
Yara memberikan baju setelan rok berwarna kuning keemasan untuk Yila. Kali ini roknya panjang sesuai hati Yila. Atasannya lengan panjang tinggi sepinggul dengan tali di samping kanan pinggang. Pas dengan tubuh Yila yang ramping. Tubuhnya yang hanya tinggi 158 senti nampak jenjang dan tinggi. Sungguh pilihan Yara tidak pernah gagal di tubuh Yila.
"Mas Yara yang dingin ini ternyata begitu perhatian dan sedetil ini. Masalah baju saja dia tahu, seolah paham fashion. Dan aku akui Mas Yara memang sangat perhatian," batin Yila sambil bibirnya senyum-senyum.
Yara yang melihat Yila senyum-senyum tidak merasa heran, sebab Yara sudah bisa menebak bahwa Yila tersenyum bahagia dengan apa yang dipilihkannya. Yara begitu sangat percaya diri.
"Bagaimana, apakah kamu suka dengan baju yang aku pilihkan ini?" tanya Yara ingin tahu. Yila yang tiba-tiba menunduk saat merasa ketahuan dirinya bercermin, sangat malu dan wajahnya sontak memerah.
"Ya ampun, kenapa wajah kamu memerah mirip buah cery? Apakah kamu masih malu dilihat suamimu ini?" tanya Yara seraya mendekati Yila. Seketika jantung Yila berdebar kencang seperti habis berlari.
Yara meraih lengan Yila dan meremasnya lalu dijalinnya dengan jemari miliknya. Yara merasakan Yila sangat tegang seperti baru berkencan dengan seorang laki-laki. Yara tersenyum bangga, Yila benar-benar perempuan yang terlahir di jaman modern. Namun sikap dan tingkah lakunya bak perempuan-perempuan jaman dulu yang sangat bersahaja. Ini merupakan nilai plus yang dimiliki Yila.
"Walaupun kamu pemalu, tapi kamu tidak malu-maluin diajak jalan. Kamu sungguh menjaga kehormatanku. Dan sore ini aku merasa bangga bisa ditemani kamu ke pesta syukuran anak teman aku," ucap Yara dalam hati.
"Ayo," ajak Yara seraya meraih tangan Yila. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Mobil keluar dari halaman rumahnya, dan kini melaju menuju kediaman rekan kerja Yara yang anaknya merayakan pertambahan umur. Meskipun Yara belum punya keturunan, tapi selalu diundang dan ditunggu kehadirannya oleh rekan kerjanya apabila salah satu dari mereka ada acara semacam ini.
Sepanjang perjalanan Yila sama sekali tidak berbicara. Pandangannya kadang lurus ke depan, tapi lebih banyak menatap keluar jendela, menghindari Yara yang sengaja menoleh ke arah Yila yang diam saja.
"Yila," panggilnya membuat Yila sontak menoleh, pada saat itu Yara sudah menatap lurus ke arah Yila sehingga saat Yila menoleh kedua matanya langsung menatap mata Yara yang tajam. Seketika Yila menunduk, menghindari tatapan tajam Yara.
"Kenapa pandangan kamu selalu ditolehkan ke luar jendela? Apakah kamu tidak ingin menikmati perjalanan ini dengan santai? Apa yang menarik dari luar jendela itu?" cecar Yara semakin membuat Yila malu dan serba salah.
"Tidak ada, Mas. Saya hanya senang jika melihat ke luar jendela," tukasnya.
__ADS_1
"Jadi, yang di samping kamu ini tidak cukup bikin hati kamu senang sehingga kamu lebih senang melihat keluar?" Pertanyaan Yara sontak membuat Yila tidak bisa berkata apa-apa. Yara seakan sengaja membuat Yila keder, tidak bisa menjawab.
"Tidak, bukan begitu Mas. Saya ...."
"Ah, ya ampun, kamu ini benar-benar sangat kaku bersama suamimu ini. Coba mulai sekarang kamu tanggalkan kebiasaan manggil saya di hadapan suamimu sendiri, itu terkesan kaku dan sangat formal. Kamu sudah menjadi istriku, jadi biasakan menyebut diri sendiri dengan nama atau aku. Itu lebih terasa natural kedengarannya," pinta Yara sembari tangannya fokus pada kemudi.
