
Ketika Yara pergi untuk bekerja. Bu Yuli menghampiri dan membawakan susu ibu hamil pada Yila. "Nak, susunya," sodornya seraya duduk di samping anak bungsu yang selama ini selalu rajin membantunya membuat kue dan mengantarkannya ke pelanggan selama Yila belum menikah.
Bu Yuli menatap hampa ke depan, bayangan perkawinan sang anak bungsu yang diharapkan bahagia kini seolah mulai terkoyak, terutama setelah hadirnya orang ketiga yang ingin menghancurkan keutuhan rumah tangga sang anak. Namun, kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, masih ada harapan untuk kebahagiaan sang anak. Kehamilan Yila diharapkan bisa membawa pada kebahagiaan itu. Anggaplah kehadiran mantan istri menantunya merupakan ujian diawal yang akan mengantarkan pada kebahagiaan yang abadi.
"Nak, amu kenapa tadi sikapnya tidak ramah sama Mas Yara? Masih marah gara-gara mantan istrinya?" selidik Bu Yuli ingin tahu.
"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula sikap Yila biasa-biasa saja sama Mas Yara," sangkalnya.
"Tidak, kamu tadi cuek dan masih menyimpan marah sama suami kamu. Jangan terlalu lama menyimpan amarah pada suamimu, itu tidak akan baik. Itu semata-mata bukan kesalahan suamimu, tapi perempuan itu. Inu yakin perempuan itu akan menyesal setelah tahu kamu sakit dan dirawat di RS," ujar Bu Yuli menasehati.
"Jangan berlarut-larut menyimpan marah apalagi kamu sedang hamil, tidak baik untuk kesehatan janinmu," peringat Bu Yuli lagi. Yila diam belum mau menyahut. Ibunya tidak tahu kalau kemarahan Yila pada Yara adalah ketika Yara yang belum mau mencari Nita untuk klarifikasi masalah foto dan penemuan alat pengaman di saku celananya Yara.
"Yila tidak tahu, Bu harus apa? Yang jelas saat ini Yila masih kecewa dengan Mas Yara. Maaf, Bu, Yila mau ke kamar, sakit kepala ini tambah nyeri jika sudah diajak ngobrol," tukasnya sembari beranjak dari ruang tamu menuju loteng untuk ke kamarnya.
***
Sementara di kantor Yara. Yara dipanggil ke ruangan HRD untuk dimintai keterangan terkait kejadian di Yogyakarta. Yara mendatangi ruangan HRD dan rupanya di sana sudah ada Nita. Yara hampir angkat kaki dari ruangan HRD, tapi Pak Dody menghalanginya.
"Sebentar Pak Yara, masalah ini tidak boleh berlarut-larut, kami dari pihak HRD mau mediasi dengan Pak Yara dan Bu Nita." Pak Dody menahan Yara untuk tetap di tempat, tapi Yara memaksa keluar.
"Tidak ada yang perlu dimediasikan, kalau pihak HRD masih mau pertahanin dia di kantor ini, silahkan, toh Anda punya wewenang. Tapi, jangan pertemukan saya dengan dia dalam urusan apapun," tegas Yara sambil berdiri.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, sebaiknya saya angkat kaki," ucapnya sembari menuju pintu keluar dan membukanya. Nita hanya daim tertegun seperti pesakitan yang menunggu vonis Hakim.
"Pak Yara." panggilan Pak Dody tidak digubris Yara, dia kecewa dengan pihak HRD yang memintanya mediasi dengan Nita, yang artinya ada kemungkinan Nita masih dipertahankan di dalam perusahaan ini. Sudah jelas di sini Nita yang salah, tapi masih mau dipertahankan.
Yara keluar ruangan HRD dengan hati yang kecewa, jika demikian lebih baik dia saja yang keluar dari perusahaan ini.
"Elu, jangan keluar dari perusahaan ini hanya karena dia, kalau seperti itu elu justru akan dinilai cemen. Harusnya elu perlihatkan bahwa elu semakin kokoh punya cinta ke istri elu. Jangan kayak begini, ingin resign hanya gara-gara pekerja baru yang nggak level," bujuk Rival memberi pencerahan.
