
\*\*\*\*\*\*\* nafas kecewa kini mulai terdengar. *Ya*ra yang sejak tadi sudah menahan hasratnya kini terpaksa harus menelan kecewa. Ini semua tidak lepas dari pesan WA Nita yang datang padanya.
Jam sebelas malam Yara masuk kamar, Yara menatap lemas ke arah Yila yang terbaring nyenyak. Sekilas Yara melihat ke atas meja rias, piring yang sudah kosong dan jus yang tandas menandakan Yila sangat lapar. Seandainya tadi dia tidak membuat gadis di hadapannya ini sedih, mungkin saja sekarang dia sedang *in the hoy* menikmati malam pertama yang indah.
"Gara-gara perempuan binal itu mengirimkan pesan WA yang sok kenal, perasaanku jadi tidak jelas begini." Yara uring-uringan salah tingkah. Dia gelisah tidak menentu.
Pagi menjelang, Yara terbangun saat kumandang adzan. Ia segera bangkit untuk ke kamar mandi. Sejenak Yara menoleh ke samping kirinya mencari sosok Yila yang semalam tidur di sampingnya. Ternyata Yila sudah tidak ada, Yara yakin Yara sudah bangun duluan untuk sholat Subuh.
Yara langsung ke kamar mandi membersihkan diri. Setelahnya dia langsung melaksanakan sholat Subuh. Selesai melaksanakan sholat Subuh, Yara segera keluar kamar mencari sosok Yila yang sempat menangis olehnya kemarin.
Saat melangkah keluar dari kamar, Yila belum juga dia lihat di dapur atas maupun di balkon. Namun, di meja dapur sudah tersaji kopi latte kesukaan Yara yang sepertinya baru diseduh. Harumnya sampai masuk ke lubang hidung. Sejenak Yara menoleh ke dalam dapur siapa tahu Yila ada di sana.
Namun, Yila sama sekali tidak dia temukan, padahal jika kopi itu masih sangat panas, itu artinya orang yang membuat kopi masih tidak jauh dari tempat itu.
"Yila," panggilnya penasaran. Namun tidak ada jawaban. Lantas Yara menuruni anak tangga, dia penasaran kemana Yila. Berada di bawah, Yara bergegas menuju dapur. Di sana dia hanya menemui Bi Ratmi dan pekerja yang lain.
"Bi Ratmi, melihat istri saya, tidak?" tanyanya seraya melihat kesana kemari, tapi tetap saja Yila tidak ditemuinya.
"Tadi Non Yila di atas membuat kopi latte buat Aden, saya pikir masih ada di atas." Jawaban Bi Ratmi membuat Yara bingung, jelas-jelas tadi dia tidak melihat atau menemukan Yila di atas.
__ADS_1
"Tidak ada, Bi."
"Wah, kemana, ya, Nona? Soalnya saya tidak melihat lagi Nona kemana-mana lagi setelah dari atas." Jawaban Bi Ratmi membuat Yara menjadi was-was. Lantas dia segera menghubungi nomer HP Yila, tapi ternyata tidak aktif.
"Yila, di mana sih kamu, jangan buat aku khawatir?" gundah Yara sembari gelisah jalan sana jalan sini di dalam beranda villa.
Sampai jam enam tiba, Yila tidak juga kunjung muncul. Yara keluar villa membuka pintu depan lebar-lebar. Tiga puluh menit kemudian tiba-tiba Yila muncul dari arah pintu gerbang villa membawa kantong kresek yang entah apa isinya.
"Ya, ampun! Dari mana dia? Subuh-subuh pergi keluar villa tanpa pamit, apakah dia tidak takut terjadi apa-apa?" gerutunya sambil mengawasi langkah Yila yang makin mendekat.
"Mas Yara," kejutnya sembari menatap sekilas ke arah Yara takut. Yara menatap penuh tanda tanya.
"Dari mana saja kamu, kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Yara langsung bertanya pada inti masalah seraya menggiring Yila ke dalam villa.
