
Yara berpamitan pada Mama dan Papanya untuk kembali ke rumah. Sebelum keduanya beranjak dari halaman rumah, Bu Rosi berpesan penuh makna pada Yara. "Semoga hasil cocok tanammu tumbuh dengan cepat dan baik, dan sembilan bulan kemudian bisa dipanen. Allah selalu bersama kalian," ucap Bu Rosi tersenyum penuh makna. Yila tersenyum malu-malu memahami ucapan Bu Rosi yang penuh makna.
Yara menaiki motornya diikuti Yila di belakang. Tidak berapa lama motor Yara melaju menuju rumahnya yang hanya beberapa meter dari rumah kedua orang tuanya.
Motor Yara tiba di depan rumahnya. Yila menuruni motor duluan lalu membuka pagar rumah memberi jalan pada motor Yara. Setelah motor terparkir dengan baik di garasi, Yara diikuti Yila menuju rumah dan memasukinya.
"Yila, masuklah duluan ke kamar!" perintah Yara yang tidak dibantah Yila. Yila menaiki tangga menuju kamarnya. Tiba di kamar, Yila mendapati buku diary yang masih tergeletak di atas kasur, tapi letaknya sudah berubah dan bukan di atas bantal lagi. Yila yakin buku diarynya sudah dibaca Yara. Terlihat dari foto Yara yang sudah di luar buku.
Yila meraih buku diary itu lalu merapikan kembali foto Yara yang sudah terhambur, dan dimasukkan ke dalam sela buku diarynya kembali.
Yila membereskan kamar tidurnya yang sedikit berantakan, lalu menyapu lantai serta mengepel lantainya dengan pewangi lantai yang menenangkan.
Yila turun ke bawah dan menuju dapur, Yila bermaksud membersihkan rumah tapi rasanya rumah masih bersih karena kemarin Bi Dian datang dan membersihkan rumah atas perintah Yara. Kemudian Yila menuju dapur untuk memasak. Walaupun sudah sarapan di rumah Papa dan Mamanya Yara, Yila tetap masak nasi untuk makan siang mereka nanti.
Setelah selesai meletakkan beras di mejikom, Yila beranjak ke atas menuju kamarnya bermaksud mandi. Namun sebelum menaiki tangga, Yila berhenti sejenak setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan Yara di telpon dengan seseorang.
"Ok, aku tahu. Tapi aku harap kamu jangan lagi mengganggu hubungan rumah tanggaku yang baru aku bina. Kamu bukan siapa-siapa aku lagi. Jadi, jika kamu berani mengganggu, maka terima akibatnya," tukas Yara marah lalu menutup kembali telponnya.
Yila segera mengendap menuju tangga, lalu menaikinya pelan, sebab dia tidak ingin diketahui Yara bahwa dia berhasil mendengar pembicaraan Yara bersama seseorang yang diduga orang di masa lalu Yara.
Tiba di dalam kamar, Yila sejenak duduk di atas ranjang merenungkan kembali obrolan Yara bersama seseorang di telpon. Sepertinya Yara sedang berbicara dengan seseorang di masa lalunya. Yila yakin, sebab dia mendengar dengan jelas obrolan Yara dengan seseorang di dalam saluran telpon tersebut.
__ADS_1
Dada Yila mendadak sesak, baru saja berumah tangga dengan Yara, sudah ada godaan di masa lalu Yara datang dan ingin mengoyak keutuhan rumah tangganya.
Yila berjingkat dan bergegas menuju kamar mandi. Dia ingin segera membasuh sekujur tubuhnya dengan air sisa pertautan dirinya dengan Yara tadi di rumah mertuanya.
Beberapa menit kemudian Yila menyudahi ritual mandinya dan keluar kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuhnya dari dada sampai lututnya. Bersamaan dengan itu rupanya Yara sudah berada di dalam kamar. Sejenak dia terlihat mengagumi keadaan kamar yang sudah kembali bersih oleh Yara. Namun, Yara sedikit heran dan bertanya-tanya kemana buku diary yang tadi malam masih dia letakkan di atas bantalnya?
Yila melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Sebenarnya dia malu karena di sana sudah ada Yara. Yara segera meraih satu baju ganti untuk di rumah.
"Buku diary yang di atas bantal tadi malam, apakah kamu melihatnya?" tanya Yara mengejutkan Yila yang kini sudah mengenakan pakaiannya.
