
Besok pun menjelang, tepat di hari Sabtu. Kebetulan malam ini malam Minggu, malam di mana orang-orang atau anak muda menyebutnya malam panjang buat apel pada pasangannya. Begitu juga dengan yang dirasakan Yara. Yara seakan merasakan kembali masa muda setelah sepuluh tahun menduda. Hasratnya bergelora semenjak melihat Yila yang begitu malu-malu tapi baginya sangat menggemaskan.
Akan tetapi, Yara sempat menemukan bukti bahwa Yila mengagumi seseorang yang berinisial YP. Itu artinya di dalam hati Yila ada orang lain sebelum dirinya masuk ke dalam hidup Yila. Yara sedikit kecewa dengan penemuan dan kenyataan yang dia hadapi.
"Siapakah lelaki itu, kenapa Yila mau menerima tawaran dijodohkan denganku jika di dalam hatinya masih ada laki-laki lain?" tanya Yara dalam hati.
"Siapkan semuanya, jangan sampai barang-barang yang kamu perlukan ketinggalan!" peringat Yara pada Yila yang sedang menyiapkan baju ganti di sana.
"Iya, Mas."
"Apakah kamu masih berhubungan dengan lelaki yang berinisial YP itu?" tanya Yara tiba-tiba dan mengungkit lagi laki-laki berinisial YP. Yila bingung mau menjawab, sebab inisial YP yang sebenarnya adalah suaminya sendiri yang kini begitu sangat dekat berada di hadapannya. Yila hanya bisa mendongak dan menatap sekilas ke arah Yara.
"Masa sih, Mas Yara tidak ngeuh kalau inisial YP itu adalah dia, suamiku?" Hati Yila bertanya-tanya heran.
Mendapat pertanyaan seperti itu Yila hanya bisa menggeleng. Padahal dia kini begitu dekat dengannya. Yara ikut menggeleng, dia tidak percaya dengan apa yang digelengkan Yila.
"Ah, ayolah. Waktu kita akan habis gara-gara membahas laki-laki rahasia kamu," cetusnya seraya membereskan koper dan membawanya keluar kamar. Yila sejenak terhenyak, sikap Yara yang terlihat cemburu membuat dia tidak enak hati sekaligus merasa senang, itu artinya Yara memiliki perasaan padanya.
Semua barang bawaan yang telah dipersiapkan sudah ada di dalam mobil milik Yara. Yara sudah menunggu di depan pintu rumah, menunggu Yila yang masih berdandan. Lima menit kemudian Yila keluar dengan penampilan yang anggun dan tentu saja cantik. Sejenak Yara menatap dari atas hingga bawah, pakaian yang dikenakan Yila nampak sempurna dan sesuai dengan kriteria Yila yang kalem dan malu-malu. Tentu saja semua itu atas pilihan Yara. Semua outfit yang Yila kenakan semua pilihan Yara. Namun ketika melihat ke bawah, ada yang tidak srek di hati Yara, yaitu alas kaki yang dikenakan Yila menurut Yara tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakan Yara.
__ADS_1
"Sendalnya ganti, kenapa pakai sendal teplek, kan aku sudah sesuaikan dengan sandal berhak?" Teguran Yara membuat Yila sejenak bengong, dia tidak menyangka Yara akan menyentaknya hanya karena perkara sendal.
"Ya, ampun, begitu saja bengong. Kamu tinggal ganti dengan sendal hak tinggi yang aku siapkan tadi," sentak Yara lagi. Yila diam dan berpikir, "bukankah sendal hak tinggi yang disiapkan Yara tadi sudah dimasukkan koper untuk dipakai di puncak sana?" Yila berpikir kalau cuma di dalam mobil buat apa pakai sendal hak tinggi toh tidak akan turun dari mobil?
"Tapi, sendal hak tinggi dari Mas Yara sudah saya simpan di koper yang sudah dimasukkan ke mobil," jawab Yila membuat Yara menepuk keningnya.
"Ya, ampun, Yila! Kamu ini, apakah tadi saat aku siapkan kamu tidak paham bahwa sendal itu harus dipakai? Masa pakai baju dress seperti ini tapi sendalnya teplek?" koreksi Yara membuat Yila sedikit sedih.
