
Sore menjelang, setelah pulang dari jalan-jalan di sekitar villa tadi, sesuai rencana Yara akan mengadakan sore barbeque. Semua pekerja di villa sudah mempersiapkan acara barbeque dengan cukup memuaskan. Selain barbeque, diselingi acara bakar jagung yang sudah dipersiapkan para pekerja dengan cukup rapi.
Yila dan Yara duduk berhadapan di meja yang telah dipersiapkan para pekerja. Mereka sore itu bagaikan raja dan ratu yang dilayani para dayang istana. Jagung bakar maupun iga bakar bumbu barbeque sudah dihidangkan di meja. Yara dan Yila seketika merasa tersanjung.
Diiringi lantunan musik klasik khas Mexico, Yara dan Yila terhanyut dalam buaiannya. Sikap dingin Yara seakan musnah seketika, Yara tampil bak suami sempurna yang bersikap romantis. Yara mengambilkan iga bakar yang sudah di grill, lalu dimasukkan ke dalam piring saji Yila. Salah satu Pelayan yang bertugas jadi koki mempersilahkan Yara dan Yila untuk menikmati hidangan barbeque sore ini.
"Selamat menikmati hidangan barbeque sorenya Den Yara dan Non Yila." Yila dan Yara membalas dengan senyuman yang ramah.
"Makanlah, sore ini spesial buat kita berdua. Aku persembahkan buat kamu istriku," ucapnya diiringi satu suapan untuk Yila. Yila tersipu malu. Yila menimbang-nimbang apakah dia akan melakukan hal yang sama seperti Yara atau tidak? Yila sungguh masih bingung.
"Mas Yara, boleh tidak saya menyuapi Mas Yara?" Yila bertanya ragu. Yara menoleh dan menatap sekilas ke arah Yilla. Seoles senyum ia sunggingkan lalu mengangguk.
Yila mulai menggarpu irisan daging barbeque untuk disuapkan pada Yara. Yila sudah mendekatkan garpu itu di bibir Yara. Namun belum sampai Yara membuka mulut, bunyi HP Yara mengalihkan fokus pada bunyi Hp itu. Akhirnya Yila urung menyuapi Yara.
Yila kembali menarik tangannya dan menaruh garpu yang masih ada irisan daging itu ke piringnya.
Sampai beberapa menit fokus Yara masih di Hp itu, entah siapa yang menghubungi atau mengirimkan pesan WA, yang jelas raut wajah Yara berubah kesal, tapi Hp itu masih menjadi fokusnya.
"Siapa yang mengirimkan pesan WA pada Mas Yara, kenapa dia begitu fokus? Tapi kenapa wajahnya sangat kesal begitu?" Yila berbicara dalam hatinya sembari menyuapkan irisan daging yang tadi untuk Yara ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk, uhuk," tiba-tiba Yila terbatuk, tenggorokannya terasa gatal. Yila masih terbatuk dan kini tangannya ikut memegangi lehernya. Rasa gatal itu kian menjadi. Mata Yila ikut berair karena rasa gatal dan batuk itu belum juga reda.
Yila mencari tisu dan air minum, rupanya letak air minum berdekatan dengan tangan Yara yang masih fokus dengan Hpnya. "Uhuk, uhuk, uhuk."
Yila berhasil meraih tisu dan mengusap matanya yang berair. Lalu kini bermaksud meraih gelas air minum. Dengan mata yang menyipit karena masih keluar air, Yila meraih gelas dengan meraba. Bersamaan dengan itu rupanya Yara telah menyadari kalau Yila batuk dan dia bermaksud mengambilkan minum untuk Yila.
Namun insiden tidak terduga malah terjadi, gelas berkaki yang akan diraih Yila, juga akan diraih Yara, tumpah menimpa lengan baju Yara.
Yila tersentak terlebih Yara. Dia langsung berdiri dengan mata yang menatap nyalang kepada Yila. Yila merunduk saat mendapati wajah Yara yang begitu kesal.
