Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 28 Pegawai Baru di Kantor Yara


__ADS_3

Tiga jam kemudian saat waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Yila terbangun dari tidur lelapnya akibat obat perangsang yang dibubuhkan seseorang yang belum diketahui siapa dalangnya.



Kepala Yila sangat sakit, sehingga dia belum bisa bangkit. Dia berusaha mengingat rentetan kejadian tadi dari sejak datang ke pesta ulang tahun anak rekan kerja suaminya. Ketika mengingat semua itu, Yila merasa malu terlebih saat dirinya mengingat kejadian liar dirinya bersama Yara.



Yila mencoba bangkit dan duduk di ranjang dengan kepala bersandar di kepala ranjang. Tiba-tiba pintu kamar dibuka, seseorang yang sudah pasti itu Yara masuk dengan kepala sudah menyembul duluan. Tepat ternyata, Yara masuk ke dalam kamar sembari menenteng sebuah cangkir berisikan teh hangat untuk Yila.



"Kamu sudah bangun?" tanyanya menatap Yila lalu menghampiri dan menyodorkan cangkir berisi teh hangat panas yang sedikit dikasih gula.



"Mas Yara!" serunya pelan sembari membenarkan posisi duduknya dengan memegang erat-erat selimut yang menutupi tubuhnya yang ternyata masih polos.



"Kenapa, kamu sepertinya takut? Sudah, sekarang minumlah dulu ini, ini akan sedikit membuat kamu rileks dan meredakan sakit kepala akibat pengaruh obat perangsang tadi," ungkap Yara yang sontak membuat Yila terkejut.



"Apa, obat perangsang?" kejutnya. Yara mengangguk seraya memberikan cangkir itu ke arah Yila. Yila meraihnya dan perlahan meneguk air teh hangat buatan Yara.



"Kenapa saya diberi obat perangsang, lantas siapa yang tega memberikan obat itu?" tanya Yila penasaran.



"Ceritanya masih belum bisa diuraikan secara gamblang untuk saat ini, sebab teman aku sedang mencari tahu siapa sebenarnya orang yang telah iseng memberikan obat itu pada es campur yang kamu minum. Dan apa tujuannya?"



"Sekarang, kamu basuh dulu sekujur tubuh kamu dengan air hangat supaya kamu lebih segar dan sakit kepalanya hilang," ucap Yara sembari membantu mengangkat tangan Yila yang langsung ditolak Yila, sebab dia akan bangun sendiri dan berpegangan saja pada ranjang. Yila merasa malu jika tubuh polosnya kelihatan dan terbuka di depan Yara, meskipun sudah beberapa kali terlihat oleh Yara, tapi Yila masih sangat malu saat dalam keadaan sadar dilihat Yara.



"Baiklah, kamu segeralah mandi, aku keluar dulu. Namun, jika kamu membutuhkan bantuan aku, maka aku bersedia membantu kamu," lanjut Yara seraya berjingkat menuju pintu kamar dan keluar.


__ADS_1


Yila merasa senang saat Yara keluar kamar, lalu dia segera bangkit dan meraih handuk di dekat kastop yang berada di balik pintu. Yila segera ke kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.



Yila mengakhiri mandinya yang begitu dinikmatinya, sebab dia selalu senang jika mandi berendam di bathtub. Namun berhubung ini sudah malam, maka Zila mengakhiri ritual mandinya.



Yila mengenakan handuk dan keluar kamar mandi dengan rambut yang masih mengucur dari kepalanya. Pintu kamar mandi dibuka dan pemandangan pertama yang dilihat Yila adalah Yara yang sudah duduk di sofa kamar dengan di depan meja sudah terhidang makanan yang terlihat masih ngebul.



Yila menatap tidak berkedip, hatinya berpikir, jika makanan yang di meja itu adalah untuknya, maka untuk kesekian kalinya Yara memberikan perhatian padanya tanpa diminta. Yara sepertinya sangat paham dengan keadaan Yila.



"Segeralah pakai baju, lalu makan dulu sebelum tidur. Kamu belum makan, aku takut kamu kelaparan saat tidur nanti," ujar Yara menyadarkan Yila yang terpana.



Yila segera tersadar dan menuju lemari untuk memakai baju tidur. Lalu dia menuju meja kecil di kamar itu untuk menyantap makanan yang sengaja dibawakan Yara.




