
Yara tersentak melihat sikap Yila yang pergi berjingkat begitu saja dengan wajah yang tidak suka. Yara merasa tidak diacuhkan oleh Yila , lalu dengan penasaran Yara segera menghabiskan kopi lattenya dan berjingkat masuk ke dalam kamar serta ingin mempertanyakan sikap Yila yang berubah tidak peduli seperti itu.
Yara menghampiri Yila yang sedang duduk di sofa kamar hotel seraya melihat Hpnya. Yara geleng-geleng kepala menyaksikan istri yang selama ini dikenal pendiam dan pemalu, tapi kini seakan cuek dan tidak peduli dengan keberadaan Yara sebagai suami. Biasanya sependiam dan sepemalunya Yila, dia tetap meneduhkan tatapan wajahnya pada Yara, tapi kini semua itu tidak ada.
Yara tahu sikap ini bisa jadi karena penemuan Yila atas secarik kertas dan pengaman, serta melihat Nita merangkul ketika balon dansa.
Tapi semua itu sudah disangkalnya dan semua itu adalah ulah Nita yang sengaja membuat keruh rumah tangganya. Dan ketika tadi malam dia ingin konfirmasi sekaligus menegur Nita, sayangnya Nita tidak ada entah kemana.
"Aku ingin bicara sama kamu," ujar Yara menatap Yila yang cuek dengan muka yang ditekuk. Perubahan sikap yang benar-benar baru kali ini diperlihatkan Yila pada Yara. Yara menjadi kesal lalu memegang bahu Yila kemudian menghadapkan tubuhnya di hadapan Yara. Yila terlihat meringis dan sepertinya mulai berontak.
"Bicaralah ada apa dengan kamu, dari sejak subuh tadi sikap kamu sama sekali tidak peduli sama aku? Sekarang bicaralah, jangan diam terus tapi hati ngedumel!" titahnya sedikit menekan karena Yara sudah sangat kesal melihat Yila tidak pernah berani mengungkapkan apapun di dalam hatinya, terlebih sekarang ini perubahan sikap Yila bukan saja diam dan malu, tapi cuek dan tidak peduli Yara ada, sehingga Yara merasa tidak dianggap ada dan sikap Yila ini membuatnya tersinggung karena tidak biasa.
"Bicaralah jangan menghindar! Jika kamu menghindar terus maka tidak akan ada jalan keluar!" cetusnya menekan sembari meraih tangan Yila yang kini berhasil menghindar.
"Sudah aku katakan, aku tidak berhubungan atau janjian dengan mantan aku itu. Penemuan kamu tentang secarik kertas yang di dalamnya ada pengaman di saku celana aku, itu sungguh di luar sepengetahuan aku. Aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah janjian dengan mantan aku itu. Tolong, kamu percaya aku. Aku berani bersumpah itu semua akal-akalan Nita untuk memperkeruh hubungan rumah tangga kita," tegas Yara disertai deru nafas yang memburu seolah mengeluarkan amarah yang ditahan.
__ADS_1
Yila masih diam, dia pikir tidak ada gunanya bicara pada Yara masalah vidio kiriman yang dikirim seseorang pada WAnya. Yila berjingkat masih menghindari Yara. Namun, Yara berhasil menangkap tangan Yila sehingga tubuh Yila terbaring di atas sofa. Yara mendekat dan menahan salah satu tangan Yila dengan tubuh ikut merunduk menatap Yila yang berada di bawahnya.
"Jangan menghindar, kamu tidak biasa seperti ini. Tolong ungkapkan isi hati kamu supaya aku bisa tahu dan bisa mencari solusinya," tegas Yara lagi. Namun, Yila masih menghindar dan membuang mukanya ke arah lain. Yara semakin tersulut emosinya, lalu dia semakin menekan tubuh Yila berharap Yila mau bicara.
