Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 23 Pengorbanan Yara


__ADS_3

Yara menuruni tangga dan keluar rumah, niatnya sudah bulat akan menjemput Yila di rumah mertuanya. Yara yakin Yila berada di sana, sebab setahunya Yila memang tidak pernah kemana-mana menurut yang diceritakan ibunya padanya.



Yara menyalakan motornya untuk menjemput Yila. Sebetulnya dia bisa saja berjalan kaki menuju rumah mertuanya. Namun, Yara sekelebat ingin mengajak Yila mencari makan di luar sembari mutar-mutar kota, jika Yila nanti berhasil diajak pulang. Setelah motor keluar, tidak lupa Yara mengunci pagar rumah, lalu menjalankan motornya pelan menuju rumah mertuanya.



Sebenarnya dia merasa risih untuk menuju rumah mertuanya. Dia takut kedua orang tuanya melihat keberadaannya menuju rumah mertuanya malam hari sendirian. Yara berharap Papa dan Mamanya larut malam ini benar-benar sudah tidak berada di luar. Tapi itu semua mustahil, Mamanya saja biasanya tidur setelah sholat Isya. Jadi tidak mungkin kedua orang tuanya masih terjaga.



Motor Yara sudah berada di depan rumah mertuanya, perlahan Yara membuka pengait pagar pintu rumah mertuanya. Pagar kayu itu tidak menimbulkan suara berisik, sehingga Yara dengan tenangnya membuka pintu pagar itu. Dan pintu itu terbuka, lalu Yara memasukkan motornya ke dalam halaman rumah.



Pintu pagar sudah ditutupnya kembali. Yara bergegas menuju teras rumah dan duduk sejenak di kursi rotan yang tersedia di sana. Yara memperhatikan keadaan, rupanya di dalam sudah sangat sepi, maklum waktu saja sudah menunjukkan pukul 12 malam. Bisa jadi semua orang yang berada di dalam masih belum tidur.



Yara bingung harus bagaimana. Akhirnya dia mencoba memberi tahu Yila lewat pesan WA bahwa dirinya kini ada di depa rumah sedang menunggu.



"Assalamualaikum, Sayang. Aku berada di depan rumah Bapak dan Ibu, apakah kamu sudah tidur? Jika kamu belum tidur, temui aku di luar. Aku menunggumu." Pesan WA terkirim. Namun belum dibaca Yila.



Sementara Yila yang kini sudah berada di dalam kamar, yang sejak masuk kamar hanya gelisah dan tidak karuan, sebetulnya belum bisa tidur, sebab sejak tadi hanya memikirkan Yara. Kesedihan yang sejak tadi ditahan di luar kamar karena takut terlihat oleh kedua orang tuanya, kini tumpah ruah. Mungkin cinta dan perasaannya sudah tercurah untuk Yara, sehingga Yila menangis sedih terutama saat Yara mengatakan "tunggu keputusanku saat pulang". Bisa jadi keputusan itu adalah keputusan terpahit sehingga Yila benar-benar tidak kuat menahan rasa sedih jika semua itu terjadi.


__ADS_1


"Mas Yara, saya mencintai kamu, Mas. Jangan meminta berpisah Mas, saya tidak sanggup kehilangan kamu," mohonnya berguman kecil sembari meneteskan air mata. Tiba-tiba Hp Yila berbunyi, sebuah pesan WA masuk. Yila segera meraih Hpnya yang berada dekat di sisinya. Di layar Hp sudah jelas itu pesan dari Yara yang sebagain bisa dibaca Yila.



Yara memberitahu bahwa dirinya berada di depan rumah orang tuanya menunggu Yila turun kalau Yila masih terjaga.Yila tidak jadi membuka pesan WA dari Yara, kalau dibuka itu artinya Yara akan mengetahui bahwa Yila masih belum tidur. Yila membiarkan pesan WA itu terendap, biar Yara menduganya sudah tidur.