"Iya, Mas." Yara menoleh sejenak ke arah Yila yang tetap saja masih belum bisa menanggalkan kebiasaannya. Tidak terasa mobil Yara tiba di tempat tujuan. Tepat di depan sebuah rumah yang besar. Yara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sama seperti orang-orang lain yang sudah lebih dulu parkir di sana.
"Ayo turun," ajaknya seraya membukakan pintu mobil untuk Yila. Yila merasa tersanjung, batinnya tidak henti-hentinya terkaget-kaget sekaligus mengucap syukur.
"Defa, Rini, kalian sudah sampai duluan? Wah kompakan, kalian sudah jadian?" tanya Yara pada dua orang rekan kerjanya juga. Mereka terlibat obrolan lalu setelahnya Yara mengenalkan Yila pada teman-temannya. Begitu dan begitu, Yara dan sesama rekan kerjanya saling sapa saling canda menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi Yara.
Dan ketika puncak acara akan dimulai, yakni pemotongan kue anak dari rekan kerjanya Yara, tiba-tiba seseorang hampir saja menabrak Yara. Beruntung Yara segera menggeser tubuhnya sehingga tubuh orang itu sedikit oleng.
"Mas Yara," panggilnya sangat lembut menimbulkan kecurigaan Yila. Yila tersentak saat menyadari bahwa perempuan yang saat ini hampir menabrak suaminya ternyata wanita yang ada di mall kota Bogor. Yara tidak kalah terkejutnya saat dengan jelas bahwa perempuan yang hampir menabraknya adalah Nita sang mantan istri. Yara sampai heran, kenapa dia akhir-akhir ini tanpa sengaja dipertemukan dengan Nita.
"Mas Yara, undangan juga?" tanya Nita pada Yara tanpa mempedulikan Yila di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Silahkan nikmati pesta ini tanpa harus mengusik keberadaan kami," tukas Yara seraya meraih tangan Yila dan melangkah menuju ke depan di mana pemotongan kue anak rekan kerjanya segera di mulai.
Nita merasa tersinggung dengan sikap Yara yang tidak mempedulikannya, lantas dia menyusul Yara dan kini sudah lagi berada dekat dengan Yara. Yara menyadari Nita berada disekitarnya, yang bisa dia lakukan adalah tidak melepaskan tangan Yila dari genggamannya.
Rangkaian acara demi rangkaian acara telah selesai dipersembahkan, para tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan. Yara dan Yila belum mau antri mengambil makanan, Yara masih terlibat obrolan dengan sang pemilik acara.
"Wah, bro, selamat, sekarang sudah bisa membawa pasangan ke setiap acara setelah sepuluh tahun menyandang gelar duda paling bertahan," goda Rival sembari tertawa.
"Patut dirayakan, Bro. Kalian pun nampak serasi. Semoga ini jodoh terakhirmu. Ngomong-ngomog mantanmu sejak tadi selalu mengikutimu, aku curiga dia akan membuat onar. Jangan sampai lengah, kalian tetap berdua dan jangan sampai terpisah. Sepertinya Nita berusaha mencari cara supaya kalian terpisah dalam keramaian acara ini.
"Sekarang, nikmatilah hidangan kami. Jangan lupa apa yang aku katakan tadi, kalian jangan sampai terpisah, karena Nita sedang mengincar keadaan kalian," peringat Rival baik banget mengingatkan Yara.
"Ok, Bro terimakasih banyak atas perhatiannya. Terimakasih juga pestanya," ucap Yara yang diangguki Rival. Kemudian Yara dan Yila serta tamu yang lainnya mulai antri mengambil makanan yang dihidangkan secara prasmanan. Yara dan Yila masing-masing sudah mengambil makanannya, kini mereka tinggal mengambil segelas minuman yang sudah disediakan dan sudah dituang dengan porsi yang sama dalam sebuah cawan.
Minuman yang tidak biasa dihidangkan setelah makan, yang jelas sangat menggiurkan, segelas es campur dengan cangkir berkaki. Semua tamu setelah mengambil makanan, mendapatkan secawan es campur sebagai minuman penutupnya.
Saat Yara mengambil satu cawan miliknya, ada seseorang yang tertawa licik ke arahnya sambil berguman, "*tepat sekali, kita tunggu reaksinya*."
__ADS_1
Apa yang akan terjadi pada Yara selanjutnya? Nantikan kisahnya di episode selajutnya.