"Jangan sentuh saya lagi jika Mas Yara masih berhubungan dengan mantan yang bisa memberikan kesenangan lebih dari saya," ucapnya tiba-tiba dengan mencucurkan air mata. Yara tersentak dengan ucapan maupun dengan tangisan Yila barusan. Kesenangan apa yang dimaksud Yila, sungguh Yara sama sekali tidak paham.
"Maksud kamu kesenangan apa? Aku tidak merasa mendapatkan kesenangan dari mantan aku, kamu jangan gegabah bicara," sergahnya tidak terima. Yila menatap sekilas wajah Yara lalu menghindar dan berusaha bangkit dengan menepis tangan Yara.
"Coba jelaskan vidio ini, Mas. Apakah ini tidak cukup menjawab segala kesedihan dan kecurigaan saya terhadap Mas Yara?" tanya Yila terisak seraya menyodorkan Hpnya yang sudah memperlihatkan sebuah vidio rekaman di pesan WAnya.
Yara meraih Hp yang disodorkan Yila lalu melihat vidio yang dikirimkan seseorang pada WA Yila. Yara sontak terkejut dengan sebuah vidio yang seolah memperlihatkan dirinya tengah bercumbu dengan seseorang yang diduga kuat Nita. Yara geleng-geleng kepala dengan semua yang dilihatnya. Yara berani mengatakan bahwa vidio itu bukan dirinya, dan laki-laki yang membelakangi kamera sudah jelas bukan dirinya, sebab semalam dia bersama teman-temannya menghadiri malam puncak acara perayaan ulang tahun PT Sentosa Berama sampai dengan selesai.
Semalam Yara tidak kemana-mana. Saat dia ingin mencari Nita untuk meminta klarifikasinya, terpaksa dia urungkan, sebab Nita tidak ada di tempat.
__ADS_1
"Ini bukan aku, aku tegaskan sekali lagi ini bukan aku, sebab semalaman aku bersama teman-teman segengku dari awal acara sampai akhir acara," sangkal Yara marah.
Yara menghampiri Yila lalu meraih bahunya yang sesekali masih berguncang. Yila menepis dan menghindar kembali lalu duduk di tepi ranjang.
"Kamu jangan mudah percaya dengan kiriman vidio ini. Ini merupakan akal-akalan Nita. Sekali lagi aku tegaskan, orang yang ada di dalam vidio itu bukan aku. Kamu boleh tanya pada teman-temanku semalam, apakah mereka semalam kehilangan aku barang beberapa menit atau tidak? Tanyakan sama mereka dan jangan mudah menelan begitu saja berita yang belum jelas kebenarannya," peringatnya tegas.
Yila tertegun, dia seakan diingatkan dengan Rani salah satu rekan kerja perempuan yang sempat memberinya nomer telepon.
"Hapuslah segera air matamu, sebentar lagi sarapan akan segera dimulai. Setelah sarapan pihak perusahaan dan panitia membolehkan kita berjalan-jalan di sekitar Malioboro. Kamu persiapkan diri kamu," peringat Yara lalu berjingkat menuju lemari di kamar itu dan meraih sesuatu berupa kado hasil barter dengan punya seseorang. Yara akan membuang kado nyeleneh ini di tong sampah sebelum ketahuan Yila, sebab Yara takut Yila berpikir yang tidak-tidak dengan kado itu.
Pagi semakin menjelang, sarapan pagi yang disiapkan pihak hotel sudah siap dan tinggal disantap. Dengan wajah yang masih datar dan sedih yang masih ada, Yila terpaksa mengikuti Yara menuju restoran hotel dan menyantap sarapan yang disiapkan pihak hotel.
Ketika Yila sedang makan, Yila melihat Nita juga sedang sarapan. Tiba-tiba emosi Yila naik ke ubun-ubun, Yila merencanakan nanti setelah sarapan, akan melabrak Nita dan minta klarifikasinya tanpa sepengetahuan Yara. Yila bertekad akan mengakhiri teror Nita dengan cara dia sendiri, yang penting Yila akan sekuat tenaga mempertahankan rumah tangganya dari goncangan pelakor.
__ADS_1