"Maaf, saya tidak sengaja, Mas." Ucapan Yila hampir tidak terdengar. Yila berpindah tempat menuju tangan kiri Yara yang basah dengan air minum yang tumpah tadi. Yila berusaha mengeringkan dengan tisu. Rasa bersalahnya begitu menguasai dadanya sehingga Yila tidak kuasa ingin menangis.
"Saya minta maaf, Mas. Tadi saat mau meraih gelas itu, mata saya tertutup karena berair," alasannya apa adanya. Yara diam sembari membetulkan kaos panjangnya dengan dilipat ke atas. Karena merasa dicuekkan, Yila semakin sedih dan dadanya sesak. Yila bermaksud pergi dengan melangkahkan kaki dari meja itu.
"Duduklah," titah Yara kemudian, setelah Yila melangkahkan kakinya satu langkah. Yila terlanjur sesak, dia terus melangkahkan kaki ke dalam villa meninggalkan Yara yang masih di sana.
Acara barbeque dan bakar jagung dipastikan gagal. Yila berlari kecil dengan cucuran air mata. Yara memanggil Yila yang semakin jauh.
"Yila!" Panggilannya tidak dihiraukan Yila yang sudah menenggelamkan tubuhnya ke dalam villa. Setelah di dalam, Yila bingung mau kemana dia menumpahkan tangisannya. Beruntung matanya sempat tertuju pada halaman belakang villa. Yila membuka pintu belakang villa dan di sana ada suguhan kolam renang dan sebuah gazebo. Yila menuju gazebo, sepertinya di sini dia akan menumpahkan rasa sedihnya akibat kemarahan Yara tadi.
__ADS_1
Yila menangis karena sikap Yara. Kemarahan Yara diduga terjadi akibat pesan masuk dari seseorang. Dugaan Yila sangat kuat mengarah pada pesan yang dikirim seseorang pada Yara. Hanya karena orang itu, Yara begitu tega menyentaknya, itu pikir Yila. Jika pesan itu tidak masuk, bisa jadi acara barbeque itu lancar dan romantis.
Yila menyudahi tangisannya ketika pesan WA masuk dari Kakak perempuannya. Tadi pagi setelah menggunakan pakaian yang dipilihkan Yara, Yila menuju balkon dan SMSan dahulu dengan sang Kakak.
"Teh Yuri!" serunya sembari membuka pesan dari Yuri. Ternyata Yuri mengirimkan pesan balasan untuk Yila yang pagi tadi sempat menanyakan mengenai persiapan apa saja untuk menghadapi malam pertama.
Yila hanya menscroll jawaban dari Kakaknya tanpa berminat lagi untuk membaca. Yila menjadi sangat sedih atas perlakuan Yara tadi yang menyentaknya gara-gara fokus Yara ke Hp buyar gara-gara air di gelas itu tumpah mengenai lengan kaos Yila.
Yila sudah tidak peduli lagi dengan beberapa jawaban dari Kakaknya itu, yang isinya tidak jauh dari tips-tips menghadapi malam pertama.
Tanpa disadarinya Yara yang menyusul Yila ke kolam renang kini sudah berada di samping Yila yang hanya menscroll tombol Hp ke atas ke bawah tanpa membaca pesannya. Wajah Yila masih diliputi kabut sedih, sehingga saat Yara meraih Hpnya dan membaca isi WA dari Kakak Yila, Yara tersadar. Betapa Yila malam bulan madu ini ingin berusaha membahagiakan Yara, bela-belain bertanya cara menghadapinya pada Kakaknya.
Yara meraih tangan Yila dan merasa sangat bersalah atas sikapnya tadi. Saat tangan Yila diraih Yara, dengan cepat Yila menepis tangan Yara. Yila baru sadar bahwa Yara sudah berada di dekatnya.
Yila berdiri dan berjalan menjauhi gazebo, lalu masuk ke dalam villa. Yila langsung naik tangga dan memasuki kamar, saat ini dalam pikirannya hanya kembali pulang ke rumah.
"Saya ingin kembali pulang, Mas,'' ucapnya meminta sembari membereskan baju-bajunya ke dalam koper.
"Aku minta maaf atas sikapku tadi," ucapnya seraya memeluk tubuh Yila dari belakang serta mencium pipi Yila lembut.
__ADS_1