"Saya minta maaf, tadi pergi keluar sebab di luar sana sepertinya banyak orang yang lari pagi. Tadinya saya mau membangunkan Mas Yara, tapi Mas Yara masih tidur pulas, saya tidak berani membangunkan," alasannya sambil mengikuti Yara dari belakang.
Tiba di atas, Yila langsung meletakkan barang bawaannya yang dibungkus dengan kresek putih dan hitam. Lalu mengambil piring untuk wadah, dan menuangkan apa yang ada di dalam kresek itu ke dalam piring. Yara melihat Yila dengan rasa kecewa yang tadi belum hilang. Dia tidak mau tanpa seijinnya Yila pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mas, saya minta maaf, tadi tidak menunggu ijin Mas Yara untuk pergi keluar. Sekali lagi saya minta maaf. Tadi sebelum pergi saya sudah buatkan kopi latte kesukaan Mas Yara di sini," ujarnya mengulang permintaan maafnya tadi.
"Lain kali jangan seperti itu, bagaimana kalau ada apa-apa dengan kamu. Kamu, kan tidak tahu tempat ini aman atau tidak buat orang yang baru seperti kita? Meskipun villa ini milik Papa aku dan Papa sudah banyak dikenal orang di sini, tapi kita belum dikenal orang di sini. Bagaimana jika ada orang yang menjahati kamu, lalu apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuamu jika itu terjadi? Sebelum berbuat itu harus pikir panjang dulu, jangan semena-mena dan gegabah. Lagipula apakah kamu tidak takut dosa bepergian tanpa ijin suami?" bahas Yara panjang lebar membuat Yila terpojok dan merasa sedih. Dia memang mengakui salah, tapi tidak sangka Yara akan semarah ini.
"Sekali lagi saya minta maaf Mas, saya memang salah. Saya minta maaf!" ujarnya seraya meraup jemari Yara lalu diciumnya disertai cucuran air mata.
Melihat Yila menangis minta maaf penuh penyesalan, Yara pun tidak tega, lantas dia melepaskan tangannya perlahan dari rematan jemari Yila.
"Sudahlah, hapus air mata kamu. Sebentar lagi kita sarapan pagi, bersiaplah. Kalau kamu mau makan jajanan yang kamu beli, makanlah dulu. Aku tidak ingin melihat kamu kelaparan lagi seperti semalam," tukasnya sembari menuju ke bawah bersiap sarapan pagi.
Setelah sarapan pagi, Yila segera kembali ke atas sesuai arahan Yara. Yila segera mandi karena sehabis mandi Yila akan mendapatkan tugas sesuai yang dikatakan Yara. Keluar dari kamar mandi Yila mendapati secarik kertas di atas kasur lalu dibacanya. Inti dari surat itu Yila harus memakai sebuah lingerie warna kuning yang sudah Yara siapkan di atas ranjang.
Untuk sejenak Yila termenung, pikirannya mendadak jalan-jalan ke arah sana. Jantung Yila langsung berdebar membayangkannya. "Ya *ampun, apakah Mas Yara akan memintanya di pagi buta seperti ini*?" tanyanya dalam hati gundah.
Setelah lama berpikir, akhirnya Yila dengan berbagai kecamuk rasa menggunakan lingerie itu, walaupun hatinya segan. Saat tubuhnya sudah terbalut dengan lingerie kuning yang menempel sempurna di tubuhnya sejenak Yila menatap dirinya di cermin, dia tidak menyangka dirinya seseksi ini.
Buah dadda yang padat dan menonjol, ditambah pantat yang berisi tapi tidak terlalu menonjol, perut yang ramping, sungguh lekukan dan pahatan yang indah dan sedap dipandang mata. Sehingga membuat Yara yang mengintip dari balik pintu kamar berdecak penuh kagum sehingga dia pagi ini sudah tidak sabar ingin meraih madu itu.
__ADS_1
"Akan kurenggut madu itu pagi ini," decaknya tidak sabar.