah tidak peduli lagi kamu mau bermain api dengan laki-laki manapun di belakang aku. Silahkan. Mungkin resiko aku menjadi suami yang menyedihkan yang selalu diselingkuhi pasangannya," ujar Yara seakan menuding Yila ada main dengan pria lain di belakangnya. Yila sejenak tersentak dengan apa yang dikatakan Yara barusan.
"Mas, coba dengarkan saya dulu. Saya tidak berselingkuh, di depan atau di belakang Mas Yara. Mas YP itu adalah sebenarnya ...."
"Alahhh, sudahlah, jangan mencoba membela diri di hadapan aku. Kalau itu maunya kamu, silahkan nikmati kesenangan kamu bersama pria berinisial YP itu. Tapi setelah itu tunggu keputusan aku. Yang jelas aku tidak mau lagi dan lagi memiliki istri yang peselingkuh," tegas Yara tanpa memberikan kesempatan untuk Yila bicara.
"Diam, dan jangan memberikan pembelaan yang sia-sia atas kesalahanmu. Kamu tahu kenapa selama ini aku selalu dingin pada setiap perempuan, itu karena semua perempuan yang aku temui perangainya sama, peselingkuh. Yang gaul dan yang pendiam sama saja, PESELINGKUH," tegas Yara sembari berlalu dan keluar kamar membanting pintu kamar sangat keras.
"Mas, Mas Yara! Mas harus tahu bahwa Mas YP itu adalah inisial nama Mas Yara. Mas dengarkan saya, tunggu saya Mas!" teriak Yila diiiringi tangis yang mengharukan. Yila mengejar Yara yang sudah menuruni tangga dan kini menuju pintu depan dan tubuhnya kini sudah keluar. Yila masih mengejar dan menuruni tangga. Sayangnya Yila malah terpeleset saat di ujung tangga paling bawah. Saat mencoba berdiri, mobil Yara sudah menyala dan pergi.
Yila terduduk di lantai menangisi kepergian Yara yang sedang emosi atas kesalahpahaman ini. Padahal Yila ingin mengatakan terus terang siapa Mas YP sebenarnya, tapi Yara keburu marah dan pergi dan terlanjur menganggap Yila berselingkuh.
Yila masih menangis atas kepergian Yara, dia tidak terima dituduh selingkuh dengan laki-laki lain. Sedangkan cinta dia hanya pada Yara yang dari sejak dulu dipendamnya. Sepuluh menit kemudian, Yila berdiri dan perlahan menaiki tangga. Dia akan mencoba mengirimkan pesan WA pada Yara, menjelaskan sejelas-jelasnya siapa Mas YP itu.
__ADS_1
Di dalam kamar, Yila segera meraih Hpnya dan mencari nama Yara di aplikasi WAnya. Yila akan berusaha jujur siapa Mas YP itu dengan mengirimkan melalui pesan WA. Yila berharap Yara paham dan jelas siapa Mas YP sebenarnya. Namun ternyata WAnya tidak aktif. Tapi Yila tidak menyerah, dia tetap mengirimkan pesan WA tersebut tentang siapa sebenarnya Mas YP itu. Yila sudah tidak akan malu-malu lagi mengakui perasaannya yang dipendam sejak dulu pada Yara.
Pesan WA itu terkirim. Namun masih centang satu abu-abu, sepertinya Yara tidak ingin diganggu oleh Yila saat ini. Yila pasrah, yang penting dia sudah berterus terang pada Yara siapa sebenarnya Mas YP tersebut.
Isak tangis Yila masih tersisa, dia sungguh-sungguh sedih dengan sikap Yara yang tidak mau mendengarkannya dulu sebelum pergi tadi. Namun ada yang lebih membuat dirinya sangat sedih, yaitu sikap dirinya sendiri yang pemalu dan ragu-ragu untuk berbicara dan terus terag pada Yara untuk mengakui siapa sebenarnya siapa Mas YP itu.
Yila memang memiliki sifat yang pemalu dan introvert sejak putus pacaran dulu enam tahun yang lalu. Dia jarang keluar rumah, dan untuk kenalan dengan seorang laki-laki saja harus melalui proses dipertemukan di rumah oleh kedua orang tuanya. Namun kebanyakannya selalu dilarang Yila untuk tidak memperkenalkan dirinya dengan seorang laki-laki sehingga membuat kedua orang tuanya khawatir bahwa Yila sudah tidak menyukai lagi laki-laki.
Sungguh, Yila menyesali sifatnya yang pemalu yang berimbas pada hubungannya dengan Yara yang kini terancam perpisahan akibat Yara menyangka Yila ada main dengan laki-laki lain di belakangnya.
Yila berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian yang khusus diberikan Yara untuknya, untuk semua bajunya. Lalu Yila membuka laci lemari yang ada dua laci. Laci yang satu merupakan wadah perhiasan, kemudian laci yang satunya lagi wadah surat penting milik Yila, yakni ijasah dan satu buku ukuran setengah dari buku tulis biasa yang menyimpan begitu banyak cerita Yila dari sejak putus pacaran sampai menikah bersama Yara.
Yila meraih buku itu dan ternyata itu adalah sebuah buku diari, yang isinya merupakan semua curahan hatinya. Yila meraih buku itu kemudian duduk di ranjang. Yila membuka buku diari itu, pada halaman kedua dari buku diari itu terdapat satu buah foto seorang lelaki yang berwajah tampan sedang membuka pintu mobilnya. Sepertinya foto tersebut merupakan pembatas halaman di buku diari tersebut.
"Mas Yara, mungkin dengan buku diari ini, cukup untuk menjelaskan siapa sebenarnya Mas YP yang saya maksud. Karena untuk berbicara langsung bagi saya si gadis pemalu, begitu susahnya. Dan Mas Yara pun sepertinya tidak suka menunggu saya bicara karena saya memang merasa malu untuk mengungkapkan siapa sebenarnya Mas YP. Saya malu karena saya sudah mencintai Mas Yara sejak lama," ucap Yila sembari mengusap foto lelaki tampan itu yang rupanya itu foto Yara. Sepertinya Yila berhasil mengambil foto Yara secara sembunyi-sembunyi, terlihat hanya bagian pinggir wajah Yara yang berhasil diambil kameranya.
Setelah menatap dan mengusap foto Yara yang berhasil diambil secara sembunyi-sembunyi olehnya beberapa tahun yang lalu. Yila menuliskan sesuatu di secarik kertas. "***Buat Mas Yara, buka dan baca di halaman kedua, maka di halaman itu akan ditemui kebenaran, siapa sebenarnya Mas YP***." Begitu isi tulisan di secarik kertas yang ditujukan untuk Yara.
__ADS_1
Setelah buku itu diletakkannya di atas bantal Yara. Yila keluar kamar dan bermaksud pergi menenangkan diri ke rumah orang tuanya yang hanya beberapa meter jaraknya dari rumah yang ditinggalinya kini.