"Terimakasih, Mas," ucapnya berterimakasih setelah menyudahi makan malamnya. Yara menoleh seraya meletakkan Hpnya di atas meja.



"Kenapa? Duduklah di sini sebelum kita tidur." Yara berhasil membuyarkan perasaan malu Yila saat itu juga. Malam pun semakin larut, Yara mengajak Yila untuk beranjak tidur setelah tadi membawa Yila pada suasana nostalgia tahun 90an dengan tontonan favorit Yara yaitu **Warkop DKI**, yang sedang booming pada masanya.



Dan nostalgia itu berhasil membawa suasana hati Yila menjadi sedikit rileks dan tidak terlalu kaku.



Lampu terang benderang kamar seketika padam diganti dengan temaramnya lampu meja. Yara membaringkan tubuhnya di samping Yila, lalu memeluk Yila dengan erat sembari mencium rambut Yila. "Terimakasih untuk hari ini, kamu sudah memberikan yang terbaik. Ayo tidurlah," ajaknya seraya menyelimuti tubuh berdua dari terpaan AC di ruangan itu.



Deru nafas teratur perlahan mulai terdengar, pertanda Yila sudah tertidur. Sementara Yara masih belum ngantuk. Dia masih berselancar dengan media sosialnya. "Ting!" Tiba-tiba pemberitahuan WA berbunyi lewat Hpnya. Yara segera mengurai pelukannya di tubuh Yila. Kini Yara fokus pada Hpnya yang ternyata sebuah kiriman vidio dari Rival juga Randi yang memperlihatkan siapa pelaku yang membubuhkan obat perangsang pada es campur yang diminum Yila.

__ADS_1



Tidak salah lagi, setelah melihat hasil rekaman vidio CCTV yang dikirimkan kedua rekan kerjanya Yara, Yara cukup terhenyak melihat semua ini. Tanpa tahu malunya Nita masih mengejar Yara tapi dengan cara licik.



Besoknya, Yara sudah mulai ke kantor setelah mengambil cuti dua pekan dalam rangka acara pernikahannya bersama Yila. Di kantor begitu heboh menyambut Yara. Mereka belum bosan mengusili Yara si pengantin baru.



"Bagaimana, Bro, setelah menikah? Apakah semua energi positif itu sudah tersalurkan dengan baik?" tanya Randi dengan tawa yang cekikikan diamini yang lain.



"Kalian ini tidak di kantor ataupun di luar kantor masih saja mempertanyakan pengalaman pengantin baru gue, apa kalian merasa iri?"



"Bukan begitu, Bro. Tapi, kami ingin tahu bagaimana rasanya setelah elu sepuluh tahun menjadi sosok jomblo yang menyeramkan, hi, hi, hi," goda Rival diakhiri tawa cekikikan menyerupai kunti lelaki.



"Kalian jangan ingin tahu, prakteklah sendiri bersama bini kalian di rumah, tapi awas jangan praktek sama selingkuhan atau bini orang, itu berbahaya," tukas Yara memperingatkan.



"Maklum, elu trauma dan benci sama pengkhianat, sesuai pengalaman elu, dulu, kan?" tanya Rival sembari menepuk pundak Yara yang seketika raut wajahnya berubah antara sedih dan dendam.



"Gue, tidak bisa melupakan sebuah pengkhianatan, Bro. Sekali berkhianat, maka dia akan mengulangi perbuatan yang sama untuk yang kesekian kalinya. Tapi memang tidak semua. Gua hanya berharap cukup gue yang mengalami kecewa atas pengkhianatan, kalian semua jangan sampai mengalami, karena itu sangat menyakitkan," tutur Yara serius dengan wajah yang jauh menatap ke luar jendela ruangan kerjanya.



"Semoga saja jodoh lu yang sekarang merupakan yang terbaik dan bisa saling setia," sambung yang lain memberikan doa untuk Yara dan semua.



Pada saat bersamaan, tiba-tiba pihak HRD datang dan menghampiri meja Yara yang sengaja dikelilingi rekan-rekannya yang masih santai karena bel masuk belum diperdengarkan. Pihak HRD memperkenalkan seorang pegawai baru wanita yang akan bergabung di perusahaan ini.



"Perkenalkan nama dia Nita Anita, dia masuk di sini sebagai staff administrasi," tutur sang HRD yang seketika sontak membuat semua orang di sana terkejut terutama Yara.

__ADS_1


__ADS_2