"Sudah saya simpan kembali, Mas," jawabnya seraya beranjak menuju pintu. Namun alangkah kagetnya Yila saat tubuhnya sudah dicengkram tangan kekar Yara.
"Sudahlah jangan kemana-mana. Dan juga kamu tidak usah sibuk di dapur hari ini. Karena hari ini aku akan mengajak kamu ke suatu acara," beritahunya seraya meraih pinggang Yila lalu menatapnya lekat.
"Aku senang melihatmu seperti ini, kamu sangat cantik dan menggemaskan. Semalam aku sudah membaca semua isi dari diarymu yang kamu tumpahkan untukku. Aku cukup terharu, ternyata seorang gadis muda dan cantik sepertimu rela menyia-nyiakan waktu yang paling berharganya demi mencintaiku dalam diam. Padahal kalau kamu mau, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih kya dari aku di luaran sana," tutur Yara panjang lebar.
Yila menundukkan wajahnya dalam, Yila malu bertatap langsung dengan Yara, terlebih dirinya sudah ketahuan mencintai Yara dalam diam sejak lama.
Yara meraih dagu Yila dan mengangkatnya lalu ditatapnya tajam mata itu, kemudian beralih menuju bibir Yila. Sesaat setelah itu Yara mendekatkan wajahnya dengan wajah Yila dan ciuman itu tidak bisa dihindarkan lagi. Yara mencium bibir Yara penuh perasaan. Lama dan dalam sebagai bentuk cintanya dan rasa terimakasihnya pada Yila yang sudah begitu lama mencintainya dalam diam.
__ADS_1
Yara melepaskan tautan bibirnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah tadi hampir habis. Deru nafasnya masih memburu.
"Ini semua untuk rasa terima kasihku yang dalam untukmu karena telah memberikan sesuatu paling berharga dalam hidupku," ujarnya lagi sembari menautkan kembali bibirnya dengan bibir Yara yang sejak tadi hanya terkatup.
Yila semakin terbuai dan tanpa sadar dirinya kini membalas ciuman Yara sambil meraih kedua tangannya di pinggang Yara. Sejurus kemudian mereka kini terlihat seperti pasangan yang sangat bahagia dan sudah saling mencintai satu sama lain.
Beberapa menit kemudian, Yara melepaskan tautannya. Dia teringat salah satu temannya mengundang untuk menghadiri acara pesta ulang tahun anaknya.
"Sayang, aku baru ingat bahwa hari ini aku ada acara untuk menghadiri ulang tahun anak dari rekan kerjaku. Meskipun kita belum punya anak, tapi dia mengundang aku untuk datang. Bersiap-siaplah, kamu dandan yang cantik. Pilih baju terbaik di dalam lemari itu, semua pakaian itu sudah aku persiapkan untukmu, semuanya pasti cocok dan pas di tubuh kamu. Pilihlah dan berdandanlah yang pantas, aku akan mengajakmu juga," beritahu Yara sembari melepaskan rangkulannya di tubuh Yila.
Sejenak Yila diam terpaku memikirkan apa yang Yara katakan barusan. Sebab saat Yara berbicara tadi, sebenarnya Yila sedang tidak fokus dan tidak jelas apa sebenarnya yang Yara katakan.
Sementara Yara menuju kamar mandi dan membilas tubuhnya sisa pertautan tadi di rumah mertuanya. Pertautan yang menurutnya sangat berkesan, sebab Yila mulai mengimbanginya.
Beberapa menit kemudian, Yara sudah menyudahi mandinya. Namun Yara terkejut sebab Yila masih belum bersiap-siap. Yara geleng-geleng kepala dengan Yila yang seperti orang bingung.
"Yila, kenapa masih berdiam begitu? Ok, biar aku yang pilihkan baju untukmu yang paling pantas dan cocok untukmu," tukasnya sembari menuju lemari baju milik Yila yang sengaja sudah dipersiapkan Yara.
Yila mengikuti Yara yang kini mencarikan baju yang pantas untuknya di lemari. Yila percaya pilihan Yara tidak pernah salah, dia selalu bagus dan terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dipilihkan Yara. Yila tersadar, rupanya Yara sangat perhatian dan detil sehingga dia merasa bersyukur berjodoh dengannya.
__ADS_1
"Nah ini dia," seru Yara membeberkan baju pilihannya yang memang sangat bagus dan pantas dikenakan Yila.