Yara tertegun memikirkan semua perkataan Rival. Dan setelah dipikir lama, saran Rival ada benarnya juga. Kenapa dia yang harus keluar dari pekerjaan? Jika itu terjadi, maka Nita akan keenakan dan merasa menang.
"Ok, Bro. Keputusan yang bagus," puji Rival sembari menepuk pundak Yara.
**
Jam pulang kantor tiba, Yara segera menuju parkiran mobil. Sebelum masuk mobil, tiba-tiba Nita menghalangi jalannya sehingga membuat Yara terkejut. Hampir saja tangan Yara membanting tubuh Nita. Nasib baik Nita segera menepisnya.
"Mas Yara, tunggu Mas, aku mau bicara," tahannya memohon. Tapi Yara tidak menggubris, lalu membuka pintu mobil dengan kasar. "Mas, aku minta maaf," ujar Nita sembari menatap Yara sendu.
"Sudah terlambat, aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu yang ini. Dulu kesalahanmu pergi dengan lelaki lain telah aku lupakan dan aku maafkan, tapi sekarang kamu tiba-tiba muncul lagi dan menggangu hubungan rumah tanggaku yang hampir saja merenggut janin yang istriku kandung. Jauh-jauhlah, sebab semakin kamu menampakkan diri, maka semakin muak dan benci aku padamu," ketus Yara seraya menutup pintu mobil dengan keras.
__ADS_1
"Brugggg." Suara pintu tertutup dengan keras mengagetkan Nita yang sontak memegangi dadanya.
Yara berlalu dari parkiran tanpa menghiraukan Nita yang menatap kepergian mobilnya dengan tatapan penuh sesal.
Lima belas menit kemudian Yara tiba di rumah. Mobilnya sudah terdengar ke dalam rumah. Yila yang sedang menikmati sayur asam buatan Bu Yuli masih duduk santai di meja makan sembari menikmati sayur asam. Sejak hamil ini Yila ingin makan yang seger-seger, seperti sayur asam, tom yam, seblak dan soto, semua dimakannya tanpa nasi. Bu Yuli menatap tidak setuju sikap anaknya yang tidak peduli.
"Yilaa, suami kamu sudah pulang, apakah kamu tidak mau menyambutnya? Sambutlah, biar dia bahagia dan hilang rasa capenya jika disambut senyum bahagia dari istrinya," titah Bu Yuli. Yila masih diam dan menikmati sayur asam.
"Ibu tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini, kamu harus bisa memaafkan kesalahan suami kamu. Kamu sedang hamil, tidak baik seperti itu," Yila menyudahi makannya lalu berdiri dan beranjak dari meja makan. Bu Yuli berpikir Yila akan menyambut Yara di depan pintu.
Dengan hati kesal Yila bukannya menuju pintu depan untuk menyambut Yara melainkan menaiki tangga untuk ke kamarnya berada di loteng.
Yila masuk kamar, rasa kesal itu kian menjadi tatkala mendengar nasihat Ibunya yang tidak henti-henti mengingatkan dia untuk bersikap baik sama Yara. Yila bukan tidak mau bersikap seperti apa yang diajarkan Ibunya. Saat ini dia ingin dimengerti bukannya ditekan. Ibunya tidak tahu betapa Yila sedang dongkol di dalam hatinya. Jika perasaan dongkol itu hilang, maka dengan sendirinya sikap Yila akan kembali pada semula. Kali ini ingin Yila dimengerti tanpa harus diberi tekanan ini dan itu.
Yila menjatuhkan tubuhnya di kasur lalu menangis dengan beban di dadanya. "*Bisa tidak untuk aku egois atau emosi sejenak? Aku ingin menikmati rasa itu dengan menumpahkannya hanya dengan diam. Ibu tidak tahu bahwa kesedihan dan kekecewaan atau kemarahanku hanya bisa reda dengan diam*."
Di bawah loteng, terdengar Yara berbincang dengan sang Ibu. Tidak lama dari itu derap langkahnya mulai terdengar menaiki tangga dan menuju kamar. Saat Yara masuk kamar, Yila masih menelungkup menangis karena dongkol.
__ADS_1
"Sayang, aku bawa rujak untukmu. Bangkit dan makanlah supaya rasa mual diperutmu hilang," ujarnya bahagia dan penuh perhatian.