"Ya sudah, Mas. Biar sendalnya saya ambil dulu di koper," ujarnya seraya menghampiri bagasi mobil dan mencari koper tadi.
"Ya, ampun. Menyusahkan dan bikin lambat saja," gerutu Yara pelan, walau pelan tapi masih bisa didengar Yila. Yila membuka koper itu perlahan. Namun sendal yang dia simpan tidak mudah diraih, sebab sudah tertimpa barang lain yang ditumpuk di dalam koper. Melihat Yila krasak-krusuk tidak mendapatkan apa yang dicarinya, Yila geleng-geleng kepala kesal dan menghampirinya.
Lama keduanya saling bertatap sebelum Yila benar-benar tersadar. "Mas, maaf!" ucapnya membuyarkan Yara yang anteng menatap dalam mata gadis itu.
Yara melepaskan pinggang ramping gadis pemalu yang kini sudah sah menjadi istrinya, Yara sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya setelah dia melewati insiden koper yang ditariknya ikut menarik tubuh Yila.
Yara membongkar kembali kopernya, dia mencari sendal hak tinggi yang disimpan Yila tadi. Dan, setelah lima menit akhirnya yang dia cari ketemu.
"Cepat pakailah, ini semakin siang. Ibu dan Bapak serta Papa dan Mamaku sudah menunggu di depan." Yara memberikan sendal hak tinggi yang dibungkus dengan kantong kresek warna hitam ke tangan Yila, kemudian Yara kembali membereskan koper yang berantakan tadi.
__ADS_1
"Sudah? Masuklah," titahnya sembari membukakan pintu mobil depan sebelah kiri untuk Yila. Yila merasa sangat manis sekali dibukakan pintu oleh suami dinginnya. Di balik sikap dingin ternyata Yara sangat perhatian dan manis.
Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah milik mereka. Di depan, kurang lebih dua ratus meter dari rumahnya, Yara dan Yila sudah disambut kedua orang tua mereka. Bu Rosi memberikan sesuatu kepada Yila sebelum mereka berpamitan dan pergi.
"Hati-hati Mas Yara, bawa mobilnya jangan kencang-kencang!" Bu Yuli memperingatkan Yara supaya menjalankan mobilnya tidak kencang. Sedangkan Bu Rosi, berpesan barang pemberiannya jangan lupa dipakai. Berbeda dengan kedua Bapak-bapak, mereka lebih memberi nasehat dan peringatan supaya tetap hati-hati di mana pun berada.
"Kami pergi, ya. Assalamu'alaikum," pamit Yara dan Yila seraya menyalami tangan kedua orang tua mereka.
"Jangan lupa dipakai, ya, Sayang. Dan semoga kepulangan kalian sekaligus membawa anggota keluarga baru," ujar Bu Rosi mengingatkan pada Yila. Yila tersenyum seraya mengangguk, meskipun dia tidak tahu apa sebenarnya yang Ibu mertuanya kasih untuknya.
Yara memutar kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan Kencana Residence setelah berpamitan.
Mobil melaju membelah jalanan kota itu menuju kota Bogor yang tentunya melewati jalanan kota lain.
Di pertengahan jalan, tepat di kota Cianjur, Yara menghentikan mobilnya di sebuah mall besar kota itu dan mengajak Yila turun untuk mencari minum dan makan untuk sarapan yang sudah sedikit kesiangan.
"Turunlah kita sarapan dulu, aku mau kopi latte supaya tidak ngantuk," ujarnya seraya dengan tiba-tiba meraih tangan Yila dan menuntunnya.
Yara memesan menu sarapan pagi dan kopi latte di sebuah food court, sedangkan Yila hanya memesan sup jagung dan jus jambu. Ketika Yara sedang asik menikmati kopi latte, tepat di hadapan mejanya, duduk seorang perempuan yang dia kenal. Sepuluh tahun yang lalu mengingatkan Yara kembali pada peristiwa menyakitkan hatinya, yaitu perceraian. Yara ingin membuang muka. Namun sayang, perempuan bernama Nita itu terlanjur menatap Yara. Lalu keduanya bersitatap dan bertemu. Apa yang dirasakan Yara sekarang setelah sepuluh tahun berlalu? Nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya.
__ADS_1