Sebetulnya Yila sedikit merasa bersalah dengan sikap egoisnya. Namun Yila merasa tidak enak jika dia harus mengganggu istirahat Bapak dan ibunya, Yila takut berisik dan mereka terbangun. Akhirnya Yila membiarkan Yara di luar. Yila berpikr pastinya Yara akan kembali pulang jika melihat keadaan rumah ini sudah sepi. Dugaan Yila salah, ternyata Yara masih mau menunggu, bahkan rencananya dia akan tidur di teras dengan keadaan angin malam yang dingin.



Yara masih berharap Yila belum tidur atau terbangun dan membuka Hpnya lalu membaca isi pesan WAnya. Namun ditunggu sampai hampir lima belas menit, balasan atau tanda WAnya dibaca belum kelihatan hilalnya. Yara pasrah dan menyerah, dia memutuskan untuk menunggu Yila sampai besok di depan rumah mertuanya menunggu Yila.



Untung bagi Yara, angin malam yang dingin ini bisa dia atasi dengan menutup badannya dengan jaket kulitnya. Yara membaringkan tubuhnya di atas kursi rotan seraya mengenang pertama kali dia tiba-tiba akan dijodohkan sama Ibunya kepada anak tetangganya.




Mendengar dengan siapa Yara akan dijodohkan, Yara tersentak dan tidak menyangka bahwa gadis pilihan kedua orang tuanya merupakan tetangganya sendiri yang sering mengantar kue pesanannya ke rumah.



Bu Rosi saat itu menceritakan sedikit tentang Yila yang dia tahu. Yila merupakan sosok yang pemalu dan jarang bergaul keluar. Hari-harinya dia habiskan dengan berkutat di dapur membantu usaha kue milik ibunya.



Saat itu Yara sempat tidak percaya bahwa sosok Yila adalah perempuan yang akan dijodohkan dengannya.

__ADS_1



"*Kamu haus mau kami jodohkan, sebab kami sudah punya calon yang pas buat kamu. Sudah terlalu lama kamu membiarkan hidupmu dalam kesendirian dan kini saatnya menikah. Kamu sangat cocok dengannya. Sikap pemalu dan baik, cocok denganmu yang pembawaannya kalem. Maka, bersiaplah besok, kita akan melamar ke rumah kedua orang tua Yila*," paksa Bu Rosi kala itu. Dan pada akhirnya Yara mau mengikuti permintaan kedua orang tuanya, yakni menerima perjodohan dengan catatan dia tidak janji bisa mencintai Yila.



"*CInta akan menyusul seiring berjalannya waktu*." pernyataan Bu Rosi itu masih terkenang-kenang di benak Yara dengan jelas.



Tidak berapa lama, akhirnya Yara malah tertidur di atas kursi rotan di depan teras rumah orang tua Yila, dengan berselimutkan jaket kulit yang sedikit menutupi kulitnya dari hembusan angin malam.



Pagi menjelang, kokok ayam mulai terdengar nyaring di mana-mana. Speaker mesjid menggema suara adzan. Yara bergeliat di atas rotan menikmati rasa nikmat saat baru pertama kali bangun. Dia harus mendirikan sholat subuh dulu, tapi di mana? Biasanya di Mesjid, berhubung kini dia dalam keadaan serba terbatas, jadi Yara memutuskan untuk pulang saja dulu.



Belum juga kakinya diangkat, tiba-tiba pintu rumah dibuka dan keluarlah sang bapak mertua dengan muka yang sangat kaget.



"Astaghfirullah," ucapnya sembari memegangi dadanya saking terkejutnya. "Mas Yara, sejak kapan di sini? Kenapa tidak ketuk pintu jika mau masuk?" Pertanyaan Bapak mertuanya menjadikannya sedikit gugup.



"Tadi malam, Pak. Sudah larut banget. Saya tidak enak untuk mengetuk pintu dan membangunkan Bapak dan Ibu."



"Ya, ampun, Mas Yara kenapa tidak diketuk saja. Kami para orang tua pastinya meras senang akan kedatangan Mas Yara. Lalu kenapa sampai larut malam begitu?" tanya Pak Yoda heran.

__ADS_1



Untuk sejenak Yara sedikit bingung untuk menjawab. Dia masih memikirkan jawaban apa yang sekiranya bisa diterima mertuanya.


__ADS_2